Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR
Employee Brand dan Tentang Janji
No. 23 - Februari 2006
Baru-baru ini saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah workshop mengenai Employee Brand di Hong Kong. Pada saat pertama saya membaca judulnya saya sudah merasa tertarik untuk mengikuti workshop ini. Berbagai pertanyaan muncul, apa yang dimaksud dengan employee brand? apa kaitannya antara brand dengan employee?, apa ada hubungannya dengan dunia marketing? kenapa timbul istilah ini? dan banyak lagi pertanyaan yang akhirnya mendorong saya mengikuti workshop ini.
Akhirnya saya bertemu dengan Simon Barrow, yang bersama Richard Mosley adalah salah seorang penggagas dan penulis buku Employee Brand yang baru mereka terbitkan di tahun 2005. Simon mengungkapkan bahwa istilah Employee Brand ini mulai mereka pakai pada awal tahun 1990-an dan akhirnya mereka bukukan pertama kali dalam hasil riset berkolaborasi dengan London Busines School.
Ada fakta yang menurut saya cukup unik, bahwa latar belakang Simon adalah orang marketing dengan puluhan tahun pengalaman berkecimpung di dunia marketing di perusahaan-perusahaan besar seperti Unilever dan Colgate-Palmolive. Saat ini Simon menjabat sebagai CEO dari sebuah advertising agency di Liam Charles Barker Group. Sepanjang karirnya di dunia marketing Simon menemukan bahwa brand suatu product memberikan janji dan image kepada customer yang harus didukung secara konsisten dengan janji dan image di internal suatu organisasi.
Seringkali customer mampu mendapatkan kepuasan atas suatu brand secara total tanpa dengan sadar dapat memisahkan antara brand itu sendiri sebagai suatu janji kepada customer dengan layanan ataupun total image yang dicerminkan oleh organisasi dan karyawan yang bekerja di dalam perusahaan yang mendukung brand tersebut. Ambilah contoh Singapore Airlines, dimana anda akan langsung mengharapkan layanan terbaik penerbangan papan atas, dengan kualitas pelayanan yang sempurna.
Apabila karyawan Singapore Airlines tidak melakukan layanan sesuai janji brand kepada customer maka jelas hal tersebut akan berdampak langsung kepada brand tersebut. Keterkaitan ini akhirnya diakui oleh praktisi marketing – termasuk Simon – bahwa ada perbedaan nyata antara brand yang memiliki ”jiwa” karena didukung secara selaras oleh berbagai praktek HR yang secara total mendukung brand tersebut dan sebaliknya ada beberapa brand lain yang akhirnya hanya tampil sebagai nama tanpa ”jiwa” karena ketidakmampuan organisasi untuk menghidupkan jiwa janji eksternalnya kepada internal organisasi.
Mungkin ini bukan suatu hal yang baru bagi kita semua karena banyak perusahaan yang sudah melakukan penyelarasan di dalam berbagai aspek. Namun mengusung suatu brand menjadi ”top of mind” adalah jelas bukan hal yang sepele dan dapat dengan mudah diwujudkan tanpa dilandasi suatu arahan strategi.
Memberi ”jiwa” pada brand membutuhkan perjalanan panjang, melelahkan dan komitmen tinggi dari mulai top management hingga level terbawah dalam organisasi. Hasilnya dapat dilihat pada beberapa brand seperti Citibank, Singapore Airlines, Coca-Cola, Mc Donald, Levis, Guess, atau produk lokal Indonesia seperti Aqua.
”Pernikahan” dunia marketing dengan praktek human capital ini akan banyak membantu perusahaan yang terjebak hanya berorientasi kepada customer saja. Atau ada juga sebaliknya yang sibuk dengan konsolidasi internal dan melupakan customer. Suatu perusahaan yang berjanji keluar bahwa ia adalah sosok perusahaan yang menghargai kepuasan pelanggan sebaiknya mulai memperhatikan kepuasan karyawannya. Suatu perusahaan konsultan yang menyarankan berjanji kliennya untuk mencitrakan good governance tentunya tidak boleh mengecewakan karyawannya dengan memberikan kompensasi di bawah ketentuan upah minimum regional untuk karyawannya.
Akhirnya semua bermuara pada nilai universal yang melandasi perusahaan yaitu tentang integritas, tentang satunya antara kata dan perbuatan yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk secara konsiten diterapkan. Terlebih jika sudah dihadapkan kepada pilihan, seperti uang dan kekuasaan. Jika anda pernah menonton film ”Janji Joni” tentang seorang pengantar film, jelas digambarkan betapa memenuhi janji kepada customer merupakan komitmen untuk mencerminkan kesamaan antara pikiran, perbuatan dan realita. Selamat berjanji .. !
Sumber: Majalah Human Capital No. 23 | Februari 2006
portalhr.com
Artikel sebelumnya
