Mutasi? Tak Perlu Alergi dan Takut | PortalHR.com

PortalHR

BPJS Ketenagakerjaan

Employee Relations

Mutasi? Tak Perlu Alergi dan Takut

Selasa, 12 Agustus 2008 - 4:09 WIB

Mutasi yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja karyawan seringkali tidak berjalan mulus. Inilah kiat Bank Danamon Indonesia dan PT Transavia Group melakukan mutasi tanpa menimbulkan gejolak karyawan.

Karyawan sebagai aset utama perusahaan seyogyanya mendapatkan berbagai wahana yang bisa meningkatkan kompetensinya. Dengan kompetensi yang meningkat tentu saja kinerja karyawan juga semakin membaik yang bermuara pada peningkatan produktivitas perusahaan.

Itu berarti peningkatan kompetensi karyawan berjalan seiring produktivitas perusahaan. Untuk meningkatkan kompetensi tersebut, sebuah organisasi tak melulu harus melakukannya dengan mengikutsertakan karyawan pada berbagai pelatihan. Melakukan mutasi juga merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan kompetensi karyawan. Pelaksanaan mutasi semestinya dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan karyawan sehingga tidak menimbulkan gejolak.

Menurut Maria Theodora Kurniawati, Head of Human Resources Bank Danamon Indonesia (BDI), tujuan perusahaan melakukan mutasi pertama-tama ingin meningkatkan potensi dan karir karyawan. “Karyawan-karyawan muda tentu ingin merasakan posisi di atas jabatan yang mereka duduki saat ini. Jadi, mutasi merupakan program jenjang karier dari kami,” ujar Maria. Menurutnya, mutasi yang lazim dilakukan adalah promosi. Tapi bila mutasi dengan jabatan yang sejajar, biasanya karyawan lebih memilih untuk tetap di jabatan lamanya. Tujuan lain dari mutasi merupakan alat jika BDI terlalu banyak memiliki karyawan yang spesialis. “Itu tidak baik bagi organisasi. Karena dunia perbankan memiliki banyak divisi sehingga karyawan harus bisa mewakili divisi-divisi tersebut. Adanya mutasi bermanfaat menciptakan keseimbangan dalam organisasi,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan HR Manager PT Transavia, Tristearina Aromasari yang akrab disapa Arien. Perusahaan tempatnya bekerja juga melakukan mutasi dengan tujuan untuk pengembangan organisasi. “Baik untuk meningkatkan produktivitas kerja maupun memotivasi dan mengembangkan kemampuan dan pengetahuan karyawan,” ujarnya. Menurutnya, mutasi dilakukan dengan dasar untuk memberikan motivasi dan peluang kepada karyawan agar kemampuannya meningkat ataupun menyeimbangkan antara tenaga kerja dengan komposisi pekerjaan atau jabatan yang ada. “Melalui pelaksanaan mutasi, proses kaderisasi juga sekaligus dapat dicapai, di mana para karyawan yang berpotensi dibidik untuk selanjutnya diarahkan ke posisi-posisi yang lebih strategis,” imbuhnya.

Dikatakan Arien, perusahaan akan mengapresiasi karyawan yang telah menunjukkan performa yang cemerlang. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan promosi atau kenaikan jabatan. Dalam hal ini berarti tugas, kewenangan dan tanggung jawab karyawan tersebut akan semakin besar sehingga kenaikan gaji juga akan mengikuti promosi tersebut. Lebih jauh ia mengatakan bahwa mutasi tak selalu dilakukan untuk memberikan apresiasi terhadap kinerja karyawan. Namun bisa juga untuk memberikan sanksi/punishment terhadap pelanggaran atau penyimpangan kewajiban karyawan. “Pelaksanaan mutasi yang dilakukan PT Transavia tidak selalu diikuti dengan kenaikan gaji,” begitu kata Arien.

Baik Arien maupun Maria mengakui kalau dalam pelaksanaan mutasi tak selalu berjalan mulus. Menurut Maria, terkadang ada pula karyawan yang menolak untuk dimutasi. “Biasanya karyawan tersebut tidak mau dimutasi karena belum siap mental dan kurang pengalaman sehingga takut tidak berhasil nantinya,” ungkapnya. Alasan lain karyawan menolak dimutasi bisa juga karena, misalnya, menolak dipindah ke luar kota atau ke luar pulau.

Maria berpendapat, mutasi akan lebih baik bila diikuti dengan kenaikan gaji. “Tapi mutasi yang dilakukan Danamon tidak selalu disertai kenaikan gaji,” imbuhnya. Bila mutasi disertai kenaikan gaji, biasanya karyawan tersebut menempati jabatan yang lebih tinggi, baik dari segi pekerjaan ataupun tanggungjawabnya. “Kami mengukur dari bobot dan tanggungjawab pekerjaannya,” tutur ibu dari dua anak ini. “Kalau bobot pekerjaan lebih berat tapi gaji tidak dinaikkan, biasanya karyawan tidak berminat,” tambahnya sambil tersenyum.

Selain mutasi yang bersifat positif atau promosi, ada juga mutasi yang dianggap negatif, yaitu demosi. Menurutnya, BDI juga pernah melakukan demosi terhadap karyawan. “Tapi itu dilakukan setelah beberapa tahap pembinaan. Jadi pekerja tidak langsung didemosi begitu saja,” tuturnya. Ia menambahkan dalam pembinaan karyawan memang dituntut memberikan kompetensi yang sudah ditentukan. Tapi bila kinerja karyawan tetap tidak memenuhi syarat, maka akan didemosi. “Demosi juga bisa dilakukan bila cabang ditutup karena tidak memenuhi profit yang telah ditentukan,” tambahnya.

Maria menandaskan bahwa manajemen BDI tidak serta merta melakukan demosi terhadap karyawan yang tidak produktif. “Dilakukan dialog terlebih dahulu,” katanya. Menurutnya, pihak manajemen berusaha agar tidak merugikan pihak manapun. Di divisi HR sendiri, tambahnya, HR menempatkan diri sebagai partner bisnis yang khusus menyelesaikan masalah internal.

Ihwal demosi, yang dilakukan Arien di Transavia adalah, jika karyawan menunjukkan performa di baw