Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Mengadopsi Nilai-nilai Spiritualisme 3

No. 12 - Maret 2005

Kecerdasan spiritual berbeda dengan kecerdasan emosional, namun keduanya bisa saling memperkuat. Tantangan terbesar adalah bagaimana kecerdasan spiritual ini menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya manusia organisasi. Sebab yang selama ini dikenal hanya kriteria-kriteria berdasarkan kecerdasan emosional.

Daya Dimensi Indonesia
BUILDING TRUST BERBASIS PADA KECERDASAN SPIR ITUAL

Kecerdasan spiritual atau SQ, tak lepas kaitannya dengan Yang Maha Kuasa. Segala tindak tanduk manusia di muka bumi ini, selalu berkaitan dengan Yang Di Atas. Dalam
SQ, kejujuran adalah kunci utama seseorang baik dalam pergaulan maupun dalam pekerjaan.

Menurut Sintawati Putri, salah seorang Senior Consultant Daya Dimensi Indonesia (DDI), apapun yang dikerjakan seseorang, ia meyakini bahwa Tuhan akan selalu melihatnya. "Apa saja yang kita lakukan adalah untuk Tuhan. Semua yang kita kerjakan berdasarkan nilai-nilai llahi. Kita diingatkan bahwa hubungan kita juga harus ke atas, tidak hanya ke samping," tukas Sinta, panggilannya. Apa yang dilakukan manusia tersebut muncul dalam bentuk perilaku (EQ) sehingga tak heran jika SQ dan EQ, sangat erat kaitannya. "Apa yang dimunculkan dalam perilaku juga berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan," paparnya.

Dimensi-dimensi yang ada di DDI selama ini sebagian besar lebih kepada pengukuran EQ. Diakui, kecerdasan intelektual (IQ), hanya 20% berperan dalam keberhasilan seseorang, sedang sisanya dimiliki EQ. "Sekarang ada SQ yang sebenarnya lebih terkait pada EQ," tutur Sinta sambil menambahkan bahwa sejak tahun 1980-an, semacam SQ seperti manajemen etik dan etika sudah ada di Amerika Serikat.

DDI sendiri memiliki satu dimensi yang disebut building trust,yang terkait erat dengan SQ. Building trust adalah membangun kepercayaan bagi orang lain. Salah satu perilaku kunci dalam building trust adalah operate with integrity. Di dalamnya terdapat demonstrates honesty, keeps commitments, dan behaves in a consistent manner. "Cuma, memang tidak bisa mengukur kejujuran 100%," lanjutnya. DDI bisa mengukur hal tersebut sehingga bisa tampil dalam diri si peserta. "Kalau orang sudah terinternalisasi, sudah pasti operate with integrity-nya bagus. DDI sudah memikirkan bahwa itu adalah SQ, tapi metode DDI lebih kepada perilaku," tukas Sinta antusias.

Berapa lama seseorang bisa mempertahankan kesadaran diri sendiri tentang spiritual ini, menurut Sinta, bukan tergantung dari pelatihan spiritual yang kita lakukan. Justru jawabannya adalah dengan berdoa atau sembahyang. "Kalau di Islam ada Shalat. Dalam membaca Bismillah saja, artinya adalah Atas Nama Tuhan. Jadi, apapun yang kita lakukan adalah atas nama Tuhan. Itu maknanya berat sekali. Itu juga cara untuk me-maintain integritas kita," imbuh wanita yang pernah mengikuti kegiatan ESQ milik Ary Ginanjar beberapa waktu lalu.

Dikatakan lebih lanjut, jika seseorang berbeda apa yang diucapkan dengan yang dilakukan, maka integritasnya menjadi nol. Namun, apakah spiritual yang tinggi sangat dibutuhkan oleh perusahaan, ia kembali menekankan bahwa hal itu bisa diukur berdasarkan dimensi building trust milik DDI. "Kalau building trust-nya besar, saya kira lebih baik. Sudah terbukti kalau ternyata perusahaan akan lebih memilih orang yang jujur, bukan hanya sekedar pintar." Ditegaskan, tidak ada jaminan kalau orang yang SQ-nya rendah, berarti dia bukanlah orang baik. "Tapi, kalau orang yang perilakunya tidak jujur, tidak komitmen, berarti orang itu tidak baik di perusahaan."

Dimensi building trust, dinilainya, paling bagus jika dijadikan core competency di setiap perusahaan. Semua karyawan, orang dan level bawah sampai atas harus punya kompetensi itu atau integritas. Lain hal jika sudah menyangkut pekerjaan yang lebih spesifik, maka akan jadi tambahan yang berbeda. "Jika ada satu orang yang melenceng dari nilai inti ini, lebih baik dihapus saja orang ini," ujarnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Dwiputri Adimuktini, Corporate Marketing Manager DDI, menambahkan bahwa building trust itu tidak hanya sekedar operates with integrity saja, tapi juga ada discloses own positions, remains open to ideas dan supports others. "Building trust ini adalah hal yang sangat kritikal untuk mendukung empowering culture organization. Kami berusaha melakukan agar orang lain bisa berperilaku yang sama dengan kami harapkan," ujarnya menimpali.

Kendati belum ada rencana untuk memasukkan SQ dalam assessment center, pihak DDI belum berencana untuk itu. "Kami hanya sebatas karyawan DDI disertakan dalam pelatihan ini. ESQ itu hanya satu sarana saja. Jika sudah dikaitkan dengan pekerjaan, keluarnya adalah SQ," sambung Sinta. Seseorang yang terbiasa dengan marah- marah jika ada anak buah yang membuat kesal, dengan mengikuti pelatihan tersebut bisa meredam amarah itu. Jadi, ESQ milik Ary Ginanjar tersebut hanya memperkuat sifat-sifat yang positif seperti sabar, jujur, atau penyayang.

Perilaku tersebut dikaitkan dalam simulasi DDI saat peserta memanggil anak buahnya yang bermasalah. Yang paling mendasar adalah bagaimana seseorang berempati atau men-support seseorang. "Setiap orang pasti ingin dihormati atau direspek oleh orang lain. Itu semua sifat Tuhan, Cuma tergantung kita apakah kita memanfaatkan atau tidak," tegasnya lagi.

la menambahkan, ada contoh kasus, seorang pemimpin perusahaan di sebuah daerah, integritas bawahannya rendah sekali. Kemudian semua anak buahnya disuruh ikut pelatihan SQ, dalam waktu beberapa bulan, integritasnya menjadi tinggi. "Intinya, setiap orang bekerja harusnya untuk diri sendiri, bukan karena keterpaksaan, oh saya bekerja disini harus begini. Buat kami, nilai inti itu adalah untuk menyatukan semua orang yang ada di dalam organisasi untuk menyatukan visi."

Di samping itu, lingkungan kerja juga sangat membantu. Jika ada teman yang salah, maka teman yang lain sebaiknya mengingatkan. Dengan begitu, orang akan terbiasa untuk memperbaiki kesalahannya. "Makanya nilai inti sangat penting sehingga setiap karyawan ada keterkaitan satu sama lain," ia berimbuh.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google