Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Pengembangan
Menjadi Pemimpin Yang Melayani
Edisi 45 Desember 2007
Anda tahu Danah Zohar? Wanita ini adalah pakar dan pencetus konsep spiritual capital. Pemikirannya saat ini banyak mengilhami pimpinan perusahaan sehingga dalam menjalankan bisnisnya tidak hanya mengejar materi semata.
Kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) menjadi salah satu elemen yang harus dimiliki seseorang pebisnis di samping EQ dan IQ. Banyak pemimpin perusahaan yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan karena memiliki kecerdasan spiritual.
Dalam konsepnya ini, Danah Zohar mengatakan bahwa salah satu tolak ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani atau servant leadership. Jadi jika seseorang ingin memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dia harus menajdi seorang servant leader. Lebih dari itu, menurutnya servant leadership adalah bentuk kepemimpinan yang paling tinggi dari yang ada.
Sebenarnya apa yang dimaksud denagn konsep servant leadership? Pendeknya servant leadership adalah kepemimpinan yang berfokus pada melayani pihak lain. Donald Lantu, seorang praktisi dalam bidang kepemimpinan mengatakan bahwa keberadaan seorang servant leader di sebuah perusahaan akan memberikan sesuatu yang positif seperti budaya pelayanan yang prima dalam perusahaan.
“Mereka akan bisa membuat para pelanggan, karyawannya puas terhadap perusahaan. Artinya apa? Dia bisa membawa perusahaan untuk menuju kesuksesan yang bisa berjalan secara sustain dalam jangka panjang. Jadi berkesinambungan”, ujarnya. Hal itu akan menciptakan perusahaan yang sehat baik dari segi financial maupun kepuasan para stakeholder.
Hal itu terjadi karena dengan kepemimpinan yang melayani, seorang pemimpin akan fokus pada pengembangan individunya. Seorang servant leader akan menaruh perhatian dan mengembangkan karyawan atau anak buahnya. Imbasnya, karyawan akan percaya, respek kepada pemimpin dan perusahaan akan mendapatkan hati dari anak buah. Kondisi ini akan membuat karyawan denagn sendirinya akan memberikan yang terbaik, loyal dan berusaha keras untuk bisa menciptakan produk-produk baru yang inovatif sesuai tuntutan konsumen. Mereka bisa bekerja secara efisien dan professional serta melakukan proses bisnis secara lebih cepat dari seharusnya.
“Dari situ akan tercipta nilai tambah bagi pelanggan yang membeli produk dan jasa dari perusahaan. Jika pelanggan sudah terus membeli, ini akan membuat perusahaan menjadi market leader di bidangnya. Sehingga bisa sukses, meraih keuntungan dalam jangka waktu panjang”, terangnya.
Selain itu, seorang servant leader akan membuat proses kaderisasi atau pembentukan future leader di perusahaan berjalan baik. “Karena sudah dikuatkan oleh budaya pembentukan pemimpin. Pemimpin yang diatas akan membantu mengembangkan yang dibawah, terjadi promosi secara vertical dari bawah ke atas. Jadi sebenarnya banyak manfaatnya untuk kehadiran seorang pemimpin pelayan dalam perusahaan”, kata Donald.
Ada beberapa sifat yang membuat seorang servant leader mudah dikenali. “Servant leader itu gampang dikenali, dia sifatnya rendah hati dan mau bantu orang. Itu yang paling utama. Disamping itu, sifat cirri-ciri lainnya adalah mau belajar. Karena dengan belajar dia berusaha meyakinkan orang bahwa ia memiliki kemampuan untuk memimpin orang lain. Dia bisa menunjukkan cara bagaimana pekerjaan itu diselesaikan, dan menunjukkan inspirasi bagi anak buahnya”, tukasnya.
Lalu bagaimana cara kita mendidik seseorang untuk menjadi servant leader? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Namun cara yang paling tepat dan cepat menurut Donald yaitu melalui coaching dan mentoring. “Artinya seorang pimpinan harus menunjukkan perilaku yang dia inginkan kepada anak buahnya, dia harus melayani anak buahnya. Jika dia bilang kita harus lakukan budaya tepat waktu, si atasan juga harus tepat waktu. Pemimpin harus memberikan teladan.”Kedua, pemimpin harus memberikan feedback dan manfaat langsung atau tidak langsung saat melihat perilaku anak buahnya. Jika anak buahnya berbuat kesalahan dia bisa menegur, memperbaiki dan memberi tahu bagaimana dia seharusnya berperilaku.
Yang ketiga, dalam program mentoring si pemimpin harus mengembangkan karir dan kehidupan dari anak buah itu supaya dia bisa menjadi seseorang yg lebih baik dimasa depan. “Bagaimana dia bisa meningkatkan levelnya lebih tinggi, bagaimana supaya dia bisa dipromosikan, bagamana supaya 5 tahun kedepan dia bisa jadi pimpinan atau manajer di perusahaan, training apa yg harus dilakukan, sikap seperti apa yang harus dikembangkan, karakter seperti apa yang harus ditonjolkan. Itu dibantu dengan adanya satu karir plan yang cukup jelas dan ini peran dari pimpinan langsung sangat besar melalui coaching itu”, terang Donald.
Cocok Untuk Budaya Indonesia
Disamping dapat memberikan manfaat positif bagi perusahaan, Donald Lantu kemudian menjelaskan bahwa servant leadership adalah bentuk kepemimpinan yang sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia. “Karena apa, di Indonesia dengan multi kultur dan mengandalkan nilai-nilai budaya, mengandalkan nilai-nilai yang dianjurkan agama”, tegasnya.
Menurut lulusan Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung ini, beberapa agama di Indonesia mengajarkan bahwa seseorang harus menjadi pemimpin pelayan dan menerapkan hal itu dalam berbagai bidang kehidupan dalam berbagai situasi yang berbeda-beda. Pun demikian dengan tokoh pendidikan seperti Ki hajar dewantara yang mengajarkan 3 prinsip dasar kepemimpinan: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Prinsip dasar tersebut intinya menganjurkan bahwa pemimpin harus menjadi teladan, membangun kebersamaan, dan mendukung dan memberikan kesempatan pada pengikutnya untuk berkembang. Oleh karena itulah menurut Donald bentuk servant leadership sangat tepat dengan kultur budaya Indonesia. “Artinya seorang pemimpin harus melayani. Ini sangat cocok untuk budaya Indonesia”, katanya.
Artikel sebelumnya
.gif&contenttype=gif)