Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR
Di Balik Keberhasilan Perusahaan
Edisi 51 Juni 2008
Budaya perusahaan tak sekadar kata-kata. Ia memengaruhi perilaku organisasi dan orang-orang di dalamnya. Tanpa budaya, perusahaan akan sulit bersaing.
Budaya perusahaan (corporate culture). Topik yang satu ini sedang hangat dibicarakan di mana-mana. Maklum, budaya perusahaan atau budaya korporasi berkaitan erat dengan strategi perusahaan. Strategi ini dirumuskan oleh para pimpinan puncak dengan mengaitkan kedudukan perusahaan dalam lingkungannya. Dengan membentuk budaya yang pas di antara orang-orang di lingkungannya, perusahaan akan lebih mudah bersaing dan meraih keberhasilan.
Kita tahu bahwa budaya merujuk kepada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu meskipun anggota kelompok sudah berubah. Pengertian ini mencakup apa yang penting dalam kehidupan dan dapat bervariasi dalam perusahaan yang berbeda. Misalnya, dalam beberapa hal orang peduli dengan uang, tetapi dalam hal lain orang sangat memerhatikan inovasi teknologi atau kesejahteraan karyawan. Pada tingkatan ini budaya sangat sukar berubah karena anggota kelompok sering tidak sadar akan nilai-nilai yang mengikat mereka.
Budaya perusahaan yang kuat memberikan pengertian yang jelas kepada karyawan bahwa “sesuatu sedang terjadi di sekitar kita”. Budaya dapat menyebabkan kestabilan perusahaan, tetapi dapat juga menjadi rintangan. Yang jelas, setiap perusahaan mempunyai budaya. Hanya saja, kuat atau lemahnya budaya tersebut tergantung pada lingkungan perusahaan.
Yang menarik, budaya perusahaan bukan hanya memengaruhi perilaku organisasi, tetapi juga kinerja perusahaan. Ini bisa berarti ke arah yang semakin baik atau buruk. Nilai yang dianut bersama dan aturan tidak tertulis dapat secara mendalam meningkatkan keberhasilan perusahaan, atau sebaliknya, mengarah kepada kegagalan untuk beradaptasi dengan pasar dan lingkungan yang berubah.
Mengapa budaya bisa sedemikian mengakar? Kekuatan utama budaya terletak pada dua hal. Pertama, nilai-nilai yang diyakini merupakan milik bersama. Kedua, nilai-nilai ini sering tidak disadari oleh penganutnya sekalipun. Ketika sesuatu tidak pernah disadari keberadaannya, kita tentu tidak bisa menentangnya. Biasanya kekuatan budaya baru terlihat ketika kita hendak mengubah organisasi. Pada saat itu barulah nilai-nilai budaya lama menunjukkan keberadaan dan perlawanannya.
Budaya perusahaan bisa merupakan berkah sekaligus kutukan. Menjadi berkah karena budaya merupakan pengikat dan pemersatu seluruh elemen organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Di sisi lain, budaya bisa menjadi kutukan bila perusahaan yang memiliki budaya sangat kuat tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan luar.
Lalu, apa yang harus dilakukan perusahaan untuk menyesuaikan budayanya dengan perubahan? Tentu, itu bukan hal yang mudah. Bila harus dilakukan, langkah pertama adalah menyadari adanya nilai-nilai yang disepakati bersama dan mengangkatnya ke permukaan. Setelah itu, barulah nilai-nilai tersebut dianalisis: mana yang harus tetap dipertahankan dan mana yang terpaksa diubah. Penentuan nilai-nilai yang harus dipertahankan sangat penting karena perubahan terlalu radikal akan menimbulkan cultural shock dan justru mempersulit perubahan.
Setelah nilai-nilai yang harus diubah telah ditentukan, barulah dipikirkan strategi untuk mengubahnya. Di sini, tidak ada resep sukses yang bisa dipakai untuk segala keadaan. Namun, perusahaan yang berhasil melakukan perubahan umumnya melakukan beberapa hal secara serentak. Perusahaan-perusahaan tersebut menciptakan sense of crisis untuk sebuah momentum perubahan, menciptakan norma-norma, simbol-simbol, artefak-artefak, dan cerita-cerita baru yang sesuai dengan nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Selain itu, sistem insentif dan kompensasi lain diselaraskan satu sama lain dengan nilai-nilai baru.
Bagaimana dengan nilai-nilai yang membantu perusahaan menjadi inovatif? Nilai-nilai positif seperti berpikir terbuka, fleksibel terhadap perubahan, dan toleransi terhadap ambiguitas tentu diperlukan. Di atas segalanya, seperti hasil riset John P. Kotter dan James Haskett yang dituangkan dalam buku Corporate Culture and Performance, yang terpenting adalah nilai-nilai budaya yang mendahulukan kepentingan pelanggan di atas segalanya.
Hanya dengan memiliki nilai-nilai seperti itu, perusahaan mampu mengubah dirinya terus menerus sesuai dengan tuntutan konsumen dan pasar. Perusahaan dengan nilai-nilai tersebut memang pernah mengalami pasang surut. Namun, akhirnya mereka akan bangkit kembali karena para pelanggan tetap ingin bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan seperti ini.
portalhr.com
Artikel sebelumnya
.gif&contenttype=gif)