Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Mengadopsi Nilai-nilai Spiritualisme 2

No. 12 - Maret 2005

Kecerdasan spiritual berbeda dengan kecerdasan emosional, namun keduanya bisa saling memperkuat. Tantangan terbesar adalah bagaimana kecerdasan spiritual ini menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya manusia organisasi. Sebab yang selama ini dikenal hanya kriteria-kriteria berdasarkan kecerdasan emosional.

MM UI
KESEIMBANGAN KETIGANYA SANGAT BERGUNA BAGI PERUSAHAAN

Fenomena baru, di mana manusia tidak hanya dipertimbangkan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) dan emosinya (EQ) saja, tetapi mulai dilirik tingkat kecerdasan spiritualnya (SQ). Hal ini terlihat dengan bermunculannya pelatihan-pelatihan yang mencoba mengembangkan kecerdasan spiritual seperti ESQ. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual (SQ) itu?

Membahas mengenai kecerdasan spiritual, Riga Adiwoso, Dosen MMUI, menjelaskan perbedaan dari bermacam kecerdasan yang telah dikenal. Secara garis besar, menurut Riga, jika dibandingkan, kecerdasan intelektual itu bicara mengenai kemampuan berpikir, kecerdasan emosional itu lebih bicara dari segi kemampuan untuk mengendalikan atau mempunyai perasaan seperti empati, bagaimana mengatasi kemarahan, sedangkan kecerdasan spiritual, bicara lebih pada aspek manusia yang berkaitan dengan hal-hal apa yang ada di dalam diri manusia tersebut. Dengan kata lain bagaimana manusia melihat apa misi dari kehidupan, lalu arti bekerja dan sebagainya.

Selama ini terkesan ada salah pengertian bahwa kecerdasan spiritual itu sama dengan moralitas dan keagamaan, tetapi pada kenyataannya bukanlah itu. Dalam nilai agama, menurut Riga, banyak orang yang hanya berpikir bagaimana caranya masuk surga tanpa memperdulikan orang lain. Ini berarti seseorang bisa saja sangat relijius tetapi tidak memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Karena yang disebut kecerdasan spiritual itu awalnya adalah dalam diri manusia itu bagaimana seseorang melihat hubungannya dengan pihak lain.

Dikatakan Riga, melalui pandangan kecerdasan spiritual yang sesungguhnya, dapat dijadikan alat untuk bisa membagi dan mengkategorikan tipologi manusia yaitu:
Pertama, Conventional Type, yang lebih mengarah pada nurani manusia. Seseorang akan merasa hidup itu lebih pada menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kedua, Social Type, lebih ke arah bahwa manusia itu akan merasa hidup memiliki nilai jika dia bisa bergaul dan memiliki teman yang banyak. Ketiga, Investigative Type, lebih ke arah ketika seseorang melihat sesuatu dan membuat cara berpikirnya adalah harus lebih tahu dan menggali lebih dalam lagi.Keem-pat, Artistic Type, itu lebih ke arah sisi musik, seni, sastra. Kelima, Realistic Type, tipe ini lebih pragmatis artinya seseorang bisa berpikir dalam kondisi tertentu apa yang harus dilakukan. Keenam, Enterprising Type, seseorang dalam tipe ini biasanya punya aspek untuk mengambil suatu resiko, kemampuan untuk lebih melihat bahwa hidup adalah suatu permainan dan dia akan mau mengambiI resiko.

Jika kemudian dalam manajemen sumber daya manusia, menurut Riga, hal ini mulai dipertimbangkan karena ada perasaan atau opini bahwa seseorang dengan kecerdasan intelektual yang baik belum tentu stabil secara emosional dalam arti kedewasaan, tetapi juga ketika harus mempunyai visi, dalam proses pengambilan keputusan kecerdasan spiritual yang bermain.

Disitulah kecerdasan spiritual dianggap penting dan menjadi pondasi dasar dan bagaimana seseorang melihat hidup. Jadi ada asumsi yang kurang benar yang menganggap kecerdasan spiritual itu berkaitan dengan keagamaan. Dikatakan Riga, keagamaan itu adalah hal lain, karena itu adalah persoalan individu yang berkaitan dengan kewajiban yang terkait dengan alam baka. Kecerdasan spiritual lebih ke arah nurani seseorang. Dengan kata lain kecerdasan spiritual lebih ke arah perkembangan diri pribadi dalam artian keseluruhan.

Perusahaan-perusahaan mulai menggali kecerdasan spiritual dari para karyawannya dikarenakan ada kaitan antara kompetensi dengan kecerdasan spiritual. Dimisalkan pada kondisi ada keputusan yang sangat penting yang tidak ada rumusannya itu akan kembali pada nurani seseorang tersebut, dan ini membutuhkan kecerdasan spiritual yang sangat baik.

Pada prinsipnya kecerdasan spiritual sudah ada di diri manusia tapi masih bisa dikembangkan seperti halnya bakat. Jadi hal ini merupakan bagian dari proses pembelajaran. Karena tidak boleh melihat manusia itu sebagai satu dimensi, tapi multi dimensi dan kecerdasan spiritual adalah bagian dari dimensi lainnya manusia. Kecerdasan spiritual itu membantu membentuk manusia secara keseluruhan.

Untuk mengukur kecerdasan spiritual, menurut Riga, tidak bisa dilakukan dengan cara yang dilakukan untuk mengukur kecerdasan intelektual. "Saya pribadi melihat bahwa mengukur dengan menggunakan metodologi score itu tidak begitu suka," kata Riga. "Saya lebih ke arah kualitatif," tambahnya.

Jadi untuk mendalami kecerdasan spiritual itu paling baik melalui tehnik interview, misalnya menanyakan pada kondisi tertentu seseorang akan melakukan apa. Menurut Riga jika secara kuantitatif, meskipun sudah banyak alat yang dikembangkan, akan mungkin banyak hal yang terlewatkan. Kecerdasan spiritual baru bisa terlihat dalam kondisi orang tersebut harus bertindak.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki karyawan dengan tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi. Memang penting kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual saja yang baik, tetapi diperlukan keseimbangan ketiganya yang akan membuat seseorang bisa bekerja dengan baik untuk ikut mengembangkan perusahaan.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google