Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Fokus
Siapakah Knowledge Worker Sejati?
Edisi 55 Oktober 2008
Meningkatnya persaingan bisnis memicu kemunculan para pekerja yang produktivitasnya berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan yang mereka miliki. Siapakah para pekerja pengetahuan yang akrab disebut knowledge worker ini?
Meningkatnya persaingan bisnis memicu kemunculan para pekerja yang produktivitasnya berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan yang mereka miliki. Siapakah para pekerja pengetahuan yang akrab disebut knowledge worker ini?
Thomas H. Davenport dalam bukunya “Thinking for a Living: How to Get Better Performance and Results from Knowledge Workers” mendefinisikan pekerja pengetahuan sebagai pekerja yang memiliki tingkat keahlian, pendidikan dan pengalaman yang tinggi, dan tujuan utama yang mereka kerjakan selalu melibatkan proses penciptaan, pendistribusian dan pengaplikasian pengetahuan. Secara ringkas dapat dikatakan, pekerja pengetahuan adalah mereka yang pekerjaan utamanya selalu melibatkan pengetahuan dan informasi.
Istilah knowledge worker (KW) dikumandangkan pertama kali oleh pakar manajemen Peter Drucker hampir 40 tahun yang lalu. Jadi, sebenarnya KW bukan istilah baru. Hanya saja, istilah ini makin mengemuka seiring meningkatnya tuntutan pekerjaan dan persaingan di dunia bisnis. Peran pekerja jenis ini dalam ekonomi yang berkembang sekarang makin terasa penting. Sebab, telah terjadi pergeseran yang berarti dari ekonomi berbasis industri ke ekonomi berbasis pengetahuan.
Menurut Alvin Soleh, Konsultan Knowledge Management (KM) dari KM-Plus Learning-Lead, keberadaan KW dilatarbelakangi oleh lahirnya era knowledge economy, yang berlawanan dengan era bisnis keluarga. Kondisi itu menumbuhkan kesadaran bahwa pengetahuan merupakan aset utama organisasi. “Pengetahuan menentukan tingkat keberhasilan seseorang di dalam organisasi – bukan kedekatan, kekeluargaan, atau hal-hal lain,” katanya menjelaskan. Karena itu pengetahuan harus terus dikembangkan dan diperbaharui. “Knowledge worker adalah orang-orang yang peduli pada pengembangan dan pembaharuan pengetahuannya,” Alvin menambahkan.
Jika dulu pekerja dibayar karena ototnya, sekarang mereka dibayar karena otaknya. Aktivitas utama yang mereka kerjakan adalah berpikir. Di era ini, tugas-tugas rutin manusia sudah diambil alih oleh komputer atau mesin. Akibatnya, para pekerja dituntut untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh komputer. Mereka harus bisa menggunakan otak mereka untuk melakukan analisa dan membuat inovasi. “Hidup matinya perusahaan di era ini sangat tergantung pada kualitas pengetahuan para pekerjanya,” ungkap Managing Director Multi Talent Indonesia Irwan Rei.
Irwan melihat, pekerja pengetahuan muncul sebagai hasil dari semakin banyaknya profesi atau pekerjaan yang lebih mengandalkan pengetahuan, informasi, dan kreativitas di dalam menjalankan pekerjaanya dibandingkan kemampuan fisik. Perubahan industrialisasi dari yang berorientasi manufaktur ke yang berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) menimbulkan perubahan jenis kualifikasi maupun kompetensi orang-orang yang diperlukan oleh organisasi tersebut. Kemajuan teknologi pada akhirnya memberikan ruang kepada profesi-profesi yang mengandalkan informasi dan pengetahuan untuk tumbuh dan berkembang dibandingkan kemampuan fisik.
Diakuinya, tidak ada definisi baku mengenai KW. Namun, secara umum, profesi-profesi yang lebih mengandalkan pengetahuan dan informasi dibandingkan kemampuan fisik umumnya masuk kategori ini, misalnya akuntan, programmer, ahli hukum dan konsultan. “Seorang web-programmer atau ahli hukum mungkin hanya memerlukan satu laptop dan meja kecil untuk menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi organisasi dibandingkan 100 petani. Apa yang terjadi di Google, e-Bay, atau Facebook merupakan contoh nyata bahwa pengetahuan, informasi, kreativitas, dan inovasi menjadi sumber pertambahan nilai yang luar biasa bagi organisasi,” kata konsultan yang merangkap praktisi SDM ini.
