Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Komitmen Medco Memelihara SDM

Edisi 59 Februari 2009

Medco Group dapat bertahan dan terus berkembang lantaran memiliki SDM berkualitas. Strategi HR macam apa yang diterapkan Medco hingga mampu mencetak SDM yang kompeten?

Tidak banyak pemim-pin yang rela menghabiskan waktu di tempat kerja untuk mengelola sumber daya manusia (SDM)nya. Sebagian besar mereka biasanya memilih fokus pada urusan bisnis semata. Namun, tidak demikian dengan Direktur Medco Group Yani Panigoro. “Sekitar 75% waktu saya untuk menangani SDM,” akunya. Perhatiannya yang besar dalam mengelola SDM, dikatakan Yani, lantaran ia mengharapkan SDM Medco dapat menjadi ujung tombak dalam menjalankan roda perusahaan.

Dewan Pembina Medco Foundation ini memastikan, manajemen telah menempatkan SDM sebagai aset utama perusahaan yang tak ternilai harganya. “Sebagus apapun prospek dan infrastruktur bisnis yang ada, kalau SDM-nya tidak pas, prospek tersebut tidak bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata dan berhasil,” tutur adik kandung dari pengusaha minyak terkemuka, Arifin Panigoro ini menjelaskan. Untuk itu, manajemen mesti pandai menangkap kebutuhan karyawan, sehingga SDM di perusahaan sesuai dengan kompetensinya.

Sejak Medco Group didirikan, Yani membuka cerita, SDM sudah menjadi prioritas. Pemeliharaan dan peningkatan kompetensi karyawan dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan perusahaan. “SDM baru biasanya dibutuhkan pada saat kami membentuk bisnis baru atau mengganti karyawan yang sudah pensiun,” katanya menjelaskan. Selanjutnya, perusahaan melihat kompetensi karyawan berdasarkan keahliannya.

Menurut alumni elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), 1970, ini, masalah SDM setiap hari menjadi isu yang diulas di lingkungan kerja, baik dalam bentuk formal, misalnya saat briefing, meeting, dan coaching, maupun di kegiatan informal. “Minimal seminggu sekali saya melakukan meeting per unit perusahaan,” ujarnya. Yani mengungkapkan, lebih senang membahas SDM melalui musyawarah dan mendengarkan langsung keinginan karyawan dari orangnya sendiri.

Dikatakannya, persoalan SDM di 2009 tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. “Saat ini manajemen dituntut untuk lebih meningkatkan kemampuan SDM agar mendapat nilai tambah bagi perusahaan,” ujarnya. “Dalam kondisi krisis, SDM harus diberdayakan. Bisa melalui training, sekolah, atau individunya sendiri yang berusaha mengembangkan kemampuannya,” ungkap wanita kelahiran 18 Juni 1951 ini. Diharapkan pula, cost effectiveness bisa dilakukan di semua unit kerja.

Yani mengakui, perusahaan tidak bisa lagi memberikan kompensasi dan benefit lebih besar kepada karyawan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ia menjamin bahwa tahun ini tidak ada pengurangan gaji dan pemutusan hubungan kerja (PHK). “Yang kami harapkan adalah peningkatan prestasi kerja dan optimalisasi kompetensi karyawan dengan cost effectiveness,” ujarnya berharap. Hal ini dilakukan supaya karyawan bisa efisien dalam bekerja.

Bagaimana strategi perusahaan ke depan? Yani menjelaskan, saat ini manajemen lebih berkonsentrasi untuk konsolidasi internal. Misalnya, di bidang energi yang merupakan bisnis inti Medco Group, manajemen tetap memegang prinsip pengelolaan modal dan keuangan secara hati-hati (prudent) serta penerapan Good Corporate Governance (GCG). “Kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan proyek-proyek yang sedang berjalan, seperti pengeboran minyak, gas, geothermal dan bio-fuel,” ungkapnya.

Demikian pula di bidang non-energi. “Unit bisnis yang sedang tumbuh baik seperti bank, agroindustri, fabrikasi, konstruksi, dan hotel, tetap kami jaga agar terus tumbuh dan berkembang,” paparnya. Sedangkan unit bisnis lain yang masih dalam masa inkubasi atau perlu penanganan khusus, menjadi perhatian manajemen supaya arah pertumbuhannya sesuai. “Dengan kemampuan beradaptasi yang baik terhadap kondisi ekonomi yang bergejolak digabungkan dengan leadership yang kuat, kami berharap bisa bertahan dengan baik dan tetap tumbuh dengan konsisten,”katanyapenuh harap.

