Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Pengembangan

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Gaya MAK Mengoptimalkan SDM

Edisi 67 Oktober 2009

Setiap industri punya cara sendiri untuk mengembangkan karyawannya. Begitu pun PT Mega Andalan Kalasan (MAK), perusahaan manufaktur peralatan rumah sakit yang berpusat di Jogjakarta ini punya cara unik dalam membangun SDM-nya.

Memasuki ruang produksi PT Mega Andalan Kalasan (MAK), suara bising dari dentuman mesin dan alat-alat berat terdengar keras. Bunyinya nyaring dan tak jarang memekakkan telinga. Mesin-mesin berat beragam fungsi seperti mesin pencetak (moulding machine), mesin pembubut, dan pembuat sekrup, yang tingginya minimal 1,5 meter itu dioperasikan oleh para operator yang sebagian besar berusia muda. Para operator mesin yang rata-rata lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan teknik mesin tersebut dengan tekun dan teliti mengawasi setiap sekrup yang dicetak agar ulirnya pas dan tidak salah ukur.

Mengamati kegiatan di pabrik yang dipastikan mengikuti standar operasi dan prosedur atau biasa disebut SOP itu memunculkan banyak pertanyaan. Pasalnya, semua mesin berproduksi secara otomatis. Apa yang MAK terapkan dalam rangka memfasilitasi kebutuhan pengembangan diri para operatornya? Bagaimana sumber daya manusia (SDM) di industri manufaktur berkembang selaras dengan standar operasi dan prosedur (SOP) yang dijalankan?

Salah satu tujuan pengembangan SDM di MAK adalah membangun, mendayagunakan, dan menyiapkan SDM untuk perkembangan perusahaan. Begitu penuturan Samrat, Kepala Unit Departemen Human Resources (HR) MAK, yang ditemui HC di ruang kerjanya di kantor pusat MAK, Jogjakarta, pertengahan Agustus lalu. ”Kalau perusahaan berkembang, SDMnya harus bisa mengikuti perubahan dengan membangun sikap positif,” kata Samrat.

MAK yang berdiri sejak 1988 ini termasuk perusahaan yang konsisten di bidangnya dan membawa perubahan baru di kawasan Kalasan yang saat itu penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. ”Membawa perubahan baru yaitu industri ke lingkungan pertanian butuh perjuangan karena tidak mudah mengubah DNA seseorang,” kata Samrat. DNA inilah yang mau tidak mau perlu dicermati dalam mengembangkan SDM MAK. Mengingat SDM MAK berasal dari lingkungan pertanian, mau tidak mau perlu menyamakan frekuensi dengan dunia manufaktur.

Mencetak ’kunci’ utama untuk berkembang adalah langkah pertama MAK dalam memfasilitasi pengembangan karyawan. ”Sejak awal karyawan sudah diperkenalkan budaya untuk mau berkembang, inilah kuncinya,” ujar Samrat. Konkretnya, proses perekrutan di MAK mewajibkan karyawan untuk lulus dari pusat pelatihan yang diselenggarakan oleh perusahaan. Inilah yang menjadi parameter dari kualitas dan kesinambungan SDM di MAK. ”MAK menjadi tempat pilihan bekerja anak-anak teknik yang kuliah di sekitar sini. Mulai tahun 2001 kami mulai merekrut lulusan S1,” ungkapnya.

Samrat menjelaskan, kebutuhan MAK pada angkatan kerja muda cukup besar karena karakter anak muda siap menerima perubahan. ”Tapi, saya juga senang karena angkatan lama di MAK adalah orang-orang yang tanggap dengan perubahan dan mau belajar,” katanya berkomentar.

Nurhadi, Kepala Unit Komponen Logam MAK yang bergabung sejak perusahaan ini dirintis, merasakan besarnya peluang yang diberikan manajemen untuk mengembangkan dirinya hingga ia dipercaya menduduki posisi Kepala Unit. Bapak tiga anak ini mendapat tanggung jawab untuk mengawasi dan mengontrol divisi komponen logam yang memproduksi komponen logam suku cadang produk MAK. ”Sama halnya dengan yang lain, saya memulainya dari operator. Pernah merasakan bagaimana mengelas, membubut, dan lain-lain,” kata pria lulusan Sekolah Teknik Menengah ini. ”Di sini karyawan bukan semata-mata tenaga kerja, tapi juga proses yang bersinergi,” ujar Nurhadi menambahkan.

Untuk menangkap kebutuhan karyawan, manajemen MAK membangun sebuah sistem yang diberi nama ”Sistem Saran”. Jangan dibayangkan bahwa sistem ini seperti sebuah mesin. Ini adalah nama yang diberikan oleh manajeman untuk memberi kebebasan berpendapat dan berkreasi bagi karyawan. ”Karyawan boleh kreatif menciptakan sesuatu, misalnya punya ide membuat alat produksi yang menghemat waktu,” Nurhadi mencontohkan.

Di mata Nurhadi, hal ini membuka ruang apresiasi dan kesempatan bagi karyawan untuk lebih berkembang. ”Kesempatan untuk berprestasi, ada evaluasi per tahun dan kalau prestasi karyawan bagus, juga disiplin, bisa dipromosikan. Saya merasa kinerja saya dihargai di sini,” kata Nurhadi jujur.

Pendapat Nurhadi diamini oleh Anggit, Agnes, Juliadi dan Setiono. Mereka adalah karyawan MAK yang rata-rata sudah bergabung di perusahaan ini lebih dari tiga tahun. ”Saya sudah 15 tahun bekerja di MAK. Saya merasa bangga karena MAK membuat produk dalam negeri dan tetap eksis hingga hari ini,” kata Setiono yang ditemui di Mega Techno Park (MAT), salah satu komplek pabrik MAK yang luasnya mencapai 8 hektar.

Juliadi pun merasakan hal serupa. Operator muda berusia 25 tahun ini mengaku mendapatkan keleluasaan untuk berkreasi. ”Kesempatan di sini terbuka lebar untuk maju, tergantung kita sendiri mau atau tidak mengambilnya. Menurut saya kalau mau maju perlu ketekunan dan kreativitas,” kata Juliadi berpendapat. ”Cara untuk menjadi kreatif adalah dengan banyak membaca buku dan berlatih,” ujar alumni STM jurusan teknik mesin ini menambahkan.

Bisa dikatakan, hampir semua karyawan MAK mengawali kariernya dari level operator. Misalnya Agnes, yang kini ditempatkan di bagian marketing MAK. Ibu satu anak yang juga lulusan Teknik Informatika Universitas Atmajaya, Jogjakarta ini mengungkapkan, dirinya dulu melakukan pekerjaan yang sama dengan kaum Adam. ”Saya pernah jadi operator, ngelas juga. Walaupun sekarang sudah pindah ke kantor, saya tahu bagaimana rasanya di bagian operator,” ujar Agnes.

Mengapa ini terjadi di MAK? Samrat yang mewakili manajemen MAK menjelaskan, karyawan yang memulai pekerjaannya dari bawah akan memiliki rasa ’kepemilikan’ yang besar terhadap perusahaan. Maka enggagementpun terbentuk secara alami dan karyawan merasa puas dengan apa yang dijalaninya. ”Bekerja bukan lagi kewajiban, tapi menjadi kebutuhan yang dilakukan dengan sepenuh hati,” tuturnya fi losofis.

Dalam pandangannya, bila karyawan bisa mencapai tahapan itu – bekerja dengan hati – maka MAK dapat berkembang lebih cepat, baik dalam diversifi kasi produk maupun perluasan pabrik. ”Karyawan MAK yang mau maju dan berkembang butuh tiga hal, yaitu memiliki kepekaan, kemauan, dan loyalitas,” ungkap Samrat memberitahu.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR