Strategi Jitu di Balik Pensiun Dini | PortalHR.com

PortalHR

Employee Relations

Strategi Jitu di Balik Pensiun Dini

Jumat, 19 Maret 2010 - 11:36 WIB

Program pensiun dini dilakukan perusahaan untuk menjaga efisiensi dan efektivitas organisasi agar tetap mampu bersaing di pasar. Bagi karyawan, pensiun dini tidak perlu dilihat sebagai momok. Sebaliknya, ini justru kesempatan bagi para penerima pensiun dini untuk mengembangkan diri di bidang lain.

Akhir 2009, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) kembali menawarkan program pensiun dini (pendi) kepada lebih dari 1.300 karyawan. Melalui program ini manajemen Telkom berharap, kinerja karyawan dapat lebih optimal dan perusahaan dapat berkembang di era persaingan telekomunikasi yang semakin ketat. Seperti diungkapkan Direktur Human Capital and General Affair Telkom, Faisal Syam, Telkom perlu mengantisipasi lingkungan bisnis yang kian cepat berubah dan sumber daya manusia (SDM) yang dituntut makin efisien. Akhirnya, Telkom mempertimbangkan langkah strategis untuk mengeluarkan program pendi.

Faisal mengungkapkan, momen transformasi bisnis yang dicanangkan Telkom pada 16 Oktober 2009 silam, dipandang saat yang tepat untuk melakukan transformasi SDM. Telkom yang semula hanya menjalankan bisnis telekomunikasi (fixed, mobile, dan multimedia), kini memosisikan diri sebagai perusahaan yang menggarap bidang Telecommunication, Information, Media dan Edutainment atau disingkat TIME.

Dengan adanya perubahan itu, tentu diperlukan kompetensi karyawan yang baru pula. “Program pendi ini termasuk dalam program transformasi SDM di Telkom,” ujarnya menandaskan. Artinya, Faisal menjelaskan, program pendi merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai jumlah dan komposisi karyawan yang ideal. Dipastikannya pula, dengan jumlah karyawan yang ideal, diharapkan mampu menciptakan kecepatan, keahlian, dan efisiensi dari karyawan agar mampu memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi era kompetitif.

Saat ini total jumlah karyawan Telkom sebanyak 23.286 orang, dan 460 orang di antaranya bekerja di anak perusahaan dalam naungan Grup Telkom. “Idealnya karyawan Telkom 18.000 orang. Jumlah ideal itu akan kami targetkan tercapai pada tahun 2014. Untuk itu, pendi akan kami usahakan keluar setiap tahun,” kata Faisal menjanjikan.

“Secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perusahaan, Telkom akan menawarkan pendi hingga dicapai jumlah pegawai yang ideal. Tetapi intinya, pendi ditawarkan secara sukarela kepada pegawai,” kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, dalam keterangan persnya. Eddy menambahkan, program pendi dijadwalkan akan berlanjut hingga 2011 atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Ia menyadari, tiap kebijakan perusahaan berimplikasi kepada biaya. Namun, dalam jangka panjang, program pendi dipastikan berdampak pada menurunnya biaya SDM.

Selain untuk merampingkan jumlah karyawan, program pendi sekaligus memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan potensi dirinya di luar perusahaan dengan kompetensi yang dimilikinya. “Alasan mereka (karyawan) yang mengajukan pendi umumnya sudah nggak bisa lagi mengikuti perkembangan bisnis perusahaan. Makanya mereka ingin mengembangkan diri di bidang lain. Selain itu, ada karyawan yang memang sudah lama berkarier, dia ingin pendi karena mau memberi kesempatan kepada yang muda-muda,” tutur Faisal mengungkapkan alasan karyawan yang ingin pendi.

Peminat program pendi di Telkom diakui Faisal cukup banyak. Faktor utamanya lantaran manajemen memberikan kompensasi yang sangat menggiurkan. Tetapi tidak semua karyawan yang mengajukan pendi mendapat persetujuan manajemen. Karyawan terbaik atau biasa disebut talent perusahaan tetap dipertahankan. “Kami punya sistem dan kriteria untuk menyeleksi karyawan yang boleh ikut pendi. Dari total 2.500 karyawan yang mengajukan pendi, hanya sekitar 1.336 karyawan yang disetujui pada tahun 2009 lalu,” ungkap Faisal. Menurutnya, program pendi dilakukan secara sukarela.Artinya, bagi karyawan yang belum disetujui, mereka harus bersedia bekerja secara optimal dengan kompetensi yang dimiliki.

