Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Bukan Menggantang Asap - PT. Elnusa

No. 12 - Maret 2005

Implementasi ESQ di PT Elnusa selama ini sudah tertuang dalam nilai-nilai perusahaan, yakni clean, respecfull, and synergy. Tiga semboyan itu, menurut Odang Supriatna, HR Manager Elnusa, telah ditanamkan kepada seluruh karyawan. Dengan prinsip itulah Elnusa mencoba mengelola perusahaan secara lebih bersih dan beretika.

Ketiga unsur tersebut, menurut Odang Supriatna, merupakari satu kesatuan yang diharapkan dapat membentuk jati diri setiap individu yang ada di Elnusa. Clean berarti karyawan harus bersikap jujur dan menjunjung tinggi etika bisnis. Respectfull, merupakan bentuk penghargaan dan memahami orang Sedangkan empati adalah sikap untuk mau mendengar orang lain yang pada akhirnya terbentuk sinergi atau kerja sama.

Elnusa kini didukung oleh sekitar 280 orang karyawan. Sebagai perusahaan yang banyak melibatkan subkontraktor dan supplier, Elnusa memang rentan terhadap praktek kolusi, korupsi dan nepotisme. Namun, lanjut Odang, manajemen sudah menetapkan garis batas operasional perusahaan yang secara tegas melarang setiap karyawan menerima komisi dari pihak lain "Di Elnusa sudah tumbuh budaya bahwa menerima komisi merupakan suatu aib yang sangat besar," kata Odang.

Untuk menggali tiga inti pokok tersebut Elnusa telah menerapkannya sejak tahap perekrutan. Misalnya, dengan menggali aktivitas seorang calon karyawan selama sehari dari pagi hingga malam. Begitu juga mengenai hobi, dan sebagainya Dengan cara itu, kata Odang, ia bisa mengetahui bahwa karyawannya termasuk orang yang taat beribadah atau tidak, apakah ia peduli dengan orang lain, apakah ia bertanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungannya dan sebagainya. "Dalam psikotes kan tidak pernah ditanyakan apakah seorang calon karyawan menjalankan ibadah sholat atau tidak," tukas Odang.

Menurut Odang, Elnusa sudah lama memahami bahwa karakter seorang karyawan berperan sangat besar dalam mempengaruhi budaya perusahaan. Oleh karena itu, ketika ada pelatihan mengenai ESQ, pihaknya langsung mendaftar sebagai peserta. Alasannya, ia melihat dari sisi praktisnya, bahwa mengajarkan sesuatu yang berkaitan dengan soft competence dan kejujuran jauh lebih sulit ketimbang melatih karyawan untuk mengerti komputer atau akuntansi, misalnya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, lanjut Odang, pihaknya menemukan konsep SQ yang belum ditemukan di pelatihan lain. Awalnya, karyawan Elnusa mengikuti ESQ yang diajarkan oleh Ary Ginanjar pada sekitar 3,5 tahun lalu melalui Elnusa Workover Service. Ternyata, kata Odang materi yang disampaikan sangat bagus. Kemudian, Odang mengusulkan agar seluruh karyawan Elnusa, mulai dari direksi hingga staf mengikuti ESQ.

Pada awalnya, kata Odang, pihaknya tidak mengukur dampak pelatihan ESQ terhadap perusahaan. Namun setelah berlangsung beberapa kali, ia melihat ada perubahan perilaku karyawan yang berdampak positif terhadap perusahaan. Manfaat utama dari pelatihan tersebut adalah munculnya kesadaran terhadap nilai hakiki manusia.

Menurut Odang ESQ bukan pelajaran agama, tapi lebih menekankan pada nilai-nilai spiritual. Value tersebut dimasukkan dengan sangat efektif. la menyebut contoh, untuk menerapkan perubahan jam masuk kerja dari jam 8 ke jam 7 pagi, butuh waktu satu tahun untuk meyakinkan. Artinya, banyak orang yang dengan alasan kemacetan bukan kerjaan, korupsi waktu. Karena itu, di perusahaan harus ada sistem.

Karyawan yang terlambat diberi surat peringatan. "Kalau saya tidak jujur, saya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Saya juga akan dipecat oleh perusahaan," kata Odang. Nah, nilai-nilai spiritual inilah yang dicoba dimasukkan sebagai ke dalam perusahaan, sehingga pada setiap karyawan tumbuh kesadaran untuk senantiasa berbuat baik. "Kalau sudah masuk ke dalam sistem perusahaan akan indah sekali," kata Odang membayangkan.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 76 Juli - Agustus 2010
Masa Depan SDM Sekretaris, Tetap Eksis di Segala Situasi dan Kondisi