PortalHR

IDSL

Employee Relations

10 Alasan Perusahaan Besar Gagal Menjaga Best Talent

Selasa, 20 Desember 2011 - 7:40 WIB

Memang terkesan aneh kalau perusahaan-perusahaan besar, yang notabene punya sumber daya melimpah, ternyata tidak bisa mempertahankan top talent-nya. Namun begitu, inilah hal krusial yang harus dihadapi oleh perusahaan-perusahaan besar saat ini. Ada 10 rambu-rambu kenapa big company gagal menjaga para top talent-nya. Apa saja?

Eric Jackson, Founder and Managing Member of Ironfire Capital LLC, seperti ditulis Forbes, menyimpulkan ada 10 hal yang membuat perusahaan besar gagal mempertahankan top talent-nya. 10 alasan tersebut adalah sebagai berikut;

1)      Khas Birokrasi Perusahaan Besar. Mungkin inilah alasan nomer #1 yang sering kita dengar dari kekecewaan karyawan. Tidak ada yang menyukai aturan yang tidak masuk akal. Birokrasi juga menjadi sandungan dalam memberikan respon secepat yang diinginkan oleh karyawannya.

2)     Perusahaan besar gagal memberikan proyek yang membuat top talent bergairah, disebabkan mereka terlalu banyak memiliki bagian dan orang disibukkan dengan urusan masing-masing. Top talent tidak didorong oleh uang dan kekuasaan, tetapi mereka senang dengan kesempatan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang besar, yang akan mengubah dunia, dan yang membuat mereka benar-benar bersemangat. Sayangnya, perusahaan-perusahaan besar biasanya tidak pernah menghabiskan waktu untuk mencari tahu hal ini dengan top talent-nya.

3)     Miskin ulasan kinerja tahunan. Anda mungkin kaget ada berapa banyak perusahaan tidak melakukan pekerjaan yang sangat efektif dalam mereview kinerja tahunan. Atau, jika mereka memiliki, mereka melakukannya dengan terbur-buru dan kembali menyerahkan ke bagian HR, kembali kepada rutinitas. Inilah yang menyebabkan, best talent berpikir, jika perusahaan – tidak benar-benar tertarik pada masa depan jangka panjang, kenapa saya mesti tetap tinggal?

4)     Tidak ada Diskusi tentang Career Development. Berikut ini adalah rahasia untuk para bos: sebagian besar karyawan tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dalam 5 tahun ke depan. Sekitar kurang dari 5% dari orang bisa memberitahu Anda, itu pun jika Anda bertanya. Faktanya, setiap orang  ingin mengajak diskusi tentang masa depan mereka, sementara si Bos tidak mau atau tidak punya waktu untuk itu.

5)     Prioritas Strategis. Menarik apa yang dilakukan oleh Yahoo! ketika berencana membangun sebuah inkubator atau “Brickhouse” untuk menampung aspirasi top talent-nya. Mereka ini diberi mereka proyek-proyek baru yang menarik dan menantang. Jika Anda berkomitmen untuk sebuah proyek yang memberi ruang agar mereka bisa maju, Anda harus memberi mereka kesempatan yang cukup untuk memberikan apa yang telah mereka janjikan.

6)     Kurangnya Akuntabilitas dan/atau memberitahu mereka bagaimana melakukan pekerjaan. Meskipun Anda memandang ” jerk around” kepada top talent, adalah suatu kesalahan untuk memperlakukan mereka dengan menyuruhnya menjadi memimpin proyek yang “untouchable”. Memang top talent tidak harus diberitahu apa yang harus mereka lakukan setiap saat. Namun, top talent menginginkan akuntabilitas dari orang lain dan tidak keberatan bertanggung jawab untuk proyek-proyek mereka. Kuncinya adalah komunikasi, dan mereka akan menghargai wawasan Anda, pengamatan, maupun saran selama itu tidak terkesan Anda sedang berkhotbah.

7)     Top Talent likes other Top Talent. Banyak organisasi menyimpan beberapa orang pada penggajian rasional yang  seharusnya tidak ada. Beberapa alasan yang sering mengemuka, “Ini terlalu sulit untuk menemukan penggantinya….” atau, “Sekarang bukan waktunya ….” Namun begitu, pada saat dilakukan exit interview dengan orang-orang terbaik yang meninggalkan perusahaan besar Anda mungkin sering mendengar bagaimana mereka ini dimatikan oleh beberapa mantan dalam “team-mates”. Jika Anda ingin menjaga orang-orang terbaik Anda, pastikan mereka dikelilingi oleh orang-orang besar lainnya.

8)     Hilangnya Visi. Hal ini mungkin terdengar jelas, seberapa menarikkah masa depan organisasi Anda? Apa strategi Anda untuk mengeksekusinya? Apa visi Anda yang sebenarnya yang bisa dipenuhi oleh top talent? Apakah mereka memiliki jawaban/ masukan ke dalam visi tadi? If the answer is no, there’s work to do — and fast.

9)     Kurangnya keterbukaan. Orang-orang terbaik ingin berbagi ide-ide mereka dan mereka ingin didengarkan. Sayangnya tidak ada ruang untuk itu. Jika tidak ingin kehilangan, Anda harus bersedia mendengarkan sudut pandang orang lain – gabungkan bagian-bagian terbaik dari saran-saran tersebut.

10)  Siapa Boss? Jika ada beberapa orang yang baru-baru ini berhenti dari perusahaan Anda yang melaporkan kepada atasan yang sama, kemungkinan bukan suatu kebetulan. Kurangnya pembinaan eksekutif (coaching) yang biasanya hanya sebesar 33% dari waktu kerja dalam beberapa kasus bisa menjadi sebabnya. Jika sudah begini, Anda mungkin akan mencari top talent di tempat lain, akan tetapi menjaga top talent, jelas jauh lebih efisien.

 






Satu komentar to 10 Alasan Perusahaan Besar Gagal Menjaga Best Talent



  1. I MADE BUDIANA
    Rabu, 23 Mei 2012 pada 07.09

    It’s good articel. Saya cukup mendapat asprasi dari artikel ini./ Fakta,nyata dan tentu saja hasil dari observasi & pengalaman. Thank you

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR