Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Transformasi Infomedia Menuju Rp 1 Triliun

No. 17 - Agustus 2005

Tadinya dikenal sebagai penerbit Yellow Pages, kini Infomedia memiliki tiga pilar bisnis : direktori, contact center, dan penyedia konten. Sejak 2003, Infomedia mulai melakukan transformasi bisnis dengan melakukan banyak perubahan strategic. Targetnya, total pendapatan perusahaan menjadi Rp 1 triliun tahun 2006.

Tadinya dikenal sebagai penerbit Yellow Pages, kini Infomedia memiliki tiga pilar bisnis : direktori, contact center, dan penyedia konten. Sejak 2003, Infomedia mulai melakukan transformasi bisnis dengan melakukan banyak perubahan strategic. Targetnya, total pendapatan perusahaan menjadi Rp 1 triliun tahun 2006.

Sebutlah nama Yellow Pages, orang akan langsung ingat pada PT Infomedia Nusantara, perusahaan yang dimiliki 51% sahamnya oleh Telkom dan 49% oleh Elnusa. Kini, nama Yellow Pages sudah berganti dengan Buku Petunjuk Telepon (BPT). Sebagai satu-satunya produsen BPT, semestinya Infomedia melenggang mudah di pasar. Tetapi, manajemen Infomedia sadar bahwa era enak ini tidak akan selalu ada. Kemungkinan masuknya pesaing langsung dan tidak langsung tetap saja ada.

Pesaing langsung adalah perusahaan penerbit direktori sejenis atau hampir serupa, Deregulasi UU Telekomunikasi menyebabkan hadirnya operator telepon tetap selain Telkom. Data telepon akan dimiliki oleh Telkom, Indosat, dan operator baru yang besar kemungkinannya adalah pemain-pemain asing. Implikasinya, pasar layanan informasi multimedia terbuka bagi pemodal asing. “Mereka kaya pengalaman dalam menyelenggarakan bisnis Yellow Pages,” ungkap M. Gatut Awantoro, Presiden Direktur Infomedia.

Pesaing tidak langsung muncul sebagai akibat konvergensi teknologi antara industri media, telekomunikasi, dan komputer sehingga memunculkan banyak piranti baru untuk mengakses informasi, seperti ponsel, PDA, CD-ROM, Internet, dan sebagainya. Ditambah dengan kian sengitnya persaingan dalam memperebutkan kue iklan dengan berbagai media konvensional lainnya, maka tantangan bisnis yang dihadapi Infomedia jelas tidak kecil. Kondisi ini mengharuskan Infomedia untuk terus melakukan inovasi, menghasilkan produk yang berkualitas dan disukai oleh pelanggan.

Menyadari berbagai faktor intemal dan eksternal di atas, manajemen Infomedia kemudian mencanangkan program transformari bisnis pada tahun 2002. Dibantu oleh konsultan bisnis, Infomedia menyusun “Strategic Transformation Plan” (STP) 2002-2006. STP memuat roadmap yang harus dilalui Infomedia untuk mencapai tujuan transformasi bisnis, yaitu menjadikan Infomedia sebagai NationaI Leader for Multimedia Directory Based Information Service.

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh Infomedia untuk mewujudkan tujuan transformasi tersebut, mulai dari tahapan persiapan organisasi hingga tahapan ekspansi (lihat boks, red). Untuk mengawal proses transformasi bisnis tersebut, Infomedia membentuk Tim Implementasi Strategic Plan (TISTP) dengan fungsi utamanya mengawal dan mengawasi agar transformasi yang dijalankan perusahaan sesuai dengan perencanaan.

Digerogoti Pesaing

Yellow Pages muncul pertama kali tahun 1976. Sampai tahun 2002, sebelum transformasi bisnis dicanangkan, Yellow Pages merupakan satu-satunya pilar bisnis Infomedia. Dengan sendirinya. Infomedia sangat tergantung dari layanan ini. Munculnya pesaing dan perubahan lingkungan bisnis menyebabkan pasar Yellow Pages yang monopolistis mulai digerogoti pesaing. Dari sisi pendapatan, perorangan iklan Yellow Pages masih terus bertumbuh. Namun, sebagai mantan orang keuangan di Telkom, M. Gatut Awantoro yang mulai bergabung di Infomedia tahun 2003, melihat dari sisi marjin laba (profit margin) Infomedia terus menurun sejak 2000. “Ini yang tidak disadari rekan-rekan di Infomedia karena tidak pernah dikomunikasikan, ” ungkapnya.

