Majalah Human Capital » Edisi Terbaru » Pengembangan
Menjadi Sang Pemimpi dan Pemimpin ala LNI
Edisi 56 November 2008
Agresif, berpikir positif dan berani maju. Inilah karakter para penggiat bisnis jaringan pemasaran atau biasa dikenal Multi Level Marketing (MLM). Apa yang membuat mereka bersemangat dalam menggapai impian? Bagaimana mereka mengembangkan diri?
Hari itu di Ancol hujan teramat deras. Mata pun terasa sulit untuk dibuka. Namun, ribuan orang bergeming walaupun basah kuyup terguyur air. Mereka tetap bersemangat kendati udara dingin perlahan-lahan menusuk tulang. Suara dari ribuan orang yang memadati lapangan terbuka itu tak henti-hentinya bergema meneriakkan yel-yel pembangun semangat. Mereka siap menyongsong impiannya melalui PT Lion Network International (LNI), yang tidak lain adalah support system MLM besar asal China bernama Tiens Network International (dibaca: Tianshi).
Untuk para penggiat Tiens, nama Rudy Muhammad Noer mungkin tidak asing lagi. Salah satu top leader di Tiens ini berbagi cerita kepada HC di sela-sela jadwal bisnisnya yang luar biasa padat. “Hari ini saya baru pulang dari Lhokseumawe, besok pagi saya ke Banjarmasin,” ujar pria yang akrab disapa Rudy ini. “Kami berbisnis di network marketing, yaitu pemasaran Tiens,” Rudy memulai pembicaraan. “Kami ingin membangun jaringan Tiens yang besar dengan menggunakan sistem pendukung yang kuat,” lanjutnya. Untuk itu, ia menyadari bahwa bisnis network marketing bukan hanya sekadar jualan, tapi juga membangun kepemimpinan. Dari ide itu ia mencetuskan PT Lion Network International (LNI). “Tiens artinya Singa Langit. Kami ambil kata “Singa”-nya dan diubah ke bahasa Inggris menjadi Lion. Tiens masuk ke Indonesia tahun 2000, sedangkan LNI berdiri setahun kemudian,” kata Rudy yang berbagi kepemilikan saham LNI bersama dua rekannya, Agus Laksono dan Trisulo.
Di mata Rudy dkk., LNI adalah sebuah sekolah bisnis (business school). Mengapa mereka menyebutnya business school? Alasan trio pendiri LNI seperti yang diungkapkan Rudy sederhana saja. “Kami ingin mengembangkan manusia melalui bisnis ini. Bukan sebaliknya, mengembangkan bisnis ini dengan menggunakan manusia,” ujar Rudy menegaskan. “Kami berupaya membangun jaringan bagi para pemimpi dan pemimpin. Mereka bukan orang-orang yang digaji. Karena itu kami harus membangun mental mandiri mereka agar bisa menghasilkan income sendiri,” jelasnya lebih lanjut.
Di samping itu, ada alasan lain di balik berdirinya LNI. “Saya terinspirasi oleh buku Robert T. Kiyosaki yang berjudul Business School. Di situ dijelaskan 8 nilai dalam bisnis jaringan pemasaran. Kami mengembangkannya dengan mengundang pembicara pakar, seperti Hermawan Kartajaya dan Rhenald Kasali,” ungkap Rudy.
Asal tahu saja, komunitas bisnis ini sangat beragam. Mulai dari tukang ojek, sopir taksi, ibu rumah tangga sampai presiden direktur di salah satu BUMN, artis, karyawan swasta dan PNS berkumpul di lembaga ini. Rudy membeberkan, saat ini anggota LNI setelah 7 tahun berdiri mencapai tiga juta orang di lebih dari 20 negara. “Tiens ada di 110 negara. Namun demikian, tidak semua anggota Tiens merupakan anggota LNI,” ungkapnya. “Ada pula dari mereka yang menggunakan cara-cara sendiri. Tapi secara struktur semuanya berada di bawah tiga orang pemilik LNI,” aku Rudy.
Dalam hal ini, Tiens tidak mewajibkan anggotanya mengikuti LNI. Tiap anggota diberi kebebasan untuk memilih ikut LNI atau tidak. Namun, diakuinya, anggota Tiens yang bergabung dengan LNI memiliki kualitas kepemimpinan yang andal. “Menurut saya yang bergabung dengan LNI pengembangan kepribadiannya lebih baik. Mereka juga lebih tangguh,” katanya memuji. Indikasinya, grup yang mereka bina terus berkembang.
Bagi para penggiat MLM, penolakan adalah hal yang harus dihadapi dengan berbesar hati. “Anggota LNI merespons penolakan dengan jiwa besar,” katanya. Hal ini lantaran mental mereka sudah terasah dengan baik. Sekadar untuk gambaran, Rudy membeberkan, di acara weekend seminar yang dihadiri ribuan orang, para anggota harus rela mengeluarkan kocek puluhan ribu rupiah dari kantongnya sendiri -- terkadang tidak dapat makan dan minum -- tapi tetap semangat hingga acara selesai. “Mungkin orang melihatnya aneh ya, tapi itulah yang terjadi,” tuturnya seraya melanjutkan, “Weekend seminar ini sudah kami adakan beberapa kali di Jogja, Medan, dan Jakarta. Hampir di setiap pertemuan itu hujan turun deras. Waktu di Ancol untuk melek saja susah, tapi mereka tetap semangat.”
Lalu, apa rahasia LNI hingga mampu menghipnosis ribuan orang? Sambil tersenyum Rudy menjelaskan, “Kami memakai teori motivasi dan menggunakan pakar untuk membantu kami. Kami sering menghadirkan seorang motivator dan penulis terkenal. Misalnya, kami pernah mendatangkan Tony Christiansen, seorang penyandang cacat, untuk menjadi pembicara.” Diakuinya, metode pengembangan yang diajarkan oleh LNI tidak diberikan dalam ruangan kelas sebagaimana sekolah-sekolah bisnis lain. “Kami lebih banyak menggunakan buku, kaset, dan pertemuan,” ungkap Rudy. Untuk pertemuan, ia menjelaskan, ada dua jenis. Pertama, adalah pertemuan tidak bersyarat yang boleh diikuti oleh siapapun. Kedua, adalah pertemuan bersyarat, artinya hanya boleh dihadiri oleh anggota yang sudah mencapai peringkat tertentu. “Misalnya, dia berhasil membawa orang ke pertemuan atau secara prestasi dia sudah berhasil membangun beberapa jaringan atau jalur,” ujar Rudy memberi contoh.
Bicara sekolah pasti bicara kurikulum. Secara gamblang Rudy memaparkan kurikulum di LNI. “Yang paling penting adalah membangun budaya. Budaya mereka harus bersifat positif. Bahkan, cara berpakaian dan bertutur kata pun diajarkan,” ungkapnya.
Sebagai contoh, etika berkonsultasi. Di sini seseorang boleh bertanya ke upline-nya, tapi tidak boleh mempertanyakan. Umpamanya, jika seorang anggota memesan barang dan ternyata barang tersebut inden, maka ia boleh bertanya ke upline-nya, kapan barang pesanannya tersedia? Sebaliknya, ia tidak boleh mempertanyakan, misalnya dengan kalimat begini: “Kenapa barangnya tidak keluar? Katanya ini perusahaan international.”
Menurut Rudy, bentuk pertanyaan seperti itu tidak positif. “Ini tidak boleh karena menyangkut etika. Kita harus selalu menjaga motivasi dengan cara berpikir positif,” pria berusia 36 tahun ini menegaskan. “Inilah yang menyebabkan mengapa di tengah hujan deras sekalipun mereka tetap semangat dan tidak ada yang komplain,” kata Rudy bangga. Dengan kata lain, lanjutnya, LNI mengajarkan anggotanya untuk menjadi pemimpin yang memiliki integritas, sikap positif, dan mau mewariskan nilai-nilai kepemimpinan kepada downline-nya.
Artikel sebelumnya
.gif&contenttype=gif)