Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Pengembangan

 

Belajar Memimpin Dari Sang Pemimpin

Edisi 54 September 2008

Dibutuhkan kejelian dari seorang pemimpin sejati untuk menyiapkan kader agar perusahaan terhindar dari krisis kepemimpinan. Bagaimana pemimpin menularkan pengalaman dan kepiawaiannya kepada orang lain?

“Bagaimana perusahaan membangun pemimpin baru di tengah waktu yang tak banyak?” Pertanyaan ini mencuat dalam sebuah seminar yang diselenggarakan perusahaan konsultan Accenture di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, beberapa waktu lalu. Si penanya, yang kemudian diketahui bernama Retno Dwiyanti dan menduduki jabatan Direktur HR PT Beiersdorf Indonesia, mengemukakan alasannya bertanya demikian. “Seorang pemimpin membutuhkan waktu untuk membuktikan kemampuannya. Ini dilema bagi perusahaan,” ungkapnya terus terang.

Sang pembicara, Robert J Thomas, menjelaskan bahwa sebenarnya setiap orang memiliki pengalaman memimpin baik di rumah, di dalam komunitas, maupun saat bekerja. Menurut pria yang akrab disapa Bob ini, ada dua hal penting yang harus dipelajari tentang kepemimpinan. “Pertama, yang Anda pelajari tentang kepemimpinan adalah yang Anda dapatkan di dalam diri Anda sendiri. Kedua, segala hal yang Anda butuhkan untuk dipelajari,” ujar Bob menjawab pertanyaan Retno.

Bagi seorang kandidat pemimpin, lanjut Bob, menemukan guru yang tepat adalah sangat penting. “Orang tersebut harus peduli untuk mengatakan kebenaran kepada Anda,” ia menegaskan. “Ada sebuah buku yang ditulis oleh Robert Keegan berjudul The Evolving Self. Pembukaan buku ini menuliskan tentang kekuatan penandaaan bayi. Bayi sangat bagus dalam merekrut. Mereka memberi tanda kepada orang lain lewat matanya untuk membantu mereka,” kata penulis buku Crucibles of Leadership ini. Maksudnya, coach atau mentor yang tepat adalah orang yang tulus dan peduli terhadap kesuksesan Anda. “Anda harus menemukan mereka dan merekrut mereka sebagai mentor, tetapi mereka juga harus mudah direkrut,” ujar pehobi berkebun ini. Selain itu, “Anda membutuhkan orang lain yang menginginkan diri Anda sukses, tumbuh dan berkembang, tetapi cukup kritis dalam membina Anda. Inilah orang yang dicari,” Bob menandaskan.

Setelah menemukan mentor yang tepat, selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah diri sendiri. “Mentor adalah orang yang pengalamannya ingin Anda mengerti,” tutur Bob memberikan alasan. Dia menambahkan, mentor yang baik adalah orang yang tahu kapan ‘berceramah’ secara alami. “Mentor yang baik adalah yang memberikan pertanyaan, bukan seseorang yang suka bercerita,” ujar pemegang gelar Ph.D dari Northwestern University ini.

Bob berpendapat salah satu faktor penunjang untuk menjadi pemimpin adalah talent. Akan tetapi, sebesar apa peran talent dalam membentuk kepemimpinan? Ia menilai keberadaan talent sangat penting, namun bukan segalanya. “Sebesar apapun talent Anda, bila tanpa motivasi dan gairah untuk memimpin maka tidak akan bisa menjadi pemimpin yang efektif,” ungkap pria kelahiran 5 Desember 1952 ini. “Di luar talent dan motivasi, pemahaman dasar tentang kepemimpinan, cara berkomunikasi, membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan memberi ceramah yang bagus, juga penting,” tutur Bob menjelaskan.

Bila dirinci lebih detail, Bob menilai, ada empat hal penting yang harus dimiliki calon pemimpin. “Empat hal lainnya adalah temukan motivasi Anda, keterampilan apa yang harus Anda kembangkan, di mana Anda bisa mendapatkan mentor terbaik, dan bagaimana Anda mendapatkan respons yang tepat agar tahu yang Anda lakukan itu benar atau tidak,” tuturnya. Faktanya, kebanyakan pemimpin justru belajar dari lingkungan di sekitarnya bukan di kelas formal. “Lingkungan di mana pemimpin tersebut berada ikut memengaruhi pembentukan karakternya,” kata ayah dari Alyssa Thomas ini, bersemangat.

Intinya adalah, seorang pemimpin mampu menggerakkan energi positif dari orang-orang di sekitarnya. “Apakah bagus jika seseorang menduplikasi dari pemimpin yang ada?,” tanya HC kepada Bob. “Kadang bagus, tapi tergantung yang Anda pelajari. Contohnya, belajar main biola dengan metode Suzuki,” Bob memberi contoh. “Metode Suzuki mengajarkan anak-anak bermain biola dengan menduplikasi. Anak diminta melakukan gerakan yang sama berulang-ulang seperti yang dicontohkan oleh gurunya. Anak-anak yang belajar biola dengan metode ini tampak seperti ahli bermain biola,” kata Bob memaparkan. Sayangnya, ia melanjutkan, ketika anak-anak itu diminta memainkan lagu lain, mereka tidak tahu memainkannya karena belum diajarkan.

Mengomentari peran talent dan praktiknya di perusahaan, Bob mengatakan dengan lugas, “Sejujurnya saya tidak tahu mana yang paling berperan besar dalam mengembangkan kepemimpinan, apakah talent atau praktik. Saya pribadi lebih percaya dengan praktik,” jawab suami Dr. Rosanna Hertz ini. “Praktik itu sesuatu yang bisa menyakinkan orang untuk melakukannya. Saya belum pernah melihat seseorang melakukan hal bagus dua kali. Contohnya, ketika saya bermain golf dan melakukan pukulan bagus, saya bangga akan pukulan itu. Tapi saya tahu, saya tidak bisa melakukannya dua kali,” ujar pehobi golf ini.

Bob mengakui bahwa konflik kerap timbul di dalam proses belajar. Untuk mengatasi hal itu, ia memberi saran bijak: “Lead yourself first, then lead the other”. Bob memang benar. Ketika belajar dari pengalaman seseorang, sesungguhnya kita mempelajari tacit knowledge-nya. “Saya mengajar program leadership yang muridnya berasal dari berbagai latar belakang bangsa. Ketika mengajar saya tidak memberikan definisi leadership, jangan berharap itu dari saya. Yang saya lakukan adalah bertanya kepada mereka agar mereka memutuskan sendiri apakah itu leadership,” ungkap Bob yang muridnya berasal dari Indonesia, Srilanka, Japan, Cina, Kazakthan, England, dan USA, pria maupun wanita.

Marc Hauser, Executive Partner Accenture, melengkapi pendapat Bob. Menurut pria kelahiran Perancis, 11 April 1966 ini, agar proses belajar dan suksesi berjalan lancar, caranya adalah melibatkan kandidat pemimpin ke dalam pekerjaan harian. Justru dalam keseharian itulah lebih banyak kesempatan untuk belajar. “Ini bentuk praktiknya. Beri mereka kesempatan untuk praktik dan berikan timbal balik atas usaha mereka,” saran pria pecinta lukisan kontemporer ini menutup diskusi.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google