Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Bukan Menggantang Asap - PT. Unilever

No. 12 - Maret 2005

Keberadaan kecerdasan spiritual baru-baru ini dirasakan cukup menggebrak dunia usaha di Indonesia. Namun demikian, ternyata PT. Unilever telah melakukan beberapa gebrakan yang sejalan jauh sebelum munculnya pelatihan-pelatihan mengenai kecerdasan spiritual saat ini.

Tanpa menyadari akan munculnya tren kecerdasan spiritual sekarang ini, PT. Unilever, dengan istilah yang berbeda, telah mengembangkan tren 'bekerja dengan hati' yang ternyata sejalan dengan praktek dari kecerdasan spiritual yang berkembang.

Mulanya perusahaan tertarik untuk mengetahui bahwa dari sekian banyak karyawan, ada yang sangat menyukai pekerjaaan mereka sehingga mereka bekerja habis-habisan ada juga yang biasa saja, padahal pada saat perekrutan mereka semua mempunyai kualifikasi yang sama, memiliki tingkat intelegensi yang sama tetapi ada yang memiliki passion begitu hebat terhadap pekerjaannya.

Joseph Bataona, HRD Direcetor PT. Unilever mengatakan bahwa perusahaan mencoba untuk meneliti mengenai hal tersebut di atas dan ternyata mereka menemukan beberapa istilah dalam kepustakaan dan dalam kenyataan itu berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama.

Empat atau lima tahun yang lalu, Unilever mencoba me1akukan sebuah survey untuk mengetahui hal-hal apa yang bisa rnembuat kita menjadi satu seperti sekarang dan mempunyai keinginan yang sama untuk membangun perusahaan ini. "Saya tidak tahu apakah kata spirit di sini sama dengan kata spiritual dalam kecerdasan spiritual, dan apa yang kita temukan lalu di visualisasikan," ujarnya.

Pada prakteknya, Unilever mempunyai apa yang disebut sebagai winning strategy, winning spirit dan winning team. Unilever memiliki visi yang terfokus pada customer, consumer dan community. Maka dijelaskan pada karyawan jika semua pihak dapat terfokus pada visi itu maka apapun halangan yang datang tidak akan menggoyahkan perusahaan. Dan yang bisa membuat semua terfokus pada visi itu adalah apa yang disebut sebagai spirit. 

Selanjutnya perusahaan mencoba mengembangkan hal itu dengan mencoba mendengarkan pembicaran sehari-hari karyawan baik di kantin maupun koridor, dan ternyata mereka seringkali menyentuh apa yang disebut sebagai balanced life. Lalu Unilever mencoba membuat survey pendek dengan dua pertanyaan yaitu apakah hal yang terpenting dalam hidup dan apa yang sudah dilakukan untuk mencapainya. "Nah cara untuk menemukan jawabannya adalah dengan menyadari apa yang menjadi panggilan dalam hidupnya," ujar Joseph.

Perlu disadari bahwa karyawan adalah manusia yang memiliki hati dan juga pikiran. Setiap kali perusahaan mengirimkan karyawan untuk training itu berarti mengembangkan pikiran mereka, tetapi perusahaan juga harus menyentuh hati mereka. Oleh karena itu Unilever juga melakukan pelatihan yang disebut "Engaging Mind and Heart".

Unilever juga menggunakan buku 8 Habits sebagai panduan dalam menjalankan programnya. Buku 8 Habits, mengatakan untuk mencari panggilan apa dalam diri seseorang itu sendiri yang akan membuat orang tersebut melangkah maju, setelah menemukan panggilan itu, maka orang tersebut diharapkan dapat mempengaruhi orang lain untuk menemukan panggilan mereka. Hal ini dapat diimplementasikan dalam sebuah forum yang akan membentuk sebuah tim yang sangat kompak dalam bekerja dan membangun perusahaan.

Dikatakan Joseph, melalui 8 Habits dapat dilakukan pembangunan manusia seutuhnya. Di sini yang dibicarakan adalah mengenai visi, ketika seorang karyawan datang ke tempat kerja, visi karyawan adalah 'dibayar'. Namun ternyata tidak hanya itu, berkembanglah kebutuhan yang lainnya yaitu dibayar dengan layak, diperlakukan dengan layak dan diperlakukan dengan penuh daya guna.

Dengan demikian karyawan akan merasa dihargai dan akan bekerja dengan menggunakan hati. Karena dengan program-program yang dilakukan Unilever berusaha untuk menyentuh hati karyawannya. Mereka akan bekerja dengan penuh semangat bahkan mungkin tanpa mengenal waktu sehingga tidak perlu diragukan lagi loyalitasnya.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green