Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Pengembangan

 

Berkarier di Negeri Orang

Edisi 51 Juni 2008

Banyak perusahaan multinasional yang memberi kesempatan bagi SDM lokal untuk mengepakkan sayapnya di kancah global. Apa saja kemampuan yang harus dimiliki? Benarkah jabatan pun terbentang luas seusai bertugas di luar?

Suatu siang di salah sudut kota Hong Kong, di sebuah resto. Eko B. Bramantyo terlihat sedang asyik berbincang dengan empat rekannya. Sembari menyantap makan siang, mereka melakukan business review. “Saking keasyikan ngomong sampai lupa teman-teman saya sudah selesai makan. Mereka nungguin saya, lama-lama tidak enak juga. Sejak itu saya belajar makan cepat,” papar Eko mengenang. Tak hanya sepenggal kisah lucu itu yang masih diingat Eko. Senior Manager Customer Marketing Philips ini juga menyimpan banyak pelajaran berharga saat ia berkarier di Hongkong.

Hong Kong, satu dari sekian negara tujuan ekspansi perusahaan lampu Philips. Pada tahun 1997 saat krisis energi dan penghematan listrik menghantam Nusantara, justru menjadi peluang emas bagi beberapa karyawan di Philips. Di balik kue bisnis lampu hemat energi yang menghasilkan revenue miliaran rupiah, Philips tidak pelit menanam investasi dalam bentuk pengembangan sumber daya manusia (SDM). Eko, satu dari sekian profesional di Philips yang pernah mencicipi berkarier di dunia global. Memulai karier marketing di Philips sekitar 11 tahun yang lalu, karier Eko memang moncer. Divisi marketing dan manufacturing yang pernah dijalaninya telah mengasah insting dan sisi kreatifnya. Dinilai berprestasi dan memiliki kemampuan leadership, pada tahun 2000 dia diterbangkan ke Hong Kong sebagai orang Asia pertama di antara jajaran selevel Eko di Philips Hong Kong yang kala itu didominasi oleh 70% ekspatriat Belanda dan 30% ekspatriat Eropa.

Bertugas di tingkat regional menjadi salah satu bentuk pengembangan karier yang ditawarkan berbagai perusahaan multinasional bagi karyawannya. Di Nissan Indonesia, misalnya, program ini dimulai sejak 1999. Prioritasnya adalah level supervisor sampai deputy director dan diprioritaskan bagi karyawan muda di bawah 40 tahun. Segendang sepenarian adalah HSBC. Bank yang dikenal dengan tagline ‘the world’s local bank’ ini membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk berkarier di luar negeri. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan SDM, terutama karyawan HSBC yang teridentifikasi sebagai high potential (Hi-Po). Untuk program pengembangan ini, HSBC bertindak sebagai fasilitator professional bagi para karyawan berprestasi melalui program Global Job Posting dan website khusus berisi informasi dan bimbingan lengkap bagi karyawan yang tertarik mengikuti program pengembangan karier di luar negeri. “Mulai dari cara membuat CV, peraturan yang berlaku, jenis dan pengembangan yang tersedia, gaji dan remunerasi yang diperoleh, FAQ, sampai dengan culture wizard dari 100 negara,” jelas Mia Patria dari HSBC.

Kunci yang dapat membuka pintu masuk ke ruang global adalah dengan menunjukkan kompetensi diri. Alex Deni, konsultan SDM dari Dunamis menjelaskan, ada dua jenis kompetensi untuk layak terbang, yaitu threshold competency (berupa keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu) dan differentiating competency (berupa kumpulan perilaku yang membedakan karyawan layak terbang dengan yang tidak). Tuntutan threshold competency di luar negeri pada dasarnya sama saja dengan tuntutan di dalam negeri. Parameternya adalah pekerjaan yang akan digeluti dan bahasa Inggris merupakan salah satu generic threshold competency yang mutlak. Dan, yang tidak kalah penting adalah, tiga aspek dari differentiating competency, yaitu impact & influence, achievement orientation, dan information seeking. Perbedaan lingkungan, tempat tinggal, makanan, cuaca, bahasa lokal, dan kebudayaan, dinilai Alex, akan menambah pengalaman dan memperkaya sudut pandang.

Peluang untuk melejitkan karier setelah pulang dari luar negeri menjadi sangat terbuka luas. Pengalaman interaksi dan dealing dengan regulasi, pimpinan, kolega, pelanggan atau pemasok dari negara yang berbeda pasti akan menumbuhkan kematangan dalam karier orang tersebut. Harap mahfum kalau orang Indonesia masih lebih senang yang berbau luar negeri. Mungkin rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput sendiri. Boleh heran juga kalau karier Anda tiba-tiba melejit sepulang Anda berkarier di ruang global. Hallo effect memang dahsyat bagi sebagian besar orang Indonesia. Mulailah menyusun mimpi Anda di atas kompetensi, prestasi, komitmen, intregritas, kreativitas, dan leadership. Buktikan Anda mendapatkan nilai A agar mendapatkan kesempatan dari perusahaan, tempat Anda merentas karier. Dan jangan lupa, asah bahasa internasional agar lancar ngobrol ngalor-ngidul seakan-akan Andalah sang native speaker. Tertantang? Buktikan sekarang.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google