Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Kiprah Para Pengajar ESQ

No. 12 - Maret 2005

Tingginya minat para profesional, praktisi bisnis, dan masyarakat umum terhadap metode pelatihan ESQ, telah memunculkan fenomena tersendiri. Secara berseloroh, seorang direktur SDM di perusahaan terkemuka di Indonesia mengungkapkan, suatu saat bukan tidak mungkin bahwa tokoh spiritual akan lahir dari kalangan perusahaan, bukan dari lembaga keagamaan. Hal itu sejatinya sudah mulai terjadi dengan munculnya Ary Ginanjar Agustian atau Toto Asmara. Sebelum terjun total di bidang pencerahan jiwa, keduanya dikenal sebagai eksekutif di perusahaan mapan.

Terlepas dari ucapan tersebut serius atau sekadar bercanda, faktanya gairah untuk mencari ketenangan batin, kini memang semakin santer. Mereka rajin mengikuti ceramah, seminar, atau membaca buku yang ditulis oleh para pengajar dan penganjur spiritualitas. Berikut sekilas profil mereka:

Abdullah Gymnastiar

Nama Aa Gym sangat populer dan pernah menjadi kandidat calon presiden pada Pemilu 2004 lalu dalam sejumlah poling. Padahal Aa Gym bukanlah seorang tokoh satu partai politik. Sebagai penceramah pun dia jarang sekali menyentuh sisi politik praktis. Satu-satunya aktivitas sosial berdampak politis yang pernah dia lakukan adalah berkunjung ke daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah. Di hadapan jemaah Islam dan Kristen, kyai berbekal ilmu laduni ini berceramah di Masjid Agung Darussalam, Palu, disambut penuh haru disertai tetesan air mata.

Tingginya keinginan masyarakat menempatkan Aa Gym sebagai calon presiden dalam sejumlah poling barangkali dimaksudkan untuk menutupi sisi ruang kosong yang disisakan sejumlah kandidat yang nyata-nyata telah menunjukkan ambisinya merebut kursi kepresidenan 2004 itu. Namun, beruntunglah, Aa Gym tidak benar-benar menjadi presiden sehingga bisa lebih berkonsentrasi mengembangkan dan menularkan pemikirannya melalui Management Qalbu.

Manajemen Qalbu yang dibawakan Aa Gym sesungguhnya sederhana saja. Yakni sebuah konsep baru Syiar Islam yang menawarkan diri untuk mengajak orang memahami hati atau qalbu, diri sendiri, agar mau dan mampu mengendalikan diri setelah memahami benar siapa dirinya sendiri. Menurut dia orang sering lupa terhadap diri sendiri. Bahkan, orang selalu menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu pada dirinya.

Sebaiknya setiap orang harus sadar bahwa semua yang terjadi dan bakal terjadi bermula dari diri sendiri. Jika ingin jadi baik tentu harus berbuat baik. Jadi harus lebih dulu mengenali dan memahami diri sendiri.

Menurut Aa, manusia berkualitas adalah manusia yang mengabdikan diri kepada Tuhan dan mampu membawa manfaat kepada manusia di sekitarnya. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas. Salah satunya adalah dengan mengelola Yayasan Pesantren Daarut Tauhid .Melalui yayasan itu, pria kelahiran Bandung, 29 Januari 1962 itu berharap mampu memberikan yang terbaik kepada para santrinya.

Aa menjelaskan bahwa yayasan yang membawahi 19 perusahaan itu lebih menitikberatkan pada manfaat bisnis seperti membuka lapangan kerja. Selain itu, tempat tersebut juga menjadi wahana untuk mempraktikkan jiwa dan pendidikan wirausaha yang tentu saja didasari kejujuran. la ingin memberi contoh kepada masyarakat bahwa usaha yang didasari kejujuran juga bisa berhasil. "Dengan jujur juga bisa kaya," seloroh Aa dalam wawancara khusus dengan SCTV, beberapa waktu lalu.

Lebih jauh, Aa berharap Daarut Tauhid bisa menjadi proyek percontohan pembangunan Tanah Air. Kerangka besarnya adalah menjadikan Indonesia menjadi negara terhormat. "Besar harapan dunia akan melihat indahnya Islam di Indonesia," ujar Aa. Daarut Tauhid sebagai miniatur Indonesia menjalankan prinsip 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai dari sekarang) untuk mencapai tujuan.

Untuk mencapai tujuan mulia itu, Indonesia memerlukan adanya grup keteladanan pemimpin yang bisa mengayomi seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, pendidikan dan pelatihan (diklat) yang berkesinambungan diperlukan untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas. Produk diklat itu nantinya harus didukung sistem yang kondusif agar tidak melenceng.

Sebagai cnntoh, ia menceritakan transisi dirinya saat memutuskan untuk menjadi dai. Saat berusia 24 tahun, ia terenyuh melihat adiknya yang lumpuh akibat penyakit. Dengan kemampuan fisik yang terbatas, sang adik lebih taat beribadah dibandingkan dengan dirinya yang sehat. Terlebih dengan ketenangan sang adik dalam menjalani hidup meski kematian seolah dekat dengannya. "Sehebat apa pun Aa punya apa, tidak akan punya ketenangan sebelum mengenal Allah dengan baik. Sehebat apa pun Aa punya prestasi, tidak akan mencapai puncak kemuliaan sebelum Aa mengenal Nabi Muhammad dan meniru kehidupannya," ungkap lulusan D-3 Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.

Setelah itu, ia memutuskan belajar agama ke beberapa pondok pesantren dan ulama. la pernah mengenyam pendidikan agama di Pesantren Miftahul Huda di Manonjaya, Tasikmalaya, Jabar, dan A1engan Junaidi di Garut, Jabar. Perjalanan spitualnya itu pula yang mempertemukan Aa dengan sang istri Ninih Muthmainah Muhsin.

Kini, Aa Gym telah dikenal luas sebagai seorang dai atau penceramah kondang. Bahkan sosoknya terkenal hingga ke mancanegara. Pria yang enggan disebut sebagai ulama ini tampil di acara Sixty Minutes di Televisi CBS Amerika Serikat. Bahkan, Koran New York Times dan Majalah Time juga sempat menyajikan profil Aa Gym, berikut pandangan-pandangannya. Kesibukannya pun tak kalah padat. Dalam sebulan, pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid ini bisa mendapat 30 ribu undangan ceramah.


Ary Ginanjar Agustian

Ary Ginanjar Agustian bukanlah ahli manajemen. Lelaki kelahiran Bandung tahun 1965 itu bukan pula guru besar di bidang tata kelola perusahaan. Namun, ceramahnya di berbagai tempat di Indonesia sangat memancing animo ratusan bahkan ribuan orang yang sebagian besar adalah praktisi bisnis dan eksekutif perusahaan mapan. Kemampuannya dalam bidang pelatihan Sumber Daya Manusia sungguh sangat luar biasa. Padahal, ia bukanlah seorang psikolog atau ulama jebolan pesantren.

Ary Ginanjar, lulusan Universitas Udayana, Bali dan di Tafe College, Adelaide, South Australia ini pernah menjadi pengajar tetap di politeknik Universitas Udayana, selama lima tahun. Sedangkan pengetahuan agamanya diperoleh melalui metode "kemerdekaan berpikir" selama 10 tahun atas tuntunan KN. Habib Adnan, ketua majlis ulama Bali pada saat itu. Kini, ia adalah Presiden Direktur PT Arga Wijaya Persada, dan Komisaris utama PT Arsa Dwi Nirmala yang berkedudukan di Jakarta. Disamping itu di sejumlah organisasi, ia adalah eksekutif Vice President di JPC (Jakarta Professional Chapter) pada Junior Chamber International, suatu organisasi leadership international yang berada di 124 negara.

Tentu saja bukan lantaran jabatan dan perusahaannya itu yang membuat lelaki sederhana ini begitu digandrungi. Renungannya tentang Rukun Iman dan Rukun Islam telah melahirkan karya yang sangat fenomenal, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Bukunya menjadi Best Seller, dan telah dicetak ulang sampai 16 kali.

Sukses buku pertamanya dilanjutkan dengan buku kedua: Rahasia Sukses Membangkitkan, ESQ Power. Dalam kurun waktu lima bulan sejak Januari 2004 lalu telah naik cetak sebanyak lima kali. la kemudian mendirikan ESQ Leadership Center (ELC). Lembaga ini ditujukan mengasah keterampilan melalui training tentang kecerdasan emosi dan spiritual (Emotional Spiritual Quotient- ESQ).

Pelatihan lembaga tersebut ternyata memperoleh respon yang luar biasa. Tidak hanya di Jakarta tapi juga di berbagai daerah. Karenanya kemudian dia harus melakukan dakwah keliling ke beberapa kota, seperti Makasar, Medan, Pontianak dan berbagai kota lainnya. Di Jakarta, Ary diundang/diminta untuk memberikan ceramah tidak kurang dari 2-3 kali dalam sehari. Beberapa eksekutif yang pernah mengikuti training ESQ mengakui bahwa materi yang disampaikan Ary Ginanjar sangat spesifik, unik, menarik dan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

Dalam dua buah bukunya, Ary dengan bahasa yang lugas telah mengantarkan pembacanya untuk menguak tabir rahasia tentang adanya korelasi yang sangat kuat antara dunia usaha, profesionalisme dan manajemen modern, dalam hubungannya dengan intisari al-Islam, yaitu rukun Iman dan rukun Islam. Pemahaman dan pendalaman kedua unsur inti ini, telah melahirkan sebuah pemikiran baru yang segar.


Gede Prama

Di kalangan praktisi bisnis, apa yang selama ini diajarkan Gede Prama juga bisa disebut sangat kuat mengandung ESQ. Menurut Gede Prama, manajemen sebagai praktek riil pada dasarnya memiliki dua muka, yakni teknik dan spirit. Teknik tanpa spirit yang memadai, mirip dengan pedang tanpa tuan. la bisa menimbulkan luka di mana-mana. Sebaliknya, spirit tanpa teknik, hanyalah doa tanpa langkah nyata.

Dengan jalan berfikir seperti itu, Gede Prama mengajak kita memperlakukan "kekacauan" sebagai sahabat, bukan musuh. Dia mengajak kita membongkar pola pikir yang selama ini kita anut - keluar dari kerutinan berpikir, berpikir tanpa batas, berimajinasi bebas. Dengan pola pikir baru, dan kadang aneh bahkan gila ini, kita justru dapat memanfaatkan "kekacauan" sebagai peluang dan titik pijak baru. Gede menawarkan gaya manajemen berbasiskan kekacauan untuk mengahadapi dan keluar dari situasi sulit.

Menurut Gede Prama, kekacauan tidak perlu disikapi dengan kesedihan. Kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan. Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan,semakin sering kesedihan berkunjung. Dalam peradabar manusia, kesedihan berdiri sebagai musuh atau penyakit yang menakutkan. Amat dan teramat sedikit orang yang merindukan kesedihan. Sehingga bisa dimaklumi, kalau kemudian kesedihan duduk dalam kursi musuh yang hanya layak ditakuti. Padahal, kata Gede Prama, kekacauan dan kesedihan justru bisa menjadi titik pangkal untuk menuju dunia baru yang lebih damai.

Pemikiran Gede Prama banyak tertuang melalui artikei di berbagai media cetak, ceramah maupun buku. Melalui lembaga yang didirikannya pada tahun 1993, yakni Dynamics Consulting, ia menularkan gagasannya tentang pengelolaan perusahaan dan Sumber Daya Manusia. Pada awalnya, lembaga ini diposisikan sebagai mitra pelatihan, kemudian berubah menjadi mitra perubahan.

Di bawah pimpinan Gede Prama, Dynamics Consulting memiliki jejaring yang semakin kuat dari hari ke hari. Awalnya hanya dipercaya perusahaan menengah lokal seperti Air Mancui kemudian bergerak menjadi mitra terpercaya Unilever, RCTI. Citibank, BCA, Microsoft, dan IBM. Sebagian menunjuk DC sebagai Konsultan Manajemen, sebagian lagi meminta kami menjadi narasumber terpercaya.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green