Mengenai kriteria karyawan yang boleh mengambil program pendi, Faisal menyebutkan, dua kriteria utama yang dijadikan pertimbangan manajemen, yaitu penilaian kinerja dan tingkat pendidikan karyawan. “Kami memiliki sistem performance appraisal karyawan dari P1 sampai P5. P1 adalah nilai yang paling tinggi, sedangkan P5 yang paling rendah. Nah, karyawan yang berhak mengajukan lamaran pendi adalah mereka yang memiliki nilai P4 dan P5,” urainya menjelaskan. Sementara itu, dilihat dari kriteria tingkat pendidikan, pendi diprioritaskan bagi karyawan yang pendidikannya masih setingkat SLTA. Dan, sebagian besar pendi diberikan kepada karyawan yang berusia 48 tahun ke atas.

Faisal menyampaikan, pendi yang ditawarkan Telkom terdiri dari dua macam, golden shake hand dan silver shake hand. Pada golden shake hand, karyawan sama sekali mundur atau pensiun dari Telkom. Sedangkan silver shake hand, karyawan tersebut pensiun dari Telkom, tetapi meneruskan karier di perusahaan lain di lingkungan Grup Telkom. “Pegawai yang mengambil pendi tentunya akan memperoleh kompensasi dengan besaran berbeda antara golden dan silver shake hand,” katanya menerangkan. Beban pendi pada 2009 mencapai Rp 910 miliar, tetapi program ini pada jangka panjang akan menurunkan biaya karyawan sebesar Rp 380 miliar per tahun.

Bagi karyawan yang dinyatakan lulus seleksi program pendi, Faisal mengharapkan, kompensasi yang mereka terima sebaiknya digunakan sebagai modal usaha. Untuk itu, perusahaan memberikan pelatihan kewirausahaan selama dua hari. “Mereka yang mendapat program pendi dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman berwirausaha. Bahkan, ada yang langsung dibawa ke lokasi usaha yang mereka inginkan,” tuturnya mengungkapkan. Para pelatihnya adalah alumni program pendi Telkom yang sukses sebagai wirausahawan. “Saya juga memberikan konseling ke mereka mengenai cara mengelola uang pendi yang baik,” ujar Faisal menyebutkan salah satu perannya dalam program pendi.

Telkom pertama kali menawarkan program pendi pada 1995. Ketika itu sebanyak 5.188 karyawan mengikuti program pendi. Namun, jika dihitung sejak 2002 – 2009, jumlahnya sudah mencapai 12.652 karyawan yang mengambil pendi. Pada 2009, perusahaan memberikan dua kali penawaran pendi kepada karyawan. Gelombang pertama pada Januari 2010, tercatat sebanyak 1.252 karyawan. Dan, gelombang kedua pada Februari 2010, sekitar 84 karyawan. Total karyawan yang mengikuti pendi sepanjang 2009 sebanyak 1.336 orang.

Di samping program pendi, pengurangan karyawan juga didukung oleh pensiun regular, baik secara normal (telah memenuhi syarat untuk pensiun) maupun pensiun atas permintaan sendiri. Pada 2009, karyawan Telkom yang memasuki masa pensiun secara alamiah sekitar 700 orang. Kemudian, setelah melaksanakan program pendi, perusahaan melakukan rekrutmen karyawan baru. “Jadi 20% dari total karyawan yang keluar karena pendi dan pensiun reguler, kami melakukan rekrutmen dari fresh graduate,” kata Faisal menjelaskan. Tenaga baru ini tentunya akan mengisi semua posisi untuk memenuhi kebutuhan bisnis perusahaan.

Di sisi lain, Sonny B. Sofjan, mantan profesional yang pernah memiliki karier bagus di perusahaan dan kini beralih menjadi pengusaha, mengungkapkan, masih banyak karyawan yang merasa khawatir dan takut jika kariernya berhenti sebagai orang kantoran. Kekhawatiran ini lebih dikarenakan mereka merasa tidak akan memiliki kepastian masa depan dan mendapatkan penghasilan tetap lagi, seperti yang biasa mereka terima sebagai karyawan profesional. Padahal, menurut Sonny, perpindahan kuadran dari karyawan profesional menjadi pengusaha dapat berlangsung dengan mulus tanpa gejolak, jika tahu formula rahasianya.