Repotnya, Infomedia belum memiliki data pendukung bisnis yang memadai. Misalnya, data tentang pelanggan. Ibarat mau menyetir mobil, lanjut Gatut, manajemen harus punya indikator-indikator kemudi, Indikator tersebut harus disusun terlebih dahulu lantas dianalisis. Ia pun melihat bahwa ukuran perusahaan bisa lebih besar dari yang ada. “Saya mencanangkan tahun 2006, pendapatan perusahaan bisa mencapai Rp 1 triliun,” tambahnya.

Jalan untuk mewujudkan target tersebut hanyalah satu : melakukan transformasi bisnis secara total. Beruntung jajaran direksi lama sudah menyusun rencana transformasi bisnis tersebut. Gatut menilai, isi rencana transformasi bisnis tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan infomedia. Namun, rencana Gatut untuk menerapkan rencana transformasi bisnis itu malah tidak disambut manajemen Infomedia secara penuh. Ada yang mengingatkan untuk tidak menerapkan rencana transformasi bisnis itu, karena kalau gagal akan disalahkan. Gatut bergeming. “Saya malah berpikir sebaliknya. Ini adalah kesempatan bagi saya untuk meneruskan transformasi bisnis Infomedia.”

Penyebab rendahnya animo karyawan terhadap rencana transformasi bisnis adalah karena mereka merasa rencana strategik itu dibuat oleh konsultan, bukan oleh mereka. Di sinilah letak permasalahannya. Seharusnya dilakukan transfer kepemilikan rencana transformasi itu kepada karyawan sebelum konsultan pergi. Hal ini menyebabkan upaya memulai perubahan di Infomedia terasa lebih berat. Gatut menggelar training / workshop tentang rencana transformasi itu yang diikuti seluruh manajemen dan karyawan. Tujuannya untuk menyamakan persepsi di kalangan internal Infomedia sekaligus mengetahui siapa yang mendukung dan menolak rencana transformasi bisnis tersebut. Sebagai direksi, Gatut ikut acara yang berlangsung 3 hari penuh itu. Sebab ia meyakini, transformasi bisnis adalah tugas direksi.

Bagi Gatut, transformasi bisnis Infomedia tidak bisa ditawar-tawar lagi. Toh ia merasa tidak bisa menjalankan transformasi sendirian. Selain dukungan dari beberapa jajaran internal, khususnya anak-anak muda yang menginginkan perubahan, Gatut mengajak mantan dosen ITB yang menjadi konsultan manajemen perubahan, Haryanto Mangkusasono. Pak Haryanto dipilihnya bukan hanya hebat dalam mempresentasikan aspek teori perubahan, tetapi juga mempraktikkan perubahan. Setelah setahun bekerjasama dengan Haryanto, akhirnya Infomedia berhasil membuat paradigma bisnis baru. Salah satunya, paradigma perubahan yang wajib hukumnya. Tata nilai perusahaan pun diperjelas dan dipertajam seperti yang terangkum dalam budaya kerja ANTUSIAS.

Menjadi 3 Pilar Bisnis

Untuk mewujudkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan, Infomedia mengembangkan 2 pilar bisnis baru sehingga seluruhnya menjadi 3 pilar bisnis. Di luar pilar layanan direktori, kedua pilar bisnis baru itu adalah layanan contact center dan layanan konten. Layanan contact center merupakan sebuah keahlian baru yang dikembangkan perusahaan dan masih terkait dengan bisnis telekomunikasi. Menurut Gatut, manajemen direktori sangat berbeda dengan contact center – yang terakhir lebih banyak aspek teknologi informasinya. Berkembangnya CRM (Customer Relationship Management) di Tanah Air membuat layanan contact center ini berkembang sangat cepat. Dewasa ini, Infomedia menangani contact center di berbagai divisi regional Telkom dengan jumlah keseluruhan agen (karyawan yang bekerja di contact center) sekitar 2.000 orang. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah karena beberapa kantor Telkom lainnya sudah berbicara dengan Infomedia untuk outsourcing layanan ini.

Layanan konten merupakan pengembangan lebih lanjut dari layanan direktori melalui bentuk-bentuk digital. Konsultan sempat meramalkan layanan ini akan menjadi primadona Infomedia tahun 2010. Perkiraan ini diakui Gatut sulit tercapai karena kondisi lingkungan tidak mendukung. “Kecuali karena konsumen bisa mendapatkan berbagai informasi secara gratis, penghargaan konsumen terhadap informasi di sini sangat kurang,” lanjutnya.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR