Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Mencermati Engagement Dalam Retention

Edisi 46 Januari 2008

Isu mengenai employee retention selama ini selalu menjadi topic perdebatan yang menarik untuk dikaji dan dipahami. Karena seringkali para praktisi salah menginterpretasikan indikasi-indikasi yang terjadi di perusahaanya. Salah satu contoh menarik terjadi dalam sebuah diskusi yang dihadiri para praktisi human resource.

Kala itu seorang peserta diskusi pria dengan bangga menceritakan betapa sukses perusahaannya dalam melakukan employee retention. Indikasinya adalah turnover yang rendah dan semakin menurun dari tahun ke tahun. Pria itu juga bercerita bahwa ada cukup banyak karyawan yang telah bekerja selama belasan bahkan puluhan tahun di perusahaan tersebut.

Namun peserta diskusi lain melontarkan argument yang tak kalah menarik menyoal hal itu. Karena bila tidak dicermati dengan benar maka hal itu bisa menjadi boomerang yang bisa saja merugikan perusahaan. Karena dalam mengukur sukses tidaknya retention program, hal yang juga harus dipahami benar adalah bagaimana karyawan tersebut bisa memberikan kontribusi maksimal bagi perusahaan.

Dalam hal ini mungkin kita bisa merujuk ke pendapat yang dikemukakan oleh Irvandi Ferizal, Human Resources Director PT Skypak International atau TNT Indonesia. Menanggapi hal ini, ia berkomentar bahwa dalam melihat employee retention kita juga harus mempertimbangkan factor employee engagement. “Kalau retention artinya hanya mencerminkan masa kerjanya. Dia bekerja apakah 7 atau 10 tahun. Tapi dia engage nggak?”, tanyanya.

Menurutnya factor engagement merupakan hal yang penting bila kita berbicara mengenai retention karena engagement mencerminkan komitmen, usaha yang lebih dalam bekerja dan mencintai perusahaannya. Jadi kalau seorang karyawan bekerja lebih dari 15 tahun tapi cuma asal bekerja, dalam arti tidak melakukan pekerjaannya dengan maksimal buat apa.

“Malah lebih baik buat saya tidak perlu lama. Sejauh 2-3 tahun tapi mereka engage, no issue. Selama periode itu dia benar-benar mencurahkan yang terbaik buat perusahaannya, that’s good.” Karena pada akhirnya apabila di satu sisi ada karyawan yang bekerja lama dan menikmati berbagai fasilistas yang diberikan perusahaan dan di sisi lain tidak memberikan kontribusi dan performa yang terbaik bagi perusahaan bukankah malah menambah beban perusahaan?

Persepsi yang dilontarkan Irvandi memang cukup beralasan bila kita menengok hasil survey yang dilakukan corporate executive board baru-baru ini. Dari hasil survey yang dilakukan di banyak perusahaan termasuk TNT, ditemukan 38 employee value prepositions yang merupakan hal-hal apa saja yang paling dicari seseorang bila bekerja di suatu perusahaan.

Setelah diteliti, corporate executive board menemukan bahwa ada 7 core EVP attributes yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah atribut yang menarik seseorang untuk masuk ke perusahaan yaitu compensation dan organizational stability. Kedua adalah atribut yang membuat seseorang komitmen terhadap perusahaannya yaitu manager quality dan collegial work environment. Sedangkan kelompok ketiga adalah atribut yang merupakan irisan dari attraction dan commitment, yaitu development opportunities, future career opportunities dan respect.

Bila kita mengacu ke hasil penelian ini dimana compensation dan organizational stability menjadi faktor yang dapat meng-attract orang untuk bekerja di perusahaan, hal ini bisa saja menghasilkan suatu kesimpulan bahwa seorang karyawan bisa lama bekerja di sebuah perusahaan karena dia berada di comfort zone dimana perusahaan berada dalam kondisi yang stabil dan memberikan kompensasi yang besar namun belum tentu dia engage dengan perusahaannya.

Sementara itu hal yang bisa membuat karyawan commit sekaligus engage dengan perusahaan adalah manager quality dan collegial work environment. “Jadi kualitas manajer itu sangat penting. Manajer kita itu penting sekali buat kita retain. Kedua, collegial work environment. Waktu kita lebih banyak di kantor kan daripada dirumah. Kalau lingkungan kerjanya banyak konflik, sirik-sirikan, kan malas”, imbuh Irvandi.

Focus, Measure and Follow Up
Sebagai upaya untuk meng-engage karyawan yang ada di perusahaanya ada beberapa hal yang menurut Irvandi sangat penting untuk dilaksanakan. Yang pertama adalah menjalankan focus, measure dan follow up. Artinya jika perusahaan ingin agar the best employeenya engage, harus dilakukan employee engagement survey yang rutin.

Dari hasil employee engagement survey nantinya akan diketahui aspek-aspek apa saja yang harus diperbaiki. Nah, yang terpenting hasil employee engagement survey tersebut harus di follow up terus. Artinya aspek-aspek yang hasilnya kurang memuaskan harus diperbaiki. Tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban untuk melakukan survey saja karena hal demikianlah yang sering terjadi di berbagai perusahaan.

Selain employee engagement survey, ada juga beberapa hal yang terkait dengan focus, measure dan follow up yaitu exit interview, internal appointment dan retention new starters in six months. Exit interview digunakan untuk mencari tahu dan menganalisa mengapa karyawan hengkang dari perusahaan. “Paling tidak kita melihat apa sih tren yang disukai hari ini oleh karyawan sehingga mereka pindah ke perusahan lain. Dan ternyata kayawan TNT bisa dikatakan sangat jarang pindah ke competitor. Artinya kita melihat bahwa karyawan kita nggak lari ke competitor. Itu yang kita ukur ya”, terang Irvandi.

Selain itu ada juga internal appointment. Dalam rangka mengembangkan talent, Irvandi selalu memberikan kesempatan untuk promosi. “Ini juga diukur, tiap tahun saya presentasikan. Artinya berapa banyak sih kursi kosong, kita lakukan appointment. Kursi kosong kita isi dari dalam. Dengan begitu menunjukkan bahwa kita membuat kader karyawan terbuka kan. Lalu kita berikan mereka kesempatan internal appointment karena ini bagian dari future career opprtunuity kan.”

Yang terakhir dalam focus, measrure and follow up adalah retention new starter in six month. “Artinya orang masuk TNT dalam 6 bulan bertahan nggak. Karena banyak juga kan orang masuk TNT lalu 2-3 bulan hengkang karena merasa nggak cocok. Kalau itu kita ukur paling nggak menunjukkan kalau kita focus”, urainya.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google