Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Mengadopsi Nilai-nilai Spiritualisme 1

No. 12 - Maret 2005

Kecerdasan spiritual berbeda dengan kecerdasan emosional, namun keduanya bisa saling memperkuat. Tantangan terbesar adalah bagaimana kecerdasan spiritual ini menjadi dasar dalam pengelolaan sumber daya manusia organisasi. Sebab yang selama ini dikenal hanya kriteria-kriteria berdasarkan kecerdasan emosional.

Dunamis Organization Services
PERLU MENGARTIKAN KECERDASAN SPIRITUAL SECARA 'MAKNA'

Pengakuan akan pentingnya kecerdasan spiritual atau yang lebih dikenal dengan sebutan Spiritual Quotients (SQ) bagi pengembangan dan pencapaian visi dan misi sebuah perusahaan semakin dirasakan banyak pihak. Pelatihan-pelatihan mengenai hal tersebut juga mulai dirasakan perlu.

Meski tengah marak dibicarakan, seringkali terjadi kerancuan terhadap pengartian dari kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual, menurut Nugroho Supangat, Managing Partner Dunamis Organization Services, sebaiknya terlepas dari kajian keagamaan, meski diakuinya penerapan kecerdasan spiritual di Indonesia masih belum bisa diberlakukan seperti itu.

Digambarkan bahwa manusia itu mempunyai empat macam kebutuhan pokok yaitu kebutuhan fisik (to live), sosial (to love), mental (to learn) dan spiritual (to leave a legacy). Di sini, kecerdasan spiritual termasuk dalam kebutuhan spiritual, jadi terkait lebih pada kontribusi manusia kepada negara, lingkungan dan perusahaan. Namun dikatakan Nugroho, mungkin saja di dalamnya tetap terkandung nilai-nilai agama. Manusia sebagai professional pasti juga memiliki kebutuhan spiritual itu. Tapi sebagian besar banyak yang mengartikan hal itu pada keagamaan, itu sesuai dengan pengartian spiritual yang mendasar.

Tidak seperti kecerdasan intelektual yang memiliki alat ukur yang jelas, kecerdasan spiritual tidak bisa diukur dengan cara yang serupa. Jika kecerdasan spiritual yang dibicarakan terkait dengan kebutuhan spiritual yaitu meninggalkan karya dalam hidup menurut Nugroho, masih bisa diukur, tetapi jika terkait dengan nilai keagamaan, tentu sangat sulit untuk melakukan pengukuran yang dimaksud.

Untuk mengukur karya yang akan ditinggalkan berarti terkait dengan kontribusi manusia tersebut pada lingkungan atau perusahaan, salah satu hal yang bisa dijadikan indikator adalah nilai kejujuran. Perusahaan BUMN di Indonesia juga mulai mempertimbangkan nilai kecerdasan spiritual ini, yang menurut Nugroho mungkin disebabkan agar dapat menurunkan dan menghindari tingkat kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) yang terjadi.

Perlu juga ditegaskan perbedaan dari kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional terkait lebih pada tingkah laku sosial manusia. Menurut Daniel Goleman, orang-orang yang memiliki keseimbangan emosional yang bagus itu lebih gampang disukai orang lain. Dan hal ini mungkin akan mambawa dampak orang tersebut akan berhasil, dengan kata lain ini lebih bersifat horizontal. Sedangkan kecerdasan spiritual lebih dikaitkan dengan nilai-nilai moral keagamaan atau bersifat vertikal. Dan tempat seperti ESQ diyakini mencoba menggabungkan keduanya.

Adanya tren di mana perusahaan rnulai mempertimbangkan pentingnya kecerdasan spiritual ini, menurut Nugroho, belumlah lama. Mulanya semua orang tahu kecerdasan intelektual yaitu komponen kompetensinya seseorang. Setelah itu orang baru menyadari bahwa orang yang pintar saja tapi tidak bisa bergaul itu juga sulit. Saat 7 habits mulai dikenal, di sini mengangkat dua hal yaitu character and competence. Character adalah kecerdasan emosional dan competence adalah kecerdasan intelektual. Setelah itu orang mulai berpikir bahwa nilai-nilai agamis juga mestinya lebih dikedepankan.

Melihat antusias orang mengikuti pelatihan ESQ, Nugroho rnemandangnya sangat luar biasa bagusnya. Seseorang jadi mengerti 'makna', misalnya apa makna pekerjaannya. Menurutnya, hal ini ada nilai spiritualnya tetapi bukan nilai keagamaan, karena sebenarnya spiritual dan keagamaan itu adalah sesuatu yang berbeda. Dijelaskan jika keagamaan, orang lebih banyak mengambil ritualnya saja, sedangkan spiritual lebih mengerti akan makna apa yang dikerjakannya. Pengembangan kecerdasan spiritual dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan atau juga dengan berinteraksi langsung dengan pihak terkait.

Selama ini dikenal 3I (Intelligence, Initiative dan Integrity). Intelligence itu adalah sesuatu yang paling mudah diukur, initiative yang agak sulit karena hampir semua orang yang dites mengaku mampu melakukan apapun tetapi begitu masuk dia hanya diam dan menunggu perintah. Oleh karena itu initiative harus dilihat pada masa percobaan. Tapi kalau integritas itu lebih susah lagi, dalam waktu tiga bulan belum tentu perusahaan tahu mengenai integritas seseorang. Jika membicarakan kecerdasan spiritual adalah integritasnya dan ini butuh waktu yang agak panjang untuk mengetahuinya.

Jika membicarakan spiritual secara 'makna', menurut Nugroho, bisa dikaitkan sebagai bagian kecerdasan spiritual, tetapi jika dikaitkan secara sempit sebagai spiritual agama, ini tidak bisa dikaitkan seperti itu. Jadi bisa terlihat kecerdasan spiritual yang berkembang di luar negeri seiring dengan perkembangan 8 habits adalah yang berkaitan dengan 'makna', sedangkan di Indonesia kecerdasan spiritual yang berkembang kental sekali dengan nilai keagamaan. Untuk permulaan, pengartian dikaitkan dengan keagamaan menurut Nugroho, tidak apa-apa, tetapi lebih baik jika pengertian tersebut dilakukan secara 'makna'.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green