Karena itu, dalam rangka menjaga kesinambungan perusahaan, Medco mencoba masuk ke bisnis renewable energy (energi diperbarui) berbasis bahan bakar nabati (biofuel) maupun non-fossil fuel lainnya. Misalnya, bio-ethanol berbahan baku singkong, yang pembangunan pabriknya di Lampung baru saja selesai November 2008. Dalam waktu dekat, diharapkan pabrik ini sudah dapat melakukan pengapalan (shipment) pertama. “Kami juga aktif membantu Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dalam rangka mengkaji dan meneliti renewable energy yang terbaik dan cocok untuk Indonesia,” Yani menambahkan.

Selain itu, Medco aktif menggagas Inisiatif Merauke atau Pusat Riset MIFFE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) yang merupakan salah satu wujud kepedulian perusahaan dalam mendukung pengembangan ketahanan pangan dan energi nasional. Selain bertujuan mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri, Yani menuturkan, melalui pusat riset MIFFE ini diharapkan lahir energi alternatif dari tumbuh-tumbuhan untuk mendukung program ketahanan energi di Tanah Air.

Kemampuan Medco Group mencapai banyak target selama ini, diakui Yani, tidak terlepas dari keberhasilan dalam mengelola karyawan. Dengan jumlah karyawan di Medco Group yang mencapai sekitar 10 ribu orang, dapat dipastikan tantangan yang dihadapi pun tidak sedikit. “Kami harus bisa memadukan karyawan dengan perbedaan usia, kompetensi, potensi dan lain-lain, menjadi satu tim yang solid,” tuturnya.

Sebagai benang merahnya, ungkap Yani, perusahaan memiliki nilai-nilai perusahaan (corporate values) yang menjadi acuan bersama dalam menjalankan semua aktivitas. Nilai perusahaan itu dinamakan PETI, singkatan dari: Profesional (kompeten), Etis, Transparan (open), dan Inovatif (kreatif). Yani berharap, nilai-nilai tersebut bisa menciptakan atmosfir kerja yang nyaman dan akrab bagi karyawan, dengan tetap menjunjung tinggi profesionalisme kerja.

Karyawan juga dilibatkan dalam aktivitas corporate social responsibility (CSR) yang dikoordinasi oleh Medco Foundation. Melakukan aksi sosial seperti penanggulangan bencana alam merupakan salah satu kegiatan yang kerap dilakukan. Melalui aktivitas ini karyawan bisa mengasah kepekaan hati sekaligus menjadi penyeimbang dalam menjalani hidup. “Berbagai upaya tersebut akan mendorong karyawan kami dan keluarganya menjadi keluarga yang happy, sehingga tujuannya bekerja tidak hanya mencari uang, tetapi juga mendapatkan nilai lebih,” tuturnya berharap.

Di kesempatan yang sama, Human Resources (HR) Manager Medco Holding Ade Gunardi Didi menjelaskan, selama ini perusahaan telah melaksanakan sistem manajemen HR yang tepat. Di antaranya proses rekrutmen dan seleksi karyawan, performance management system, training and development, talent management, dan reward and punishment. “Tahun ini semua program tetap dilaksanakan. Ini dalam upaya mempertahankan dan memelihara motivasi karyawan,” tutur Ade seraya menjelaskan bahwa hal itu merupakan komitmen perusahaan untuk mengembangkan SDM.

Dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan, Ade menjelaskan, perusahaan mencari SDM melalui dua jalur, yakni dari internal maupun eksternal. Ia mencontohkan, di suatu unit kerja muncul kebutuhan tenaga tertentu, maka SDM yang terlebih dahulu dicari adalah dari internal. Ini bisa dilakukan melalu promosi atau mutasi untuk mengisi jabatan yang kosong itu. “Biasanya skenario seperti ini lebih efisien dari sisi biaya dan efektif karena karyawan tersebut sudah mengenal seluk-beluk perusahaan,” ungkapnya.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR