Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Wanita-wanita Penguasa Bisnis Dunia

No. 12 - Maret 2005

Wanita bukanlah makhluk lemah seperti yang sering dicitrakan selama ini. Di balik kelemahlembutannya, wanita terbukti sukses menjadi pemimpin, termasuk di dunia bisnis. Bagaimana potret wanita-wanita "perkasa" itu?

Memperhatikan kiprah wanita dalam jagat bisnis sungguh sangat menarik karena wanita dianugerahkan pula kodrat sebagai ibu dalam rumah tangga. Selain itu, dunia bisnis yang keras tidak cocok (atau tidak memberi kesempatan?) bagi wanita untuk tampil di puncak singgasana bisnis. Tapi, banyak eksekutif wanita yang justru merasa kodrat itu sebagai kekuatan. Sebagian besar eksekutif wanita yang sukses juga memiliki kehidupan keluarga yang cukup baik.

Di deretan wanita "perkasa" dalam jagat bisnis global, Carly Fiorina (sebelum berhenti sebagai CEO dan Chairman Hewlett-Peckard) berada di posisi teratas. Majalah Fortune menempatkan Gerly di posisi teratas wanita paling berkuasa dalam bisnis di Amerika maupun dunia. Wajar karena Carly memimpin perusahaan yang bernilai US miliar.

Sebagai contoh, dalam daftar wanita paling berkuasa dalam bisnis di Amerika 2003, muncul nama Meg Whitman (President & CEO eBay) di posisi kedua dan Andrea Jung (Chairman & CEO Avon Products) di posisi ketiga. Marjorie Magner (Chairman & CEO Global Consumer Group, Citigroup) hanya ada di posisi ke-5 dan Oprah Winfrey (Chairman Harpo Inc.) di posisi ke-7. Nama-nama dalam daftar itu jelas pemimpin bisnis raksasa dengan asset perusahaan bernilai miliaran dolar.

Sebelum menerima tawaran memimpin Hewlett-Packard (HP) sebagai CEO menggantikan Lew Platt, Carly yang bernama asli Cara Carleton Sneed lama berkarir di perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia AT&T. Kemudian dia diangkat menjadi CEO LucentTechnologies, anak perusahaan AT8T. Di tangan Carly perusahaan ini menjadi lebih independen dan berhasil go public dengan mendapat respons positif dari para investor. Semua ini menjadi dasar kenapa Komite Pencari Eksekutif HP melirik Carly sebagai kandidat utama CEO HP, walaupun Walter Hewlett, putera pendiri HP Bill Hewlett, tidak terlalu menyukainya.

Carly mulai bergabung dengan HP 15 Juli 1999. Saat itu HP sedang terengah-engah karena beberapa divisi usaha memiliki kinerja yang buruk. Salah satunya adalah Divisi komputing yang terus merugi. Beberapa anggota Dewan Direksi HP bahkan sempat berencana menjual divisi tersebut. HP banyak terbantu oleh kinerja divisi IPG (Image Printing Group) yang masih menguntungkan, walaupun marjin keuntungan terus menurun.

Manajemen di bawah kepemimpinan Carly tidak setuju menjual divisi komputing dan memilih untuk menyelamatkannya. la meminta orang-orang HP untuk terbiasa bergerak cepat, termasuk dalam meluncurkan dan mengirimkan produk baru. Selama ini HP tidak akan pernah meluncurkan produk baru ke pasar sebelum benar-benar sempurna, sehingga sering terlambat masuk pasar. Carly mengubah paradigma itu dengan memperkenalkan istilah Perfect Enough, tidak usah terlalu sempurna tetapi diluncurkan dengan strategi dan kecepatan yang tepat.

Tantangan yang dihadapi alumni Stanford University ini dalam memimpin HP memang sangat besar. Kegagalan New Economy diperburuk oleh lesunya perekonomian Amerika. Harga saham perusahaan teknologi informasi bertumbangan. Harga saham Cisco dan Sun bahkan anjlok 70% lebih. Sebagai wanita, Carly bersyukur telah mendapatkan tempaan kuat. Saat HP mem-PHK 6.000 karyawan (untuk memotong biaya US0 juta/tahun) 26 Juli 2001, Carly berusaha tegar dan tidak cengeng – meskipun secara pribadi ia tidak menyukai hal ini. Dengan PHK berarti Carly melanggar pantangan yang berlaku selama ini: jangan pernah melakukan PHK di HP.

Keputusan Carly untuk melakukan merger dengan Compaq dan disetujui oleh pemegang saham dengan perbedaan suara tipis (antara setuju dan menolak) rupanya tidak berhasil sepenuhnya mampu menyelamatkan HP. Dalam sebagian besar pasar, divisi usaha HP mengalami penurunan kinerja. Ketika Dewan Direksi memintanya untuk mundur sebagai wujud tanggung jawab, tidak tersedia banyak pilihan baginya selain menyetujui permintaan mundur itu. Maka, Carly resmi mundur dari HP 2 bulan lalu. Keputusan mundur ini tentu saja menyenangkan bagi kubu Walter Hewlett yang sejak awal menentang merger ini.

Kendati harus mundur, Carly telah berhasil melakukan sebuah pekerjaan besar, yaitu merger terbesar dalam industri teknologi informasi. Ia berhasil menyatukan dua kekuatan raksasa teknologi informasi yang pada dasarnya sangat berbeda. Merger penuh berhasil dituntaskan dalam waktu setahun berkat kekuatan Carly yang menyukai aspek detil. Carly meminta manajemen untuk membuat Play Book yang menjadi panduan bagi seluruh jajaran HP dalam menjalankan proses merger. Orang akan tetap mengenangnya sebagai CEO yang hebat dengan penampilannya yang selalu neat dan berkelas.

Mundur mungkin pilihan terbaik bagi Carly karena HP menghadapi tantangan baru yang berbeda dan membutuhkan CEO yang berbeda pula. Setiap era tentu memiliki tantangannya tersendiri dan membutuhkan tipe pimpinan tertentu pula. Itu berarti, Carly harus melepaskan posisinya sebagai wanita paling berpengaruh dalam bisnis di dunia.

Akhir dari perjalanan karir Carly yang cemerlang memang mengejutkan. Tetapi terlalu naif jika harus menyalahkan Carly karena ia seorangwanita. "Siapapun yangmenduduki posisi CEO HP, pria sekalipun, akan tetap kesulitan menghadapi situasi yang ada," ucap seorang pakar manajemen Amerika. Sebagai wanita, ia tidak merasa nyaman bekerja bila level kepercayaan kolega dan anak buah menurun tajam.

Apakah hal ini menunjukkan Carly kurang tahan banting? Tentu saja tidak. Kalau ia tidak tahan banting, mana mungkin ia menapak karirnya dengan sukses? Mana mungkin pula dirinya berhasil mengalahkan kelompok pro status quo dalam drama voting merger dengan Compaq melalui sebuah pertarungan yang menuntut mental baja dan energi besar.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR