Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Pengembangan

 

Memahami Hypnosis untuk Memotivasi

Edisi 37, April 2007

Sekitar abad 18 silam, Dr. Franz Anton Mesmer dari Austria mengembangkan sebuah cara berkomunikasi dengan mempengaruhi alam bawah sadar yang saat ini kita kenal dengan hypnosis.

Sekitar abad 18 silam, Dr. Franz Anton Mesmer dari Austria mengembangkan sebuah cara berkomunikasi dengan mempengaruhi alam bawah sadar yang saat ini kita kenal dengan hypnosis. Perkembangan metode ini kemudian dilanjutkan oleh ilmuwan lainnya seperti Sigmund Freud yang dikenal sebagai salah satu tokoh peletak dasar-dasar ilmu kejiwaan.

Setelah melalui berbagai proses penelitian dan pengembangan yang panjang, saat ini hypnosis telah menjadi salah satu cabang dari ilmu pengetahuan. Di era hypnosis modern, Dr. Milton Erickson merupakan salah satu tokoh utama yang mengembangkan ilmu pengetahuan ini. Melalui American Society of Clinical Hypnosis (ASCH) yang didirikannya tahun 1957, Dr. Milton Erickson mengembangkan hypnosis melalui riset-riset ilmiah untuk dikembangkan dibidang kesehatan. Tak heran kalau anggota dari komunitas ini terdiri dari psikolog, psikiater, perawat, dokter, terapis, dan lain-lain. Mereka menerapkan hypnosis dalam menjalankan profesi mereka.

Saat ini hypnosis telah berkembang dan diaplikasikan ke berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, pengembangan diri dan lain-lain. Di Amerika Serikat, contoh-contoh aplikasi dari hypnosis antara lain Hypnotherapy, Clinical Hypnosis, Medical and Dental Application, Educational Application, Forensic Application, Self-hypnosis, Hypnodermatology, dan lain-lain. Selain itu saat ini juga dikenal berbagai disiplin ilmu yang merupakan pengembangan dari hypnosis seperti Neuro Linguistic Programming (NLP), Photographic Reading, dan lain-lain.

Hypnosis selama ini memang kurang populer karena seringkali kalangan awam menghubungkan hypnosis atau hypnotisme dengan hal yang bersifat mistik dan magic. Walaupun seakan-akan memiliki efek yang sangat ekstrim, namun hypnosis sebenarnya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan unsur mistik ataupun magic. Karena memang pengembangan hypnosis sendiri dilakukan secara ilmiah dan saat ini banyak dipakai dibidang kedokteran.

Di Indonesia sendiri saat ini ada beberapa lembaga pelatihan hypnosis yang memberikan pelatihan semacam ini. Salah satunya adalah The Executive Hypno Training (The-EHT) yang sering mengadakan program pelatihan hypnosis. Saat diwawancara HC disela-sela pelatihan yang diadakan di Cisarua, awal Maret lalu, Iwan Toruan selaku Managing Partner The-EHT mengungkapkan bahwa ia mulai mengenal dan mempraktekkan metode hypnosis ini tatkala masih bertugas sebagai HR professional di beberapa perusahaan besar yang pernah di tanganinya seperti Sogo dan Coca Cola.

Di dalam pelatihan yang bertajuk Fly High ini, diharapkan para peserta dapat mengeksploitasi potensi kekuatan diri dengan Self-Hypnosis. Self-Hypnosis sendiri merupakan proses penanaman nilai baru kedalam pikiran oleh diri sendiri untuk menghasilkan kondisi atau tindakan positif yang kita kehendaki. Selama kegiatan pelatihan, peserta sempat menjajal Firewalk atau berjalan di atas bara api dari kayu. Mustahil memang kedengarannya, karena tubuh

kita pada dasarnya tidak bisa menerima panas yang melebihi 80 derajat celcius. Namun setelah menjalani terapi yang diberikan oleh therapist dari The-EHT, hampir semua peserta mampu melakukan firewalk.

