Menu Utama » Wajah HR
Meteor dari Sampoerna
Jumat, 25 Mei 2007 - 15:58 WIB
Kalau boleh diumpamakan, karir Yos Ginting di bidang Human Resource layaknya meteor --tak hanya bersinar-sinar tapi juga meroket cepat dan tinggi. Padahal, bapak dari seorang putera yang baru berumur 3 bulan ini sama sekali tak memiliki pendidikan formal maupun latar belakang karir yang berkaitan dengan HR, atau pun manajemen secara umum. Pria kelahiran Cilacap, 19 Januari 1969 ini adalah sarjana S-3 bidang Kimia Komputasi. Lulus pada 1997, Yos langsung dipinang oleh Sinar Mas Group.Secara logika, sesuai area penelitian saya di bidang pulp and paper, tugas yang ditawarkan kepada saya waktu itu memang tepat, yakni sebagai manajer departemen Business Development, yang salah satu fokusnya saat itu adalah mengevaluasi kemungkinan pengadaan bahan baku dan bahan kimia yang jumlahnya sangat besar, yang kebanyakan diimpor, untuk bisa diproduksi secara lokal. Kalau volume pemakaian begitu besar kenapa diimpor? Kita memang nggak punya teknologinya tapi bisa mengajak produsennya untuk membuatnya di sini dengan garansi bahwa produk mereka akan terserap seluruhnya karena selain Sinar Mas, ada banyak lagi pabrik kertas lainnya. Dan, itu berhasil. Beberapa produsen sepakat mendirikan fasilitas produksinya di Indonesia. Keuntungan yang didapat, selain harga menjadi lebih murah karena nggak ada biaya pengapalan antarnegara, waktu antara permintaan dengan tersedianya barang juga lebih pendek.
Keberhasilan meyakinkan produsen bahan kimia untuk mendirikan fasilitas produksi di Indonesia membuat Yos dipercaya untuk menangani bagian logistik, dengan tanggung jawab utama membuka saluran distribusi di Eropa. Waktu itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi, dan Sinar Mas harus mengalihkan volume produknya dari yang tadinya mayoritas untuk pasar domestik menjadi untuk pasar ekspor. Dari sini, Yos sempat dipindah lagi ke bagian internal consultant, departemen yang bertugas sebagai partner line manager dalam melaksanakan proses dan system improvement, sebelum kemudian ditugaskan sebagai vice president pada sebuah perusahaan patungan antara Sinar Mas Group dan perusahaan jepang di Singapura yang bergerak di bidang eCommerce. Seiring dengan berubahnya strategi perusahaan yang didasari atas skala prioritas yang ada, Yos ditarik kembali ke Tanah Air untuk bergabung dengan tim restrukturisasi Sinar Mas Group yang saat itu tak luput terkena dampak krisis. Per 1 April 2002, Yos resmi pindah ke PT HM Sampoerna Tbk.
Saya direkrut sebagai Organization Development Specialist. Tugas saya adalah menjadi Project Manager untuk menelaah, mengartikulasikan dan mempropagasikan nilai-nilai budaya perusahaan Sampoerna. Sampoerna sebagai sebuah perusahaan yang telah berusia hampir 90 tahun saat itu sebenarnya telah memiliki budaya perusahaan yang kuat dan melekat di jiwa para karyawannya. Namun demikian, belum terdapat material yang lengkap yang bisa dipropagasikan secara sistematis. Secara konvensional, dalam sebuah perusahaan dimana belum terdapat material yang bisa dibaca dan dicerna, seorang karyawan yang baru masuk umumnya membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa menyerap nilai-nilai budaya perusahaan. Ini dikarenakan proses penyerapan budaya hanya terfasilitasi melalui pengamatan langsung akan bagaimana tata-laksana perusahaan itu dijalankan oleh para karyawan yang sudah ada sebelumnya dalam pelaksanaan tugas mereka sehari-harinya. Sampoerna menilai bahwa cara konvensional ini tidak akan mampu mengimbangi percepatan persaingan yang ada saat itu dan oleh karenanya diputuskan untuk melaksanakan penelaahan “The Sampoerna Way” tersebut. Kita gali mulai dari keluarga pendiri dan pemilik (Pak Putera Sampoerna, Pak Boedi Sampoerna, Pak Michael Sampoerna) sampai ke para pelaku dan saksi-saksi sejarah lainnya lalu kita konsepkan untuk disebarluaskan melalui workshop dengan para manajer. Dalam workshop ini selain meninjau ulang nilai-nilai yang sedang berlaku, juga dirumuskan nilai-nilai baru yang harus dimiliki Sampoerna agar bisa terus memenangkan persaingan di masa mendatang.
Lagi-lagi, Yos dinilai berhasil menjalankan misi berat itu dengan mulus. Sebagai wujud kepercayaan akan kemampuannya, pada Juni 2003 dia naik jabatan menjadi Direktur HR. Kecemerlangan prestasi Yos memang sudah tampak sejak duduk di bangku kuliah. Ia menyelesaikan studi S-1-nya di bidang kimia industri di University of Tasmania, Australia dengan nilai yang sangat memuaskan. Untuk itulah, sesuai dengan sistem pendidikan Inggris yang dianut universitas tersebut, Yos langsung bisa melompat ke jenjang S-3. Ditemui di ruang tamu kantor PT HM Sampoerna Tbk., di Lantai 18 Mandiri Tower Plaza Bapindo di Jalan Sudirman Jakarta Pusat, Yos tampak mengenakan seragam batik yang bermotif simbol-simbol perusahaan tempat dia mengabdikan keahlian dan pemikirannya. Gaya bicaranya santai dan akrab, namun terkesan hati-hati dan tak pernah melewatkan pertanyaan tanpa jawaban yang mantap dan tandas. Senyumnya mengembang setiap kali hendak mengungkapkan sesuatu, menjadi tanda keramahan penggemar olahraga menembak tersebut. Tanpa ragu-ragu, ia menepis gambaran stereotip bahwa profesional HR harus berbekal pendidikan formal psikologi.
Perusahaan sebesar Sampoerna mencari orang untuk project manager dalam penelaahan dan perumusan nilai-nilai budaya perusahaan serta tata laksananya, dan mereka mencari orang bukan yang memiliki background HR, tapi yang punya latar belakang penelitian keilmuan. Ini yang membuat saya tertarik ke Sampoerna waktu itu. Karena memang saya tidak memiliki latar belakang HR, saya hargai pemberian kepercayaan tersebut dan saya laksanakan tugas dengan fokus untuk memberikan yang terbaik.Yang masih sangat saya ingat dan terkesan, pihak Sampoerna memberikan pemahaman ke saya bahwa pada dasarnya semua bidang tugas itu sama dan tiap orang pada dasarnya mampu bertugas di segala bidang. Dan, ini bagusnya Sampoerna...waktu mereka memberikan kepercayaan bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman apapun bisa melakukan apa pun, mereka juga menyadari akan adanya gap antara apa yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan yang dimiliki oleh karyawan tersebut. Sampoerna menyikapinya dengan memfasilitasi proses pembekalan kepada yang bersangkutan agar segera gap tersebut dapat tertutup. Maka, setelah saya join, saya dikirim ke Amerika untuk berguru pada seorang profesor yang ahli mengenai ilmu organisasi dan faktor-faktor penentu kesuksesan organisasi.
WajahHR Sebelumnya
