Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

DUTA PERTIWI : School of Property Professional

No. 11 - Februari 2005

Inilah jagoan proyek properti komersial di Indonesia. Sebut saja ITC, orang segera akan tahu eksistensi mereka. Di kalangan industri properti, PT Duta Pertiwi Tbk. sering disebut sebagai sekolahnya jago-jago properti alias school of property professional.

Nama ITC (International Trade Center) begitu dikenal oleh penduduk Indonesia, khususnya yang tinggal di Jakarta dan Surabaya. Atau mereka-mereka yang pernah berkunjung ke kedua kota besar itu. Awalnya adalah ITC Mangga Dua yang diresmikan pertama kali tahun 1989. Inilah proyek penjualan ruang ritel pertama di Indonesia yang menggunakan konsep strata title.

Sejak saat itu, muncul banyak ITC lainnya, seperti ITC Roxy Mas (terkenal sebagai pusat perdagangan ponsel), ITC Cempaka Mas, ITC Ambassador Kuningan, ITC Fatmawati Mas (semuanya di Jakarta), dan ITC Mangga Dua Surabaya (di Surabaya). Semuanya berskala besar. Saat ini, proyek komersial sejenis sedang dibangun di Depok, Pekanbaru, dan sebagainya.

Seluruh kawasan komersial tersebut berangkat dari konsep superblok yang menggabungkan pusat perdagangan, kondominium, dan perkantoran dalam satu kawasan terpadu. Pengembangan superblok telah menjadi ciri khas PT Duta Pertiwi Tbk., sebuah perusahaan properti raksasa di Indonesia yang namanya, barangkali, kalah ngetop dibandingkan karya-karyanya.Konsep superblok memungkinkan perusahaan mendapatkan marjin keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan berbagai tipe pembangunan properti lainnya, selain juga bisa mengurangi dampak negatif dari fluktuasi pasar.

Pembangunan superblok terbesar dilakukan oleh Duta Pertiwi di kawasan Mangga Dua dengan mengubah 29 ha lahan terlantar, menjadi pusat bisnis dan pemukiman di utara Jakarta.

Kecuali superblok dan proyek kondominium, anak perusahaan Grup Sinar Mas ini mengembangkan pula beberapa proyek pemukiman yang seluruhnya berlokasi di Jakarta dan kawasan sekitarnya, seperti Taman Duta Mas, Taman Permata Buana, Taman Banjar Wijaya, Kota Bunga Puncak, Kota Wisata Cibubur, dan Legenda Wisata.

Perusahaan memiliki sejumlah proyek properti berjangka panjang, seperti hotel berbintang dua Dusit Balikpapan dan Dusit Mangga Dua, dan pengembangan gedung perkantoran Plaza BII di Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Keberhasilan Duta Pertiwi tak terlepas dari inovasi dan visi bisnis mereka yang jauh ke depan. Perusahaan tercatat sebagai perusahaan pertama di Indonesia dalam banyak konsep properti yang mereka garap. Dan, hal itu hanya dimungkinkan berkat kualitas sumber daya manusia yang tinggi. "Pemilik dan manajemen menyadari modal kami adalah human capital. Tanpa orang, kami tidak berhasil," ungkap Tjahjana Widjaja, GM Corporate HRD PT Duta Pertiwi Tbk.

Posisi perusahaan yang berada di papan atas mendorong perusahaan untuk terus berupaya mempertahankan posisi di depan para pesaing. Karena posisi terdepan itu, tidak mungkin Duta Pertiwi mencari tenaga profesional dari luar karena tidak ada yang memenuhi persyaratan perusahaan.

"Kami pernah mencoba pasang iklan untuk posisi Property Manager. Tapi yang kami dapatkan, dibandingkan level supervisor di sini saja, masih kalah bagus," tutur profesional properti yang sempat 9 tahun bergabung dengan Grup Astra itu. Jalan satu-satunya bagi Duta Pertiwi adalah mencetak para profesional tersebut.

Perusahaan memiliki bagian khusus yang menangani bidang training & development dengan modul-modul yang telah dikembangkan sendiri. Kemudian perusahaan memakai pula jasa lembaga training di bawah Sinar Mas yang disebut dengan Supreme Learning International (SLI), khususnya untuk bidang manajerial. Selain harus memiliki kinerja yang baik dan ada kebutuhan organisasi, seseorang yang akan dipromosikan harus mendapat pembekalan pelatihan dari SLI.

Dengan metode seperti itu, Duta Pertiwi tidak pernah memakai jasa head hunter untuk mendapatkan tenaga manajerial. Semua karyawan yang didapat terus dikembangkan karena untuk mendapatkan tenaga spesifik di bidang properti tidaklah mudah. Sebaliknya, justru karyawan Duta Pertiwi yang banyak dibajak perusahaan pesaing dengan tawaran remunerasi yang jauh lebih menarik. Itu sebabnya, Duta Pertiwi sering dianggap school of property professional.

"Perusahaan pesaing tidak ingin pusing-pusing mengembangkan orang. Dia tinggal datang ke "sekolah"™nya," papar Tjahjana tentang alasan pembajakan oleh pesaing. Duta Pertiwi tentu tidak bisa memberikan remunerasi seperti yang ditawarkan pesaing karena telah berinvestasi banyak terhadap pengembangan karyawan. Beberapa manajer dan eksekutif akhirnya meninggalkan perusahaan, meskipun akhirnya banyak pula yang kembali. Sehingga secara keseluruhan tingkat keluar masuk karyawan relatif rendah, 1% saja.

Bisnis Duta Pertiwi yang terus berkembang dan telah terbukti sukses melewati krisis ekonomi menjadi daya tarik utama bagi 5.200 karyawan untuk bertahan. Setiap tahunnya, perusahaan memiliki sejumlah proyek untuk dikembangkan, di samping mengelola proyek properti yang sudah beroperasi. Selain di Jakarta dan sekitarnya, Duta Pertiwi memiliki pula proyek berskala cukup besar di Surabaya, Batam, Medan, dan Balikpapan. Proyek-proyek baru tersebut sangat bermanfaat menampung karyawan yang seluruhnya berstatus karyawan tetap.

Kesejahteraan karyawan salah satu yang sangat diperhatikan oleh perusahaan, kendati remunerasi Duta Pertiwi bukanlah yang terbaik di kelasnya. Dalam penggajian, perusahaan menggunakan kombinasi merit system dan lama masa kerja. Dasar sistem kombinasi ini, lanjut Tjahjana, karena orang yang sudah senior dulunya juga memiliki kinerja yang baik. Sistem penggajian ini berlaku untuk semua level. Perusahaan berencana untuk mengkombinasikan sistem remunerasi tersebut berdasarkan kompetensi, meskipun saat ini baru pada tahap sosialisasi.

Pola remunerasi Duta Pertiwi cenderung bersifat clean wages di mana gaji tidak lagi dibagi dalam banyak komponen. Semua yang diterima karyawan sudah bersifat all in, kombinasi gaji tetap dan gaji variabel. Komponen yang terpisah hanya tunjangan kesehatan, lembur, kacamata, dan melahirkan hingga anak ketiga.

Bagi manajer ke atas, perusahaan menyediakan fasilitas kendaraan yang tidak menjadi milik pribadi. Sejak 2003, sistem ini dimodifikasi. Level General Manager ke atas tetap seperti itu, dan untuk level manajer diberi tunjangan transportasi sebagai pengganti. Tunjangan itu terserah kepada penerima, mau untuk mencicil mobil atau naik taksi.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR