Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR
Inovasi Mengatasi Krisis
No. 22 - Januari 2006
Di masa-masa pemulihan krisis, perusahaan menghadapi kondisi lingkungan internal dan eksternal yang sangat berbeda dibandingkan dengan kondisi sebelum krisis. Strategi bisnis yang berhasil diterapkan tahun 90-an kini sudah tidak bisa lagi dipakai. Fakta ini mendorong Accenture untuk melakukan studi "Innovating for the Upturn" beberapa tahun lalu, namun hasilnya masih sangat relevan untuk menjadi acuan bagi pemimpin-pemimpin bisnis masa kini karena pemulihan krisis masih perlu untuk diperjuangkan terus, khususnya di Indonesia. Studi ini diadakan terhadap 100 perusahaan global di berbagai wilayah. Berikut adalah kesimpulan umum studi tersebut :
1. Kini bukan waktunya untuk melakukan “wait and see"
Kini bukanlah waktu untuk menunggu dan melihat apa yang terjadi, yakni berharap bahwa semua akan membaik dengan sendirinya. Hanya perusahaan yang bertindak saat ini - khususnya bagi perusahaan yang menjadikan inovasi sebagai penekanan utama di setiap aspek bisnis mereka - yang akan berhasil di masa depan.
Kesimpulan utama ini diperoleh setelah menganalisis perusahaan-perusahaan yang menghasilkan kinerja melebihi pesaing bisnis dalam industri yang sama setelah resesi 90-an. Perusahaan-perusahaan itu sukses dengan mengabaikan kebijakan konvensional yang biasa diambil pada masa resesi dan pemulihan seperti pemotongan biaya, tidak mengambil keputusan strategis, menunda investasi, mundur dari pasar utama. Bahkan terkadang mereka melakukan hal yang berlawanan.
Memanfaatkan ekonomi yang menurun atau dalam tahap awal pemulihan, mereka melakukan eksperimentasi dengan model-model bisnis baru, melakukan akuisisi strategis, mengembangkan pasar baru atau ceruk pasar baru, dan membangun hubungan lebih erat dengan seluruh stakeholder perusahaan : karyawan, pemasok, pelanggan, dan sebagainya.
Contoh :
- Southwest Airlines Awal tahun 90-an, perjalanan udara di Amerika Serikat sangat terpengaruh akibat Perang Teluk. Jumlah penumpang turun drastis. Saat perusahaan penerbangan lain melakukan aksi penghematan, Southwest Airlines melihatnya sebagai kesempatan untuk melakukan investasi baru dengan mengembangkan rute baru dan operasional perusahaan.
- eBay Berhasil mengidentifikasi nilai tambah dengan menjual inventori berlebih dari perusahaan lain melalui internet.
- Bradford and Bingley Kelompok keuangan asal Inggris, mengubah diri dari lembaga pembuat hipotek sendiri menjadi distributor beragam produk keuangan dari pemasok berbeda.
- Hang Seng Bank Berhasil mencatat pertumbuhan kinerja yang mengesankan dengan melakukan inovasi dalam hubungannya dengan nasabah. Mereka memutuskan untuk memperdalam hubungan tersebut melalui pengembangan beragam solusi keuangan one stop seperti mengintegrasikan rekening, memperkuat segmentasi dan cross selling, meluncurkan layanan baru macam prestige banking (untuk pelanggan bernilai tinggi), femina banking (mengintegrasikan rekening untuk nasabah wanita), dan ezLink financial services (integrasi rekening untuk mereka yang sering melakukan perjalanan dari Hongkong ke dataran China).
2. Pemulihan tampaknya tidak akan kembali pada posisi “business as usual"
Para pemimpin yang berharap bahwa perbaikan ekonomi akan membawa kembali kepada bisnis ke posisi sediakala - yaitu pertumbuhan yang tinggi pada awal 90-an - kemungkinan akan kecewa. Terlalu banyak yang telah berubah : kecurigaan terhadap bisnis semakin bertumbuh, munculnya ketidakpastian terutama di bidang politik, munculnya kegelisahan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek. Dengan demikian, kita tidak dapat begitu saja mengadopsi pendekatan masa lalu untuk kepentingan sekarang. Namun, bukan berarti pengalaman dan pelajaran yang diperoleh saat periode boom (bullish) tidak lagi relevan. Sebaliknya, kemampuan untuk memahami nilai-nilai pemicu jangka panjang dan mengaplikasikannya dalam kondisi terbaru menjadi hal yang menentukan keberhasilan di masa depan.
3. Bisnis harus tetap fokus pada pemicu fundamental dari penciptaan nilai
Situasi politik dan ekonomi saat ini sangat mempengaruhi persepsi kita tentang periode boom pada 90-an, namun faktor fundamental dalam menciptakan nilai dalam bisnis tetap berlaku dan semakin penting, yaitu pasar, aset, dan kepemimpinan. Globalisasi bisnis sangat mungkin mempengaruhi kemampuan bisnis merespon ketidakpastian sehingga mengabaikan faktor-faktor utama penciptaan nilai dan penentu keberhasilan di masa datang. Para pemimpin harus mampu mengadaptasikan diri terhadap kondisi bisnis yang senantiasa berubah itu.
Pasar : mencari pasar baru membutuhkan kemampuan khusus dari perusahaan dan keseimbangan antara lokal dan global.
Aset : dalam lingkungan yang tidak pasti dan cepat berubah saat pemulihan, kemampuan untuk menata ulang dan mengelola aset - manusia, infrastruktur, teknologi, modal intelektual, dan kompetensi khusus - secara cepat dan tepat akan sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Aliansi dan kerjasama yang tepat akan menciptakan fleksibilitas lebih tinggi.
Kepemimpinan : tantangan bagi para pemimpin adalah memperbaiki hubungan dengan stakeholder internal dan eksternal (investor, pegawai, komunitas lokal, dan masyarakat secara umum). Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan bisnis, termasuk upaya menurunkan tegangan akibat pemotongan biaya agar mampu bertahan hingga masa pemulihan, dan sekaligus menstimulasi kreativitas serta energi yang dibutuhkan untuk berhasil.
4. Melakukan lima tindakan untuk pertumbuhan jangka panjang
Para pemimpin saat ini berhadapan dengan beragam permintaan yang bertentangan - antara tekanan jangka pendek dan strategi jangka panjang ; antara pengendalian organisasi dan kebebasan ; antara tekanan internal dengan keinginan dari luar. Kemampuan mengelola berbagai tuntutan dan tekanan tersebut sangat menentukan keberhasilan di dalam masa pemulihan.
Penelitian Accenture mengindentifikasi lima kunci imperatif bagi pemimpin untuk berhasil memulihkan bisnis perusahaan. Pilihan ini harus disesuaikan dengan sejarah dan kondisi masing-masing perusahaan.
a. Berada di depan yang lain
Perusahaan yang berhasil di saat resesi memiliki keberanian untuk beda. Mereka tidak takut memotong biaya yang diperlukan untuk memperbaiki efisiensi bisnis, namun tetap menyadari pentingnya berinvestasi untuk penciptaan nilai jangka panjang. Mereka melihat masa penurunan ekonomi tepat untuk berinvestasi strategis, mengambil alih aset saat harganya murah.
Contoh : Southwest Airlines.
Sebagaimana disebutkan di atas, perusahaan ini mengambil rute baru dan mengembangkan operasionalisasi di awal 90-an. Saat ini kita melihat penerbangan murah di Eropa dan Asia berkembang dan meraih keuntungan dengan mengikuti strategi yang sama. Mereka mengambil alih aset untuk berada di depan saat pemulihan terjadi.
b. Membangun kekuatan dengan fleksibilitas
Artikel sebelumnya