Alvin menambahkan, tuntutan yang dihadapi para pekerja pengetahuan sangat berbeda dengan pekerja pada era sebelumnya. “Mereka dituntut untuk beraktivitas secara kreatif dan menciptakan inovasi-inovasi baru,” ujarnya. Karena itu mereka memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu haus belajar (life-long learner), termasuk belajar dari pengalaman, dan terus mengembangkan pengetahuannya, sehingga kontribusi terhadap perusahaan terus meningkat seiring dengan meningkatnya pengetahuan.
Secara umum, Alvin memerhatikan, ada lima hal utama yang dimiliki seorang pekerja pengetahuan yang disebut dengan istilah “SMART”, yaitu kepanjangan dari: self driven (memiliki dorongan pribadi untuk menyelesaikan pekerjaan); motivated (memiliki motivasi tinggi dalam bekerja); action oriented (berorientasi pada aktivitas, bukan rutinitas); responsible (memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya); dan team player (bekerja dengan baik di dalam tim). Untuk lebih detailnya bisa dilihat pada boks (Ciri-ciri Knowledge Worker).
Bila mengacu pada ciri-ciri tersebut, Alvin berani mengatakan bahwa semua bidang membutuhkan pengetahuan dan terus berkembang, seperti bidang marketing, finance, TI, HR, jurnalis, enginer, network spesialis, bahkan petani sekalipun. “Petani yang sukses terus meningkatkan pengetahuan dirinya dan menggunakan teknologi untuk bercocok tanam,” ujarnya.
Di mata Andreas BS, pengajar pada Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya, seorang knowledge worker yang ideal adalah yang melakukan pekerjaan berdasarkan pengetahuan, mimpi, kognitif, dan mind. “Mereka tidak berhenti karena pengetahuan selalu berkembang. Maka, yang bersangkutan selalu mengembangkan pengetahuan-pengetahuannya,” ujarnya. “Kalau pengetahuan itu tidak dikembangakan atau dengan kata lain yang bersangkutan berkutat pada pengetahuan itu-itu saja, suatu saat akan ketinggalan. Karena itu seseorang harus berpikir setiap saat sehingga pengetahuan yang dimiliki selalu up to date, lebih cocok, dan lebih maju dari semua yang akan datang,” jelasnya.
KW yang baik, menurut Andreas, adalah karyawan yang selalu mengasah soft skill-nya. “Mungkin soft skill itu kemampuan yang tidak ada hubungannya dengan yang dikerjakan secara langsung, misalnya kemampuan berkomunikasi dan menjaga emosi. Namun ini penting,” tegasnya. “Banyak orang pinter, tapi EQ-nya tidak stabil jadi mudah stress,” katanya menukas. Selain itu, motivasi dan pencapaian (achievement) seorang KW yang baik harus tinggi pula. “Harus punya kemauan untuk terus belajar, membaca, dan berbagi dengan teman,” katanya. Bisa dikatakan, KW berupaya menjalankan sesuatu dengan cara yang berbeda dari yang lain.
Diakuinya, tidak mudah membuat sebuah parameter untuk mengukur kelayakan seorang KW. Kebutuhan untuk menilai kelayakan KW bisa ditilik dengan melihat kompetensi yang dibutuhkan. “Jadi knowledge itu bisa diterjemahkan menjadi kompetensi,” ujarnya menyimpulkan. “Orang yang IQ-nya tinggi belum tentu kinerjanya optimum. Knowledge itu dioperasionalisasi dalam bentuk kompetensi,” katanya. “Kita bisa buat parameter dari situ, seorang manajer kompetensinya apa saja. Manajer sukses dan tidak sukses itu bedanya di mana? Misalnya, manajer yang tidak sukses anak buahnya tidak berkembang karena dia tidak memiliki kompetensi untuk mengembangkan anak buah,” lanjut Andreas.
Artikel sebelumnya
