Leni Mathavani: Ingin Membentuk Sistem HR yang Treat People as People | PortalHR.com

PortalHR

BPJS Ketenagakerjaan

Wajah HR

Leni Mathavani: Ingin Membentuk Sistem HR yang Treat People as People

Kamis, 6 September 2012 - 11:31 WIB

Di usianya yang masih muda, Leni Mathavani yang kini menjabat sebagai Recruitment Manager di PT Anugrah Argon Medica (Dexa Medica Group), merasa mantap menjalani karirnya di dunia HR. Kepada PortalHR, ia berkisah tentang passion dan harapannya. Seperti apa?

Leni, begitu ia biasa disapa, pertama kali masuk dunia HR, tepatnya 7 tahun lalu sebagai recruitment officer di sebuah manufacturing yang berada di remote area berjarak 65 km dari ibukota Provinsi Riau. Sebagai freshgraduate yang tidak memiliki pengalaman apa pun di dunia HR, ia merasa sangat beruntung memiliki atasan yang luar biasa membimbing, memberikan keleluasaan dan kepercayaan yang sangat besar kepadanya untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diemban.

Di sinilah, Leni mulai belajar apa itu recruitment process, baik secara konseptual dan praktikal dengan mengutamakan efisiensi dan efektivitas mengingat lokasi perusahaan yang berada di remote area.

“Dengan latar belakang pendidikan sarjana psikologi, saya benar-benar merasa berada di area yang tepat. Proses rekrutmen yang dimulai dari manpower planning, sourcing, screening, bagaimana attract kandidat dengan menawarkan benefit-benefit yang ada di perusahaan yang di-match-kan dengan kebutuhan kandidat sampai proses memperkenalkan karyawan baru dengan budaya-budaya yang ada di perusahaan, maupun sistem dan value yang dianut perusahaan. Semuanya secara teori didapatkan di bangku kuliah, sehingga benar-benar seperti membuka jendela dunia nyata ketika memasuki area pekerjaan,” begitu ujarnya.

Menjawab motivasi terbesar masuk di dunia HR, Leni pun menjelaskan alasannya. Pertama, self improvement, karena dengan selalu bertemu banyak orang, ia mengaku bisa mengidentifikasi strength dan weakness-nya untuk disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. “Saya juga akan terus belajar untuk selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi,” imbuhnya.

Yang kedua, lanjut Leni adalah aktualisasi diri. Ia menerangkan, “Saya memiliki kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apa pun ketika bisa melibatkan diri dalam people development, walaupun saat ini mungkin skopenya masih employee development. Memotret potensi yang dimiliki seseorang, mengidentifikasi kompetensinya, men-design program pengembangannya serta mempersiapkan career path orang tersebut sampai yang bersangkutan berada pada posisi yang menentukan masa depan perusahaan atau biasanya key position.”

Leni pun merasa berbahagia bahwa di usianya yang relatif masih mudah, ia telah bisa memberikan kontribusi, paling tidak saat ia dipercaya sebagai Talent & Knowledge Management Head di perusahaan sebelumnya. Bersama tim, ia men-design program Talent Graduate Trainee. Program ini dirancang untuk melahirkan leader yang strength untuk technical dan managerial skill-nya dalam jangka waktu tertentu dengan basic mindset continuous improvement, sehingga apa pun project yang sedang dikerjakan akan mempertimbangkan semua aspek secara komprehensif.

Leni juga terlibat dalam melahirkan knowledge instill program, di mana knowledge management yang di-customize sesuai dengan kebutuhan internal perusahaan, yakni sistem yang dikembangkan dengan lebih menekankan untuk meng-capture intenal knowledge yang dimiliki oleh setiap employee, mendokumentasikan dalam sistem dan men-sharing-kan knowledge-knowledge tersebut dalam weekly sharing knowledge activities. “Tentang knowledge instill program ini, tidak hanya untuk employee yang berasal dari lokal, tapi juga untuk para expatriate, sehingga perusahaan memiliki internal library yang menjadi center of knowledge yang selalu memberikan updating company historical,” tambahnya.

Di perusahaan yang kedua, Leni bercerita tentang kontribusi yang ia berikan dengan membangun recruitment system yang competency based. “Di awal saya bergabung, recruitment system yang diimplementasikan adalah rekrutmen yang tradisional. Di mana proses rekrutmen lebih didasarkan oleh referensi internal karyawan tanpa ada proses screening yang obyektif. Dengan terimplementasinya recruitment based competency, karyawan yang bergabung dengan company, tidak hanya competency fit tapi juga melalui proses yang lebih standardize,” sambungnya.

Sebagai bagian dari komunitas HR, Leni memiliki pandangan bahwa tantangan HR saat ini adalah tidak hanya men-treat people as number, tapi bagaimana men-treat people as aset. “Semua orang memiliki karakteristik unik, yang membutuhkan treatment secara specific untuk membuat mereka memberikan superior performance. Untuk itulah dibutuhkan praktisi HR yang benar-benar profesional untuk bisa mengimplementasikan people sebagai aset, sehingga tidak hanya nice on paper namun benar-benar bisa dirasakan oleh employee-nya,” tuturnya.

Mengenai hal yang berkesan dalam karir HR-nya, ia mengaku, “Dalam perjalanan karir saya, di usia 26 tahun saya sudah diberikan kepercayaan untuk duduk di posisi managerial, di mana perusahaan saya 85% masa kerja karyawannya sudah di atas 15 tahun. Dua hal jenis resistensi yang langsung saya hadapi ketika itu adalah pertama, kebanyakan karyawan tidak memahami konsep yang benar mengenai people development dan yang kedua tidak mau keluar dari zona nyaman. Nah, di usia saya yang masih cukup muda ini, saya harus belajar bahwa untuk menerapkan standard dan konsep yang baru, dibutuhkan konsistensi dan persistensi yang luar biasa.”

Leni juga mengungkapkan harapannya di dalam meniti karir di dunia HR. “Saya berharap punya kesempatan untuk bisa membentuk sistem yang treat people as people, sehingga slogan grow together with company bisa benar-benar bisa terwujud,” terangnya. (*/@erkoes)

Category: Product #: Regular price:$ (Sale ends ) Available from: Condition: Good ! Order now!
Reviewed by on. Rating:





Satu komentar to Leni Mathavani: Ingin Membentuk Sistem HR yang Treat People as People



  1. Elki
    Jumat, 14 Desember 2012 pada 10.54

    Hihi :D

    Alhamdulillah dengan bekal ilmu dan pendidikan selama 2 tahun di bidang HR dan sekarang di usia saya yang lebih belia, baru 23 tahun saya telah memanagerial semua konsep dan divisi HR, alias HR Manager

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

BPJS Ketenagakerjaan

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR