Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Team Working-Synergy Meningkatkan Produktivitas

No. 23 - Februari 2006

Tahun 2006, perekonomian sudah dimulai dengan dampak kenaikan BBM yang tinggi, sehingga mengakibatkan peningkatan pada biaya produksi sebagian besar perusahaan baik produksi barang ataupun jasa. Belum lagi apabila dalam waktu dekat ini, Pemerintah menaikkan tarif harga listrik lebih dari 50 % sehingga cost of production akan lebih tinggi lagi di satu sisi, dan daya beli masyarakat akan lebih turun lagi.

Kenaikan biaya tidaklah mudah ditutupi dengan strategi menaikkan harga jual karena inflasi perekonomian juga tinggi sehingga daya beli masyarakat / pasar, menurun sekitar 20%. Sehingga tekanan biaya meninggi di sisi produsen atau supply justru dihadapkan pada penurunan daya beli di sisi demand, sehingga secara ekonomi makro, ekuilibrum harga pasar tanpa kenaikan hargapun, sudah akan menurunkan volume penjualannya. Apalagi apabila harga jual dinaikkan oleh produser, maka ekuilibrum (keseimbangan supply dan demand sehingga transaksi terjadi) akan menurun lebih jauh lagi.

Tantangan di atas tentu sangat perlu diantisipasi oleh perusahaan, di mana pada umumnya perusahaan yang sensitif struktur keuangannya atau profit margin-nya tipis, biasanya akan segera memilih policy mem-PHK-kan karyawannya, untuk mengurangi production cost. Secara strategi bisnis tentunya ada beberapa kiat lain yang bisa dilakukan untuk menghadapi peningkatan biaya produksi ini, yaitu antara lain effisiensi, mengurangi Profit Margin, meningkatkan Sales, peningkatan produktivitas melalui Team Working – synergy.

Sinergi merupakan suatu kerjasama manajemen yang menghasilkan suatu daya usaha yang optimal. Potensi ini seringkali diabaikan oleh top manajemen perusahaan ataupun pihak HRD, karena memang tingkat dan kekuatan suatu sinergi adalah sesuatu yang sifatnya intangible. Walaupun dampaknya sebenarnya dapat diukur secara jelas melalui hasil akhir dari suatu team atau divisi, yang tercatat dalam ukuran profit, atau total sales atau unit produksi dsb. Yang sifatnya tangible. Namun seringkali performance tersebut tidak dikaitkan dengan faktor kekuatan kerjasama SDM di team atau divisi tersebut.

Perusahaan umumnya berhenti pada usahanya untuk mempekerjakan staffnya yang kompeten: berpengetahuan, ahli dan kebisaan (ability). Namun kurang mengoptimalkan unsur perilaku (behavior).

Contoh: kekuatan Synergy:

Sebuah klub sepak bola telah dibentuk dengan merekrut para bintang sepakbola yang mempunyai record serta kemampuan bermain bola yang unggul dari beberapa kesebelasan kelas dunia lainnya. Setiap posisi dari mulai keeper, back, gelandang, hingga penyerang, adalah para pemain bintang dari klub asalnya. Mereka digabung dalam klub “All Stars” ini dengan suatu target tentunya untuk memenangkan pertandingan piala Eropa. Tetapi pada kenyataannya klub All Stars ini kalah dalam putaran semi final dengan klub lain yang hanya mempunyai satu atau dua star saja, tetapi mempunyai team-working yang sangat tinggi (high synergy). Negara Jepang juga dulunya terdiri dari beberapa kerajaan atau keluarga Shogun yang menjadi landlord di suatu area yang seringkali bermusuhan dengan Shogun lainnya. Dulunya mereka saling bersaing atau setidaknya tidak saling mendukung.

Namun ketika mereka telah melihat kemajuan bangsa Eropa, seperti Portugis yang sudah lebih tinggi kemampuannya antara lain dalam membuat kapal dagang & kapal perang yang lebih besar dari Jepang, maka barulah mereka sadar dan kemudian melakukan konsolidasi kerjasama semua Shogun dibawah proram Restorasi Meiji. Sejak itu sinergi yang tercipta dari bangsa Jepang telah berhasil membawa negaranya melesat melampaui kemajuan rata-rata Negara Eropa sekalipun.

Sinergi memerlukan unsur pendukung untuk mewujudkannya yaitu diantaranya: Anggota tim mempunyai behavior yang positif dan suportif: tidak egois, pasif, tertutup, atau bahkan kompetitif dan saling menjatuhkan. Setting Team Work sesuai dan strategis sehingga memberikan efek bonding, keakraban, kecocokan dan kohesiveness yang tinggi. Setting yang baik memerlukan plotting key person yang bisa melengkapi kemampuan, kecenderungan dan sifat dari suatu tim.

