PortalHR

Teknologi

Mengukur Karakter Melalui T-DISC Smart Profilin

Rabu, 22 September 2010 - 10:43 WIB

Mengukur karakter seseorang jelas tidak mudah ketimbang membaca laporan bulanan bagian penjualan atau laporan apa pun yang berbasis angka. Karakter bisa jadi berada di wilayah yang susah diukur. Padahal yang namanya pemimpin, salah satu tuntutannya adalah memiliki kemampuan dalam mengenal dan menghadapi beragam karakter manusia di dalam perusahaan. Tanpa pengetahuan ini, seorang pemimpin tidak mungkin dapat mengelola perusahaan dengan baik.

Hal yang sama berlaku bagi seorang staf. Ia tak mungkin mendapat karier yang mulus bila tidak mengenali karakter rekan sekerja. Untuk sebuah jabatan, organisasi biasanya memiliki karakter sukses yang diperlukan agar siapa pun yang menduduki jabatan tersebut bisa mengulang keberhasilan yang sama. Karakter inilah yang harus dimiliki oleh karyawan agar ia dapat melakukan pekerjaanya dengan baik sesuai dengan target dan kemampuan yang harus dikuasai dalam bidang tersebut.

Menariknya, pekerjaan yang selintas ribet dan njelimet seperti di atas, kini terbantu dengan makin beragamnya produkproduk teknologi yang relevan dengan tugas-tugas yang harus diemban oleh para praktisi SDM. Salah satunya yang sudah dikembangkan oleh Track n Save, perusahaan pengembang software lokal. Denni Rinawan, Direktur Track ’n Save saat berkunjung di kantor HC belum lama ini, bercerita bagaimana ia bersama timnya tergerak untuk membantu para praktisi HR dalam menata strategi SDM-nya melalui sebuah program bernama T-DISC Smart Profiling (T-DISC), khususnya dalam memetakan karakter calon karyawan sesuai dengan kandidat yang dicari perusahaan.

Denni mengakui, T-DISC awalnya muncul dari sebuah software luar DISC. Kemudian, Track ‘n Save mengembangkan analisanya dengan m e n g g u n a k a n bahasa Indonesia. ”Kami memang tidak membuat barang baru, tapi kami mengembangkan analisanya saja. Ada tim yang terdiri dari beberapa psikolog. Kami mengoordinasi dan melakukan kalkulasi analisanya. T-DISC versi ini berbahasa Indonesia,” ungkap Denni.

DISC seperti yang kita kenal selama ini adalah Dominance, Influencing, Steadiness, and Conscientiousness, yakni sebuah model perilaku yang membantu m e m a h a m i “mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan”. Dinamika dimensi pada setiap orang yang berbeda membentuk model DISC pribadi dan meng g amb a r k a n perilaku kita sendiri. Kekuatan penilaian DISC terletak pada kombinasi kecepatan dan akurasi yang tidak dapat ditandingi metodologi penilaian lain. Ini membuat assesmen DISC menjadi populer pada individu maupun manajer yang tidak memiliki banyak waktu untuk segera mendapatkan hasil penilaian sebagai bahan pembuat keputusan.

Assesmen DISC dikembangkan pertama kali oleh Dr. William Marston di Columbia University, kemudian diupdate melalui penelitian dan praktik oleh Dr. John Geier di University of Minnesota. DISC model saat ini telah membantu lebih dari 35 juta orang selama 40 tahun terakhir. Assesmen menggunakan DISC membantu individu maupun perusahaan untuk, misalnya, mengungkap potensi individu, termasuk kekuatan, kelemahan dan wilayah pengembangannya, job matching, tingkat kesesuaian dengan jenis pekerjaan tertentu, menjamin akurasi proses rekrutmen, seleksi dan promosi, efisiensi biaya, serta meningkatkan efektivitas komunikasi dan team building dalam organisasi.

Sementara T-DISC ala Track ’n Save, lanjut Denni, memiliki fungsi dasar menggambarkan kepribadian seseorang melalui pendekatan teori humanis. “Dari gambaran kepribadian itu ada beberapa hal yang bisa diestimasi, misalnya kesesuaian dengan suatu pekerjaan. Karena setiap pekerjaan menuntut karakteristik kepribadian tertentu juga. Jadi kita bisa membandingkan apakah kandidat cocok dengan pekerjaannya atau tidak. Melalui perspektif kepribadian yang ada kita bisa juga melakukan estimasi bagaimana seseorang melakukan pekerjaannya dan ini sekaligus memberikan gambaran kepada atasan untuk lebih mengenal dan menangani anak buahnya dengan lebih baik,” terangnya.

Denni menambahkan, T-DISC juga digunakan untuk me-review potensipotensi konflik yang bisa muncul dalam satu tim. Bisa terlihat bagaimana komposisinya dengan beragam pribadi, dan apakah dengan komposisi tim tersebut ke depan akan muncul konflik atau tidak. “Konflik itu sebenarnya muncul karena satu sama lain tidak paham karakter masing-masing. Alat ini akan membantu kita menghindari konflik-konflik yang mungkin terjadi”.





Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR