Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Mengadopsi Nilai-nilai Spiritualisme 4

No. 12 - Maret 2005

Kecerdasan spiritual berbeda dengan kecerdasan emosional, namun keduanya bisa saling memperkuat. Tantangan terbesar adalah bagaimana kecerdasan spiritual ini menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya manusia organisasi. Sebab yang selama ini dikenal hanya kriteria-kriteria berdasarkan kecerdasan emosional.

LPPM
KECERDASAN SPIRITUAL MEMADUKAN SEMUA KECERDASAN MANUSIA

Pada dunia sumber daya manusia Indonesia saat ini, berkembang suatu hal yang mungkin sebenarnya tidak tergolong baru, yaitu pertimbangan akan pentingnya kecerdasan spiritual bagi perkembangan karyawan dan perusahaan yang terkait. Pelatihan mengenai kecerdasan spiritual yang kini tengah gencar digaungkan dan diharapkan dapat membawa dampak positif bagi semua pihak.

Pada awalnya banyak kalangan yang hanya mempertimbangkan kecerdasan intelektual yang seringkali dilakukan pengukurannya oleh berbagai pihak dan dikenal dengan IQ (Intellectual Quotients). Mereka menganggap bahwa kecerdasan intelektual sudah dapat menjamin keberhasilan seseorang untuk ikut membantu mengembangkan perusahaan tempat mereka bekerja, tanpa disadari masih banyak hal yang mempengaruhi hal tersebut.

Nina Insania K. Permana, Kepala Divisi Assessment Center LPPM mengatakan bahwa ramainya upaya penerapan kecerdasan spiritual, baru dilakukan pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir saja. Menurut Nina, sebenarnya, pencarian kecerdasan spiritual berkembang pada saat seseorang merasakan 'hampa' artinya 'kebahagiaan' yang sebenarnya dalam kehidupan belum dirasakannya. Orang tersebut masih mencari apa sebenarnya makna hidup dan bagaimana memaknai hidup sehingga benar-benar memberikan kebahagiaan sejati.

Hal ini, masih menurut Nina, sebenarnya sudah dirasakan oleh berbagai generasi manusia jauh sebelum teori SQ yang kini populer. Sebagai contoh, buku-buku Al Ghazali, para sufi, maupun Dalai Lama telah banyak mengulas berbagai hal tentang proses transformasi hati, diri maupun jiwa dalam meraih cinta dan kebahagiaan sejati dengan keimanan pada Ilahi.

Menurutnya, pemberian label kecerdasan spiritual baru populer pada tahun 90-an ini, ternyata belum mampu menjelaskan tuntas tentang kebahagiaan seutuhnya. Ternyata, dalam kecerdasan emosional yang lebih membahas hubungan manusia dengan manusia lainnya, pada prakteknya dalam kesuksesan dan kebahagiaan bukanlah semata-mata diraih melalui otak maupun emosinya saja, tetapi perlu dilingkupi dengan kesadaran akan makna serta nilai-nilai yang hakiki, yang lebih dibahas dalam kecerdasan spiritual.

Krisis moneter, bencana alam yang terjadi dalam lima tahun terakhir ini, termasuk tsunami yang melanda Aceh dan Sumatera Utara maupun di negara lainnya, membawa manusia pada suatu kenyataan bahwa walaupun dengan kemajuan teknologi yang maha canggih dan berkembangnya peradaban sebagai manusia modern yang telah menikmati berbagai kemudahan, serba ada dan instant namum di sisi lain ada sesuatu yang 'hilang' dalam diri manusia. Manusia angkuh, merasa percaya diri bisa melakukan apa yang diinginkannya, namun saat alam dengan kehendak-Nya menyajikan bencana, betapa kita merasa tak berdaya. Terasa kekeringan secara spiritual telah membuat diri manusia 'lupa' pada satu hal di mana sebagai manusia sesungguhnya, kita perlu cerdas secara spiritual.

Mengacu pada konsep yang dikemukakan Danar Zohar dan Dr. Ian Marshall mengenai kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) yaitu kehampaan secara spiritual terjadi sebagai produk dari IQ yang tinggi. Semakin banyak orang yang pintar namun semakin banyak masalah yang timbul, karena tidak diiringi dengan kebijaksanaan. Dalam hal ini, kecerdasan spiritual dapat memadukan semua kecerdasan manusia dan membuat manusia menjadi utuh secara intelektual, emosional maupun spiritual.

Hal yang menarik dari konsep SQ ini, menurut Nina adalah adanya penjelasan yang sangat ilmiah dari sudut pandang neuropsikologi, yaitu adanya 'God spot' pada otak manusia. Melalui simbol bunga teratai yang banyak dipergunakan dalam upacara ritual dan simbol keagamaan Timur dijadikan ilustrasi oleh Danah Zohar. Manusia digambarkan memiliki tiga lapisan yang mempengaruhi proses dinamika intelektual-mental spiritualnya.

Lapisan pertama, yang terdapat di sisi luar (bagian daun) disebutnya sebagai 'lapisan pinggir ego' (rasional). Lapisan kedua, yang terdapat di tengah, adalah lapisan penghubung asosiatif (emosional). Lalu, di bagian pusat, lapisan ketiga, adalah pemersatu (spiritual). Dengan gambaran seperti ini mereka ingin menyatakan bahwa manusia jelas-jelas berpikir bukan hanya dengan otak tetapi juga dengae emosinya (EQ) yang akhirnya perlul dilingkupi dengan kesadaran akan makna serta nilai-nilai yang hakiki (SQ).

Keberadaan kecerdasan spiritual ini mulai dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan yang menganggap hal ini memang penting. Namun dikatakan Nina, bahwa proses penanaman kecerdasan spiritual akan lebih baik dalam bentuk pembelajaran melalui pengalaman. Hal ini bukanlah sesuatu yang harus masuk dalam kurikulum pengajaran berbasis kompetensi dalam pendidikan formal. Penanaman nilai-nilai moral dan pengembangan aspek kecerdasan spiritual ini akan jauh lebih berdampak tinggi bila ditanamkan sejak dini (masa kanak-kanak) dan terus menerus sejalan dengan usia.

"Program training formal yang tiga hari hanyalah baru pada tahap 'awareness' saja yang masih perlu ditindaklanjuti dengan perilaku dan tindakan nyata serta evaluasi secara rutin untuk mengasahnya," kata Nina. "Selain itu, penanaman SQ secara langsung juga agak sulit, karena dalam hal ini perlu dikaitkan langsung dengan hal-hal praktis yang ditemui dalam kehidupan," terangnya lagi.

Menurut Nina, kecerdasan spiritual ini lebih banyak dipengaruhi oleh aspek eksternal, dalam hal ini lingkungan. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut juga dipengaruhi oleh aspek bawaan, karena dalam perilaku atau tindakan seseorang dipengaruhi oleh aspek hormonal maupun genetik.

Untuk mempermudah pemahaman semua pihak bila kecerdasan spiritual dikaitkan dengan aspek yang langsung berkaitan dengan perilaku yang tercermin dari kecerdasan emosi. Oleh karena itu, menurut Nina, berkembanglah ESQ yang merupakan perpaduan antara EQ dan SQ.

Dalam perjalanannya, ESQ memiliki dampak positif terhadap pengembangan dan kinerja seseorang dalam organisasi atau perusahaan. Umumnya orang yang cerdas secara emosional dan spiritual lebih dapat diandalkan sebagai pribadi atau karyawan ataupun pimpinan. Selain itu, kinerjanyanya juga relatif memuaskan. Karena itu, dalam saran pengembangan kompetensi seseorang kerapkali Nina menyarankan upaya-upaya peningkatan ESQ dalam perilakunya sehari-hari agar bisa memenuhi standar kompetensi yang dituntut organisasi atau perusahaan maupun secara pribadi dalam mencapai tujuan hidupnya.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green