Anggota tim dan pemimpinnya mempunyai pengetahuan serta pemahaman mencukupi tentang bagaimana melakukan Team Working yang efektif. Team leader biasanya mampu berperan aktif dalam mengendalikan kerja keseluruhan proyek, divisi atau bahkan suatu perusahaan.

Sarana pendukung yang kondusif: fasilitas, sistem kerja yang baik, reward, punishment, dsb. Sinergi adalah suatu hidden potential yang umumnya belum digali atau dioptimalkan oleh banyak perusahaan. SDM mereka sebenarnya cukup pandai, berpengalaman dan mempunyai kemampuan individu yang baik, namun sayangnya banyak perusahaan yang level kerjasama dalam team ataupun dalam satu divisi, kurang optimal, sehingga hasil akhirnya masih di bawah potensi yang seharusnya mereka bisa capai.

Management empowerment yang biasanya diberikan pada para staf (SDM) adalah umumnya motivasi, agar semangat kerja mereka lebih tinggi lagi (lebih produktif). Ini memang salah satu motor penggerak kinerja seseorang yang harus terus dibakar. Tetapi jarang suatu perusahaan melakukan empowerment SDM dalam team working.

Karenanya tidak heran apabila ada beberapa klien perusahaan training kami (QLTC – Quantum Leap Training Consultant), yang semangat personnel sales-nya meningkat tinggi, tetapi sering ribut dengan staf divisi produksi, karena kerjasama di antara kedua divisi tersebut kurang erat. Masing-masing hanya mengejar target divisinya dan tidak mau mengerti target atau kondisi dari divisi lainnya.

Ada banyak juga perusahaan produksi barang yang seringkali mengalami keributan/ ketegangan antara divisi marketing, produksi, purchasing dan inventory, karena satu sama lain tidak bisa kerjasama. Padahal aset dari perusahaan ini sangat besar, namun ROI-nya relatif kecil (sedikit di atas % bunga pinjaman kredit Bank). Sedangkan ada perusahaan jasa trading produk barang yang sama dengan pabrik tersebut yang jumlah SDM-nya jauh lebih sedikit, juga asetnya lebih kecil, namun ROI-nya jauh lebih besar, karena omzetnya dan juga secara organisasi korporasi, perusahaan trading ini mempunyai level kerjasama yang sinergis.

Apakah perusahaan anda sudah mengoptimalkan sinergi melalui Team Working? Apabila belum, kemungkinan besar perusahaan anda dapat meningkatkan produktivitas serta profit perusahaan, tanpa investasi biaya yang besar, dan hanya melalui training untuk empowering the team working knowledge & skill dari para team leader dan juga key member dari tim / divisi yang penting di perusahaan Anda.

Ciri-ciri yang dapat menunjukkan adanya weakness dalam team working – sinergi dalam suatu perusahaan antara lain: Kinerja suatu team yang terdiri dari SDM yang bermutu tinggi (level pendidikan tinggi/ pengalaman lebih lama, lebih terampil) = tidak jauh berbeda dengan kinerja team lain yang SDM-nya biasa saja (kualifikasi atau pengalaman dibawah team pertama).

Banyak terjadi keributan antar tim/sub-divisi/ departemen. Atau banyak permasalahan yang timbul karena kurang sinkronnya komunikasi atau manajemen. Target produksi/ pekerjaan yang melibatkan beberapa subtask/ team/ divisi sering terlambat, atau bermasalah. Banyak keluhan dari staf menyangkut komunikasi atau hubungan antara kolega/atasan-bawahan.

Banyak staf yang demotivasi karena kurang dapat mengkomunikasikan pekerjaan atau rasa “self belonging” yang semakin menurun. Gairah kerja menurun karena kecenderungan individualistik yang dominan ataupun bonding dengan rekan kerja yang tidak tercipta dengan baik. Kondisi kerja cenderung menjadi kaku/ tegang. Antara lain dengan kecenderungan mencari kesalahan seseorang. Terjadi persaingan yang kurang sehat, dan ada klik (grouping) yang menang dan pihak-pihak yang tersisih.

Performance suatu tim / divisi menurun, padahal fasilitas lainnya justru ditingkatkan, dan bukan disebabkan karena faktor teknis – mesin, bahan baku ataupun faktor eksternal seperti misalnya persaingan (ada produk sejenis yang lebih murah) ataupun daya beli yang menurun. Apabila ada satu apalagi beberapa kondisi diatas terjadi di perusahaan anda, maka itu merupakan suatu – ‘signal’ tanda bahwa kemungkinan besar terjadi kelemahan dalam Team Working – synergy dalam internal manajemen perusahaan.

Untuk itu perlu segera dilakukan pembenahan dan development antara lain melalui training empowerment on team working – synergy, sebelum permasalahan tersebut menjadi lebih besar lagi pengaruh negatifnya.

Sumber: Majalah Human Capital No. 23 | Februari 2006

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green