Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 

Bukan Menggantang Asap - Bogasari Flour Mills

No. 12 - Maret 2005

Manusia sebagai aset penting dalam organisasi menjadi penentu organisasi di masa yang akan datang. Pembekalan kompetensi menjadi sangat penting demi bertahannya organisasi tersebut. Seyogyanya, pembekalan ini menyentuh pada aspek manusia dan aspek teknis. Sayangnya, masih ada perusahaan yang terkadang hanya membekali karyawannya sebatas kompetensi secara teknis. Menurut Agus Budi Wasono, Senior Vice President HR Bogasari Flour Mills, kompetensi teknis dari setiap individu dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual atau IQ, sedangkan kompetensi sosial erat dipengaruhi oleh kecerdasan emosi atau EQ.

Perilaku yang dimunculkan seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai pribadi yang diyakininya. Dalam sebuah organisasi perlu diterapkan nilai-nilai yang diyakini dapat menyatukan anggotanya. Dengan dibentuknya nilai-nilai itu, pada akhirnya mempengaruhi gaya atau perilaku seseorang. "Memang ada perusahaan-perusahaan yang mempunyai budaya perusahaan yang dibentuk berdasarkan nilai-nilai yang dianggap sebagai satu hal inti seperti kejujuran dan integritas," ungkap pria yang kerap disapa Sonny.

Kecerdasan emosional (EQ) erat dikaitkan dengan kecerdasan spiritual (SQ) yang mulai marak dibicarakan. Menurut Sonny, apapun yang dimunculkan dalam perilaku adalah wujud dari sebuah pergulatan intelektual dan spiritual yang dimunculkan melalui emosi. "Orang bisa saja pandai, tapi kok dia jadi jahat?" katanya. Sehingga untuk mencari akar permasalahan harus ada sesuatu yang diyakini orang tersebut, yang mungkin dikenal dengan nama SQ. secara psikologis, SQ adalah kepercayaan seseorang pada suatu kebenaran. "Spiritual itu mengatur kebenaran sehingga kalau dasarnya yang benar keluar, maka luapan emosi pun akan ke arah sana," ujarnya.

Sayangnya, SQ yang baik tidak menjamin seseorang akan memiliki EQ yang baik pula. Meski ada jaminan bahwa orang yang berpikiran baik, akan menunjukkan hasil yang baik, tapi belum tentu bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, dibutuhkan sistem nilai-nilai atau perilaku yang sebaiknya dimunculkan, terutama dalam sebuah perusahaan.

Bogasari sendiri punya lima nilai yang diyakini sejak tahun 2000 sebagai suatu landasan etika dalam bertindak maupun berperilaku terutama di Bogasari. Kelima nilai tersebut adalah kejujuran, kepedulian, kebersamaan, keunggulan dan keterbukaan. Ini adalah dorongan untuk manusia sehingga dia mempunyai ciri tertentu. "Warna itu bisa saja umum, seolah-olah bentuknya seperti SQ, tapi menjadi khas karena dikaitkan dengan misi usaha," tukasnya.

Organisasi perlu mengukur sejauh mana anggotanya sudah berperilaku sesuai dengan nilai yang disepakati. Pengukuran yang dilakukan Bogasari hanya menitikberatkan pada perilaku yang dimunculkan, belum pada tingkat keyakinan mengingat alat ukur SQ itu sendiri masih sulit. "SQ itu memang satu hal yang perlu diberikan ke manusia dalam organisasi, tapi untuk mengukurnya, kembali lagi kinerja dan perilaku karena itu yang mudah," katanya panjang lebar.

Untuk bisa menjamin suatu kejujuran, sistem menjadi syarat utama karena sistem yang membatasi karyawan. Jika karyawan keluar dari rambu sistem, barulah perusahaan melihat dan menilai. "Kalau kami bicara masalah keberhasilan dari budaya perusahaan, kami memang melihat dari perilaku karena itu yang kasat mata. Tapi untuk mengatur keyakinan, koridornya tetap saja susah karena tidak bisa dilihat," ungkap Sonny.

Bahkan untuk menegakkan integritas, Bogasari membuat aturan main dengan berbagai cara, mulai dari syarat-syarat kerja, perjanjian kerjasama antara karyawan dengan perusahaan, adanya kebijakan-kebijakan perusahaan, adanya prosedur-prosedur untuk menghindari pungli atau korupsi dan sebagainya.Jika ada pelanggaran oleh karyawan terhadap nilai-nilai dari sistem yang diberlakukan, maka perusahaan akan menerapkan sanksi mulai dari yang ringan hingga terberat seperti pemutusan hubungan kerja.

Meski sempat terpikir untuk memasukkan SQ dalam rekrutmen atau training, Soni mengakui bahwa Bogasari belum bisa melakukan hal itu. Bukan karena SQ adalah sesuatu hal yang tidak perlu. "Kami percaya bahwa banyak yang mengatakan bahwa SQ sifatnya umum atau universal. Sayangnya, contoh-contoh yang digunakan banyak memakai agama tertentu."

Secara eksplisit, SQ terkesan belum diterapkan di Bogasari. Namun secara umum, sebenarnya sudah banyak perusahaan atau organisasi termasuk Bogasari sendiri menerapkan SQ, misalnya dalam bentuk kegiatan seperti sembahyang bersama, mendengarkan ceramah dan sebagainya. "Itu kan sebenarnya bagian dari SQ juga. Hanya kemasannya saja yang beda. Saya yakin, dalam bentuk kehidupan manusia, ini sudah diterapkan. Cuma, secara sistemasi, SQ baru-baru saja," papar Soni mengakhiri perbincangan.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Media Partner

Edisi 76 Juli - Agustus 2010
Masa Depan SDM Sekretaris, Tetap Eksis di Segala Situasi dan Kondisi