Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR
Bukan Menggantang Asap - Bank BNI
No. 12 - Maret 2005
Meski kecerdasan spiritual (SQ) sudah mulai menjadi pembicaraan perusahaan di Indonesia, namun pengukurannya menjadi kendala bagi beberapa perusahaan untuk penerapannya. Salah satunya adalah Bank BNI. Bank yang berdiri sejak tahun 1946 ini cukup kesulitan dalam mengimplementasikan khususnya dalam hal rekrutmen dan asesmen center milik bank tersebut.
Menurut Apin Aviyan, Pemimpin Kelompok Rekrutmen & Asesmen Center Bank BNI, penerapan SQ khususnya untuk asesmen center dan rekrutmen dinilai cukup sulit, kendati pihaknya sudah berusaha beberapa kali untuk menerapkan hal tersebut sebagai salah satu sarana asesmen. "Terus terang, kami masih kesulitan untuk dapatkan alat ukurnya," kata Apin.
Kendati saat ini ada beberapa perusahaan pernah menggunakan SQ, tapi ia menilai sifatnya sebatas inventori, hanya mengisi formulir saja sehingga hasilnya yang keluar hanya berdasarkan skala saja. "Tapi itu belum bisa dipercaya sebagai yang mencerminkan SQ." Apalagi banyak yang beranggapan kalau SQ erat kaitannya dengan kejujuran dan intregitas. "Saya belum melihat adanya korelasi antara seseorang ikut SQ dalam bentuk training atau asesmen bisa dikatakan bahwa dia berhasil meningkatkan kejujuran dan integritas. Itu masih belum dibuktikan secara empiris bahwa itu bisa jadi dasar kami untuk melakukan implementasi di asesmen tempat kami," sambungnya.
Integritas dan kejujuran, memang menjadi hal yang paling utama di perusahaan perbankan. Namun, hal itupun menurutnya cara pengukurannya secara formal masih belum ada. la menyebutkan, ada beberapa perusahaan yang mengukur kejujuran dengan cara cross check atau melalui referensi. Artinya, faktor performance seseorang dicek dimanapun ia bekerja. "Kadangkala, kami butuh alat ukurnya seperti apa yang bisa mengetahui kejujuran. Cara itu yang susah. Nah, SQ menawarkan hal itu," imbuh Apin yang masih belum bisa mempercayai bahwa SQ memiliki validitas tinggi.
Sejauh ini, pengukuran kejujuran karyawan BNI hanya dilakukan sebatas wawancara saja. Dari sisi kredibilitas, ia menganggap cara tersebut sudah cukup memadai dalam hal informasi. Namun, ditegaskan lagi, seberapa besar tingkat validitas masih belum dirasakan secara kasat mata
Implementasi secara formal adalah bagaimana seseorang mensarikan nilai-nilai yang ada dalam agama, kemudian itu dijadikan dasar untuk meningkatkan spiritual dan kecerdasan emosi (EQ) dalam bekerja. Bank BNI masih mengkaji untuk mengimplementasikan SQ di tempat kerja dan bagaimana meningkatkan kontribusi karyawan di tempat kerja. Nilainya, aku Apin, bisa saja dalam bentuk inventori menggunakan kertas dan pensil, ada beberapa pernyataan yang nanti dijawab oleh responden. Kemudian dikoreksi oleh valuatornya sehingga valuator bisa mengatakan bahwa SQ responden tersebut tinggi atau rendah. "Kami belum bisa melihat, makna dari hasil itu sebagai sesuatu yang bisa berubah pada diri seseorang."
Pemikiran ini yang mendasari pihak BNI untuk belum menerapkan SQ di dalam rekrutmen dan asesmen center. Bahkan, BNI tidak akan menerapkan SQ jika ternyata tidak bisa mempertanggungjawabkan secara metodologis bagaimana penggunaan SQ dan alat ukurnya.
Uniknya, kendati Bank BNI masih kesulitan dalam mencari alat ukur SQ untuk rekrutmen dan asesmen center, justru SQ telah diberlakuk5n di training karyawan BNI. Hal ini telah berlangsung selama tiga tahun dengan menggunakan jasa Ary Ginanjar dan Toto Tasmara. Dalam setiap pelatihan, ada pengukuran SQ sebagai dasar bagaimana karyawan BNI bisa bekerja dengan jujur dan baik. Ini diterapkan untuk seluruh karyawan, mulai dari level bawah hingga level atas, baik pegawai baru rnaupun pegawai lama, yang sifatnya menumbuhkan kesadaran tentang kejujuran dan integritas karyawan "Tapi, tetap kami menganggap bahwa belum ada data empiris bagaimana manajemen training bisa klop di tempat kerja," tegasnya kembali.
portalhr.com
Artikel sebelumnya
- Bukan Menggantang Asap - PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
- Bukan Menggantang Asap - PT. Unilever
- Bukan Menggantang Asap
- Wanita-wanita Penguasa Bisnis Dunia
- Reorganisasi Menuju Regional Champion
Artikel terkait
