Majalah Human Capital » Edisi Terbaru » Pengembangan

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Sinergi untuk Mewujudkan Tim Pemenang

Edisi 70 Januari 2010

Ingin memiliki tim yang hebat? Sangat bisa! Impian Anda untuk memiliki champion team bisa terwujud asalkan Anda mau bersinergi dengan anggota tim. Membangun tim yang hebat memang membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan sentuhan seni.

Banyak keluhan datang dari anak buah yang kecewa dengan perilaku atasannya. Pemimpin yang egois, tidak membumi, pemarah, tidak tegas, tidak peduli proses dan hanya mementingkan target tanpa mau berempati. Kata-kata seperti itu sering terlontar dari mulut orangorang yang merasa tidak puas. Seorang pemimpin tim memang dituntut untuk mencapai target dan membawa timnya menjadi pemenang. Akan tetapi, ada seni tersendiri untuk membangun tim menjadi pemenang alias the champion team.

Siang hari itu, misalnya, seperti yang HC saksikan sendiri, seorang pemimpin tim (team leader) sedang berkonsentrasi memberikan pelatihan kepada anggota timnya. Melati Indah Putri Puspadewi, salah seorang pemimpin tim di sebuah perusahaan telekomunikasi, duduk santai berhadap-hadapan di depan dua orang anggotanya. Dia tampak serius memberikan pertanyaan sebagai petugas peduli pelanggan (customer care officer). “Saya minta tolong, kalian berdua baca kembali buku-buku yang sudah dipelajari sebelumnya karena akan sangat bermanfaat untuk tes kelulusan nanti. Saya harap kalian berdua lulus,” kata Melati kepada dua orang anggota timnya yang masih berusia sekitar 22 tahun.

Membayangkan memiliki tim yang hebat tentu menyenangkan. Ternyata, akan jauh lebih menyenangkan bila seseorang menjadi bagian di dalamnya. Di mata Ekuslie Goestiandi, Head of Astra Management Development Institute, yang dimaksud champion team adalah tim yang memiliki kinerja kompetitif dan solid.

Ekuslie yang biasa dipanggil Kelik ini percaya bahwa keberadaan tim pemenang akan mendorong perkembangan perusahaan atau organisasi. Menurut Kelik, dua ciri tim pemenang adalah, pertama, anggota tim memiliki kompetensi dan gaya yang berbeda, namun saling melengkapi dan mampu berkolaborasi. Dan kedua, anggota tim memiliki tujuan dan visi yang sama, didukung semangat kerja yang dapat menumbuhkan sikap respek terhadap kemampuan dari setiap anggota tim.

Siapapun, selayaknya perlu menjadi menjadi bagian dari sebuah tim terbaik. Kelik memberi alasan sederhana, ”Sebuah pekerjaan terlalu besar jika dilakukan seorang diri dan akan lebih cepat jika dikerjakan bersamasama.” Selain itu, menurut riset, ia melanjutkan, proses pengembangan diri akan lebih cepat jika dilakukan bersama-sama. Maka itu, sebaiknya budaya yang ditumbuhkan adalah budaya memperbesar industri, bukan memperebutkan pasar. ”Kita tidak lagi merebutkan kue yang kecil, tapi memperbesar kuenya, begitu seharusnya,” ujar Kelik menandaskan.

Menjadi bagian dari sebuah tim artinya berbicara tentang jaringan kerja (networking). “Jika kamu tidak membangun jaringan kerja artinya kamu tidak bekerja,” komentar Kelik. Maka, ia menilai, jaringan komunikasi sangatlah penting, bahkan bagi seorang pekerja mandiri. ”Pekerja mandiri sekalipun tetap membutuhkan orang lain untuk membantu pekerjaannya,” ujar Kelik.

Harus diakui, tren serba praktis dan ingin memperoleh hasil dalam waktu cepat sering tidak terelakkan. Namun demikian, Kelik menegaskan, champion team tidak bisa dibentuk secara instan. Bicara tentang teori pembangunan tim, Kelik menguraikan setidaknya ada empat tahapan yang harus dilakukan. “Pertama, tahap forming, tahapan ini adalah masa perkenalan antara satu dan yang lain. Kedua, tahap storming, di mana akan ada badai yang terjadi pada masa perkenalan. Ketiga, tahap norming, yaitu normalisasi atau sikap saling memahami karakter satu sama lain. Dan terakhir, performing, di mana pada tahap ini tim akan menunjukkan kehebatannya,” Kelik memaparkan dengan semangat. Alasan logis inilah yang membuat Kelik menyimpulkan, sebuah tim tidak bisa diibaratkan seperti makanan instan yang mudah diolah.

Melati menguatkan pendapat Kelik. ”Bagi saya, sebuah champion team bukan hanya mencapai target tertulis, tapi fokus pada proses dan karakter tim yang solid,” kata Melati yang menjadi pemimpin tim sejak 2007. Melati bukan sekadar ngecap tapi pernah membuktikannya. “Saya pernah merasakan memiliki champion team sampai awal 2009. Waktu itu tim saya ada 15 orang dan sangat solid. Dalam arti, saya dan tim sudah sangat dekat. Komunikasi berjalan dua arah sehingga apa yang saya inginkan untuk tim bisa tercapai dan mengomunikasikan pencapaian tim jadi lebih mudah,” ungkap wanita kelahiran Bandung, 13 September 1980 ini.

Apakah cukup sampai di situ? “Saya bilang, saya ingin tim mencapai target tertentu. Saya beritahukan caranya, mau diambil atau tidak saya serahkan ke teman-teman. Saya juga katakan bahwa hal ini untuk kepentingan teman-teman,” kata Melati. Ada rasa kebersamaan dalam tim yang Melati pimpin saat itu, sehingga muncullah kebutuhan satu sama lain di antara anggota tim. “Kami merasa saling butuh, saling bantu, saling dukung dan dorong satu sama lain,” aku Melati.

Melati membeberkan, berkat memiliki tim yang solid, target yang ditetapkan oleh perusahaan dapat tercapai. “Nilai solusi target sebesar 95 tercapai, nilai performance attendance sebesar 100 tercapai, sikap layanan sebesar 95 tercapai, hold time tidak boleh di atas 60 detik tercapai,” urai Melati dengan bangga.

Untuk lebih memotivasi anggota timnya, Melati tak segan memberikan apresiasi. “Saya memberi penghargaan bila mereka mencapai target. Bukan dalam bentuk uang, tapi hanya piagam kecil atas inisiatif saya sendiri. Isinya yaitu peringkat pertama nama yang bersangkutan dan asal grupnya, dan di bawahnya ada kata motivasi,” kenang Melati sambil tersenyum.

Mencermati hal yang dilakukan oleh Melati, tak dipungkiri bahwa seorang pemimpin tim memiliki peran yang sangat besar. Pertanyaannya, sejauh mana peran yang harus dilakukan? “Seorang pemimpin sebaiknya menjadi sentral,” tutur Kelik. Maksud Kelik menjadi sentral adalah, sebagai sumbu penggerak bukan pusat perhatian. Ia menganalogikan seorang pemimpin seperti seorang dalang. Di saat dia sedang memainkan lakon wayangnya, seorang dalang tidak menjadi pusat perhatian tapi hanya penggerak dari para lakon tersebut. Itu berarti, seorang pemimpin harus lebih mendahulukan kepentingan organisasinya daripada kepentingan pribadi.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green