Organizational Design
Bagaimana Pemimpin Menghidupkan Corporate Culture
Siapakah yang harus merumuskan budaya perusahaan/organisasi (corporate culture)? Jawabannya tak lain adalah para pimpinan di organisasi atau perusahaan tersebut. Pertanyaan kemudian tidak hanya berhenti pada siapa pembuatnya, tetapi juga kualifikasi dari budaya itu sendiri. Budaya organisasi haruslah mencerminkan dan mendukung perilaku yang diperlukan untuk meraih goal perusahaan.
Sebuah budaya organisasi bisa saja diubah seiring dengan berjalannya waktu, diadaptasikan dengan kondisi baik internal maupun eksternal. Hanya saja, untuk dapat mengubahnya seorang pemimpin harus mengerti kebutuhan dari tempat kerja (workforce) dan menyelaraskan budaya yang baru dengan kebutuhan tersebut. Seyogyanya, pemimpin juga mampu mengantisipasi risiko terburuk yang akan muncul sehingga jika terjadi kegagalan, proses mitigasi masalah akan berjalan lebih cepat dan biaya risiko bisa diminimalkan.
Lalu bagaimana membangun sebuah budaya yang tidak hanya sekedar “rumusan tertulis,” tetapi juga dapat diterapkan oleh seluruh karyawan perusahaan? Berikut adalah lima langkah membangun budaya perusahaan:
1. Menetapkan misi, visi dan value atau nilai perusahaan.
Tanpa adanya misi, sebuah organisasi tidak akan mampu menghasilkan produk maupun service secara optimal. Demikian juga jika visi tidak dimiliki, organisasi akan kehilangan daya saing sehingga mudah dikalahkan oleh kompetitor. Yang terakhir, jika organisasi tidak menetapkan value, para karyawan akan kehilangan motivasi dan iklim kerja akan terganggu.
2. Mengerti Motivasi Kerja (driving force)
Pada dasarnya kita perlu tahu apa yang membuat kita melakukan apa yang kita lakukan. Di dunia kerja pun, kita perlu mengetahui mengapa kita harus menyelesaikan suatu tugas, dari mana asalnya dan bagaimana pemanfaatan hasil akhir tugas tersebut, itulah yang disebut driving force.
3. Mengerti desain dan struktur organisasi
Apa pentingnya kita mengerti desain dan struktur? Kedua hal tersebut menggambarkan sebuah kerangka organisasi, sehingga jika pemahaman tentang desain maupun struktur kurang, kita pun akan kehilangan jati diri organisasi tersebut.
4. Ukurlah Kinerja
Secara berkala, kinerja karyawan harus diukur secara spesifik dan jelas apapun alat ukurnya. Yang diukur tentunya tidak hanya performa yang menyangkut operasional tetapi juga strategis, termasuk di dalamnya penerapan budaya perusahaan tersebut.
5. Menetapkan sistem kontrol yang baik
Perusahaan atau organisasi harus menetapkan kontrol dan akuntabilitas. Hal ini tercermin dalam pengambilan keputusan, memegang kepercayaan dan memberikan kepercayaan kepada karyawan, semuanya harus mampu memfasilitasi terbentuknya kepatuhan terhadap budaya perusahaan tersebut.
Tinggalkan Balasan
Komentar Terkini
- ada free trialnya tidak?... oleh Adhi Pradono H
- bagaimana jika di suatu surat perjanjian kontrak pihak pertama ( HR ) tidak menanda tangani nya , tp... oleh rio
- cantik itu relatif...jelek itu mutlak... oleh Adhi Pradono H
- dengan hormat, saya mau melaporkan gaji saya tahun 2013 belum ada kenaikan dari perusahaan global s... oleh yonathan.
- Indonesia ga akan bisa maju! Sedikit-sedikit libur. Dengan meliburkan hari Buruh, menandakan pemerin... oleh Agus
Gudang Data
Event HR
-
Kamis, 30 Mei 2013
Mengurai Polemik Outsourcing (BALI)
Sponsored Links
-
LokerDirektori.com
Submit lowongan kerja di sini