Apa formula rahasianya? Sonny mengistilahkan formula rahasianya itu dengan sebutan Quantum Resign (QR). Dalam QR ini, ada rangkaian formula “aman” yang akan membantu seseorang yang ingin resign atau mengundurkan diri dari status karyawan dan sepenuhnya menjadi pengusaha. Disebut aman, menurut Sonny, karena memang QR bertujuan untuk meminimalisi gejolak keuangan yang mungkin muncul. Artinya, dia dan keluarganya tidak perlu khawatir mengenai masalah finansial pasca-resign. “Justru saya mendapatkan gaji jauh lebih besar saat menjadi pebisnis dibanding ketika menjadi karyawan,” katanya memastikan. Ia menggambarkan QR seperti lambang yin dan yang.

Dijelaskan Sonny, QR terdiri dari dua formula utama, yaitu quantum transformation (QT) dan income pentagon (IP). QP atau perubahan besar-besaran pada dasarnya adalah lompatan perubahan mindset yang menyebar dari diri kita ke seluruh lingkungan sekitar. “Langkah ini lebih ke arah persiapan internal kita, supaya proses pensiun dini bisa berjalan dengan mulus. Sebab biasanya yang mengerem kita untuk pensiun dini adalah orang-orang terdekat, seperti isteri atau orang tua,” tuturnya mengungkapkan. Pada QP, transformasi dimulai dari diri sendiri, yaitu kesiapan motivasi dan karakter. Selanjutnya, proses transformasi perlu juga dilakukan pada lingkaran luar, yakni keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan pergaulan.

Sedangkan IP merupakan strategi meningkatkan pendapatan. “Jadi, income pentagon untuk menciptakan free cash flow dan akumulasi aset yang dapat mengakselerasi quantum resign yang ingin segera dilewati, sehingga akan memberikan keamanan finasial kepada karyawan yang ingin menjadi pebisnis,” kata Sonny mejelaskan. Dalam strategi IP, seorang karyawan tidak hanya mengandalkan satu bisnis saja, tetapi harus memiliki “kaki-kaki” bisnis lainnya. Sonny menyebutkan, secara umum, bisnis dan investasi dapat dirinci menjadi enam bagian, yaitu bisnis (yang dibangun sendiri dari nol), waralaba, emas, properti, keuangan, dan sedekah.

Sonny menguraikan, demi tujuan QR dengan nyaman, memulai usaha melalui bisnis ritel yang sesuai passion Anda dengan basis transaksi tunai merupakan alternatif yang teraman. Kemudian, membeli bisnis waralaba, khususnya yang take over, merupakan pilihan praktis untuk segera mencapai QR. Mengenai investasi emas, Sonny mengakui, memang tidak dengan segera melesatkan kekayaan Anda, tetapi stabilitas nilai emas adalah tabir teraman yang melindungi kekayaan Anda dari inflasi dan krisis ekonomi. Selanjutnya, investasi properti, sebaiknya melibatkan perbankan. Dan, instrumen-instrumen investasi keuangan seperti reksa dana, obligasi, dan saham, juga memberikan alternatif untuk mengakselerasi pendapatan dan kekayaan Anda.

“Seringkali kita lupa kekuatan sedekah, padahal sejarah telah berkali-kali membuktikan keampuhannya. Banyak-banyaklah bersedekah, karena bisnis Anda tidak saja akan lebih melesat, tapi terutama juga lebih berkah,” urai Sonny yang dikutip dari bukunya yang baru saja diluncurkan beberapa waktu lalu, ”Quantum Resign, Formula Aman Berhenti Kerja Jadi Pengusaha”.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata Sonny menjalankan dua dunia: karier dan bisnis, hingga akhirnya sukses pensiun dini di usia muda. Sonny memiliki pengalaman karier sebagai profesional selama 12 tahun di berbagai perusahaan terkemuka, mulai dari BUMN sampai swasta berskala nasional dan internasional. Jadi, Sonny menegaskan, saatnya Anda bertindak untuk mencapai quantum resign. Selamat mencoba dan semoga sukses.





Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR