Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Bukan Menggantang Asap

No. 12 - Maret 2005

Sejumlah perusahaan berusaha mengembangkan kecerdasan spiritual para karyawannya agar memiliki moral dan integritas tinggi. Pelatihan spiritualisme sangat membantu, namun hal itu saja tidak cukup. Bagaimana perusahaan merespon fenomena ini?

Sebagai perusahaan nasional telekomunikasi terkemuka di Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau lebih dikenal dengan Telkom, menyadari persaingan yang sangat ketat di dunia bisnis, khususnya bisnis telekomunikasi. Menghadapi persaingan tersebut, kecerdasan intelektual (IQ) dan emosional (EQ) tidaklah cukup. Untuk melengkapi diri, Telkom berniat membekali seluruh karyawan dan jajaran direksi dengan kecerdasan spiritual (SQ).

Menurut Budi Siswanto, saat ini pihak Telkom berusaha mengurangi persaingan dengan melengkapi diri melalui SQ. "Telkom yakin, SQ akan menunjang kompetitif efektif perusahaan. Kami menyadari, keunggulan kompetisi Telkom ada di orang-orangnya, bukan di teknologi, bukan karena kami punya infrastruktur, bukan pula karena kami punya produk," papar pria yang menjabat sebagai Deputy of Head Telkom Divisi Regional II Jakarta.

Karyawan Telkom diajak untuk selalu mempelajari berbagai macam sumber tentang SQ mulai dari Steven Covey dengan 8 Habits, I Gede Prama, Aa Gym atau Ary Ginanjar. "Saat ini kami memang pada ESQ milik Ary Ginanjar karena target kami seluruh karyawan ikut acara itu," kata Budi yang membeberkan bahwa seluruh manajemen Telkom mulai dari Manajer hingga Presdir mengikuti acara tersebut baru-baru ini.

Dengan demikian, diharapkan seluruh karyawan Telkom bisa mempunyai SQ yang seimbang dengan IQ dan EQ. "Tidak selalu orang yang punya SQ baik akan memiliki IQ atau EQ yang baik. Justru disini keluarnya keseimbangan. Hasilnya yang paling besar kalau didukung semuanya atau ketiganya," Budi menjelaskan hal ini.

Alasan lain, lanjutnya, Telkom memiliki nilai hakiki yang datangnya dari Tuhan dan misi. Kalau dulu misi Telkom adalah bagaimana menjadikan Telkom terpercaya bagi masyarakat. Sekarang sudah tidak lagi. "Kami menarik tujuan hidup kami lebih ke depan lagi. Misinya sekarang ridho di jalan Tuhan, yang diwujudkan kalau kami meninggal masuk surga. Setiap orang pasti meninggal. Tapi meninggalnya ada dua pilihan, neraka atau surga," kata Budi lagi. Jika orang ingin masuk surga, berarti setiap tindak tanduknya harus berorientasi bagaimana nanti masuk surga.

Menurutnya, EQ itu erat kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang, apakah bisa mengendalikan marah atau tidak dan sebagainya. Berbeda dengan kalau SQ yang memasukkan nilai-nilai Tuhan. "Kalau dalam Islam, nilai-nilai Allah SWT yang kami anut dan kami lakukan setiap hari dan setiap saat. Kami selalu ingat untuk mengimplementasikan nilai tersebut," ujarnya saat ditemui HC.

Implementasi SQ di perusahaan Telkom diakui Budi dilakukan setiap hari. Caranya, semua pemimpin senior diwajibkan datang ke unit terkecil dan saling mengingatkan bahwa Telkom menganut tujuh nilai yaitu kejujuran, transparansi, komitmen, kerjasama, disiplin, peduli dan tanggung jawab. "Ke-7 nilai itu kami sarikan dari Asmaul Husna, sifat-sifat Allah," ungkap Budi yang mengakui bahwa sudah sejak lama ke-7 nilai ini dimiliki Telkom, namun baru dicanangkan kembali awal Februari lalu. Cara mengukurnya, dengan implementasi 7 nilai. Misalnya, kejujuran. Meski relatif, tapi setiap karyawan Telkom bisa saling mengingatkan. Contoh lain adalah disiplin. Jika setiap pagi ada karyawan yang terlambat, karyawan lain berusaha saling mengingatkan. "Makanya sekarang sudah tidak ada lagi karyawan terlambat karena malu dengan karyawan lain. Siapapun boleh mengkritik, termasuk mengkritik atasan," akunya.

Jika seorang atasan dinilai oleh bawahannya tidak jujur, atasan tersebut tidak boleh menanggapi hal itu saat karyawan mengomentari dirinya. Komentar itu harus ditelaah dan dikaji lebih dalam, apakah benar dia berperilaku seperti itu. Barulah setelah itu dibahas kembali. Hukuman atau sanksi di Telkom, tidak selalu dalam bentuk nyata. Untuk menegakkan moral, justru dibutuhkan sanksi moral atau hukuman mental.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green