Seni Komunikasi

Dalam konteks pembinaan dan pengembangan karyawan, penguasaan teknik hypnosis menurut Iwan terkadang dibutuhkan di dalam proses interaksi dalam lingkungan kerja. Hypnosis menurutnya dapat terjadi saat proses coaching antara seorang atasan dan karyawannya. “Ketika saya coaching anda untuk melakukan sesuatu saya perhatikan cara berpikir anda, cara bertutur anda, cara bersifat. Ketika diperhatikan dan program pikiran bawah

sadarnya nggak pas, proses penanaman nilai dapat dilakukan”, ujarnya. Tetapi Iwan menggaris bawahi atasan tersebut harus mengerti tentang dunia bawah sadar dan bagaimana memasukkan sugesti atau program baru kedalam pikiran bawah sadar bawahannya.

Sementara itu bagi Meysi Deviani, seorang hypnoterapist, kepada HC menjelaskan bahwa tujuan menggunakan hypnosis dalam dunia bisnis menurutnya agar kita bisa lebih fokus dengan apa yang kita kerjakan. Selama menangani kliennya, ia sering menemukan beragam persoalan yang menyebabkan mereka gagal dalam menjalankan bisnisnya. “Kita cari apa yang menyebabkan klien kita ini kok bisnisnya agak sulit. Nanti kita cari solusinya dari diri klien tersebut”, ujar Meysi.

Setelah menjalani terapi ia sering melihat bahwa kesulitan bersosialisasi menjadi penyebab bisnis kliennya sulit berkembang. Setelah memberesi masalah pada kliennya, pada tahap berikutnya ia biasanya mengeksplor kelebihan di dalam diri kliennya. Selain itu Meysi melihat bahwa program ini sangat bagus untuk memotivasi karyawan. “Pasti kan setiap orang ada masalah atau problem dimana akhirnya kerjanya jadi nggak benar. Nah disini mungkin

sangat disarankan agar atasan mempelajari ini agar dia bisa memanage karyawanya”.

Namun untuk melakukan hypnosis tersebut seorang atasan harus memiliki kemampuan untuk membuat suasana sekitarnya nyaman. “Karena ketika dalam kondisi nyaman, otak kiri atau logika nggak berfungsi secara optimal. Otak kanan atau bawah sadarnya yang terbuka. Setelah dia nyaman, lalu kita bisa masukkan nilai baru”, ujar Iwan Toruan. Pria kelahiran Jakarta ini bercerita bahwa ketika masih menduduki posisi HR di eks perusahaannya dulu, ia sering melakukan diskusi santai dengan bawahannya. “Mungkin secara konseptual mereka nggak sadar kalau yang mereka lakukan proses hypnosis”, lanjut Iwan.

Oleh karena itulah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi merupakan factor penting keberhasilan hypnosis. Karena bagi Meysi Deviani, hypnosis pada dasarnya merupakan seni komunikasi.

“Hypnosis ini kan sebenarnya lebih ke seni komunikasi. Jadi ada kata-kata untuk memotivasi. Karena kalau kita salah menyampaikan kata-kata tersebut, akhirnya yang ditangkap pikiran bawah sadar kita itu berbeda dengan apa yang mungkin kita maksudkan”, timpalnya.

Jadi efektifitas keberhasilan proses ini sangat bergantung dari cara si pemakai dalam menerapkannya. Menurut Meysi, proses ini harus dilakukan secara berulang-ulang, “Pikiran orang setiap hari menerima database baru. Seperti computer kan mungkin ada virus-virus yang masuk kedalam pikiran. Kalau tidak di upgrade lagi seperti itu mungkin efektivitasnya akan berkurang”, tukasnya.

Sementara itu Iwan Toruan melihat efektifitas hypnosis dapat dilihat dari output yang dihasilkan karyawan dalam bekerja. “Perilaku berubah, kinerja berubah, pastinya output akan naik. Artinya produktivitasnya akan naik. Pasti.”, tegasnya mantap. (adt)

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 76 Juli - Agustus 2010
Masa Depan SDM Sekretaris, Tetap Eksis di Segala Situasi dan Kondisi