Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis

 

Booming Bisnis Game Center

Edisi 49 April 2008

Seiring kemajuan teknologi, bisnis game center saat ini boleh dibilang sedang booming. Dalam tahun-tahun mendatang pun bisnis ini akan terus melejit. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Tak heran, bila kemudian banyak bisnis game center bertebaran . Maraknya bisnis game center tidak bisa dipungkiri karena pengaruh perkembangan internet yang luar biasa dahsyat.

Anggapan bahwa industri game sekadar bisnis anak-anak, agaknya pemikiran itu harus dikikis. Angka pasti sebagai data pendukung faktual memang belum didapatkan, tetapi fenomena perkembangan dalam bisnis ini mudah diraba. Merebaknya penyedia fasilitas permainan elektronik digital ini mulai dari kawasan belanja elit hingga jauh ke pelosok daerah membuktikan pasar yang makin bergairah. Konsumen sebagian besar masih terdiri dari anak-anak dan remaja, namun rentang grafik umur semakin lama semakin lebar saja. Di sisi lain jumlah pengembang dan distributor game software lokal pun mulai bermunculan.

Di Indonesia, meski pengguna internet relative masih belum terlalu banyak dibandingkan dengan negara-negara tetangga, namun pertumbuhan penggunanya sangat fantastik. Pertumbuhan pengguna per tahunnya mencapai 25 persen dimana tahun 2007 lalu berjumlah 25 juta. Karena itu, tak salah bila bisnis game center adalah bisnis yang sangat potensial seiring perkembangan dunia IT yang terus berkembang pesat.

Diakui atau tidak, perkembangan pesat dari internet berpengaruh terhadap gaya hidup masyarakat. Bayangkan, dari yang tadinya para ABG atau eksekutif muda yang waktu luangnya banyak dihabiskan dengan dugem, kini beralih berinternet ria atau bermain game.

Bisnis game center patut dilirik lantaran tidak hanya menawarkan prospek keuntungan yang bagus tetapi juga didukung oleh konsep yang matang, manajemen yang profesional dan teknologi terkini adalah Net Ezy Cyber Cafe. Asal tahu saja, Net Ezy Cyber Cafe adalah pemain yang telah cukup lama memiliki pengalaman dalam bisnis game center.

Berdiri pada 2005 dengan gerai pertama di daerah Permata Hijau, Net Ezy Cyber Cafe awalnya masih di bawah manajemen PT Video Ezy Internasional. Baru sejak 2006 berdiri sendiri dibawah bendera PT Net Ezy Internasional dengan kepemilikan saham 50% PT Video Ezy Internasional dan sisanya PT D&D General.

Ade Haryo Kusumo selaku managing director PT Net Ezy Internasional mengatakan, bisnis game center saat ini memiliki prospek yang menjanjikan bagi franchisee. Apalagi Net Ezy Cyber Cafe memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung suksesnya franchisee.

Tidak hanya itu saja, belum lama ini Net Ezy Cyber Cafe mendapat dukungan infrastruktur dari teknologi Intel yang dapat mengurangi waktu yang biasa dibutuhkan untuk setting up komputer, monitoring dan manajemen aset bergerak, up grade software dan system recovery. Selain dengan Intel, Net Ezy Cyber Cafe juga menggandeng beberapa partner yang berkompeten di bidangnya, seperti Zyrex, Orix dan Microsoft.

Sementara peluang ini tak luput dari tangkapan Hariono Ginoto, CEO Multiplus. Sebelumnya tangan dingin Hariono telah teruji membesarkan Multiplus dalam kurun kurang dari lima tahun. Masuknya Hariono ke bisnis game ini, tak terlepas dari kecermatannya berhitung. Menjamurnya warnet dan semakin banyaknya orang yang tidak gagap teknologi sebagai sebuah alasan baginya untuk terjun ke bisnis ini.

Terjunnya Multiplus ke bisnis Game yang juga menganut pola waralaba, ini disebabkan karena belum adanya pemain yang menggarap secara serius jenis bisnis ini. Maka dengan konsep manajemen serius dan menyediakan tempat yang nyaman dan rileks, Multiplus mendirikan game center, dengan menggunakan nama Wiz Game.

Target Wiz Game yakni menjadi game center yang terbaik di Indonesia, bahkan bisa berbicara di tingkat game internasional. Nah, untuk mencapai target tersebut, Wiz game menyediakan fasilitas edukasi dan game center terpadu dengan konsep yang unik dan selalu menjadi yang terdepan dalam hal teknologi dan layanan.

Investasi tidak besar
Menurut Ade, mengenai investasi game center, tidak terlalu besar. Disebutkannya, investasi Net Ezy Cyber Cafe sekitar Rp 325 juta hingga Rp 580 juta. Investasi tersebut sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 50 juta untuk masa 5 tahun dengan jumlah komputer sebanyak 40 buah, diluar dari sewa gedung.

Lebih dari itu, Net Ezy Cyber Cafe telah menjalin kerjasama dengan PT ORIX Indonesia Finance (Perusahaan pembiayaan terkemuka yang merupakan bagian dari ORIX Group asal Jepang) untuk membantu pembiayaan bagi calon investor terutama dalam hal penyediaan komputer. Alhasil, dengan adanya fasilitas ini minimal bisa mengurangi investasi dari investor karena komputer bisa disewa selama masa franchise yakni 5 tahun.

Lalu, tengok saja perjalanan Kubus (CV Agni Biru). Penyelenggara jaringan internet dan game online yang bermarkas di Kota Kembang itu semula hanya menyediakan jasa rental komputer dengan modal awal sekitar Rp 6 juta. Tiga tahun kemudian layanan mulai ditambah sebagai warnet dan penyedia game online, dan memasuki tahun ke tujuh sudah memiliki lima cabang dengan rata-rata omset hampir Rp 3 milyar setahun.

Keberhasilan bisnis tinggi
Ade mengungkapkan, dari kelima gerai yang beroperasi rata-rata memiliki tingkat keberhasilan bisnis tinggi yang bisa dilihat dari keuntungan bersih per bulan yang bisa didapat. Untuk skema sewa rata-rata keuntungan bersih per bulan Rp 15 juta sedangkan skema beli keuntungan bersihnya bisa adalah Rp 28 juta hingga Rp 30 juta, dengan rata-rata omset per bulan Rp 70 juta hingga Rp 80 juta.

Tak heran, dengan keuntungan bersih yang sangat besar tersebut membuat pengembalian modal Net Ezy Cyber Cafe relatif sangat cepat. Secara awam BEP antara 20 hingga 21 bulan dengan ROI sebesar 51 persen untuk skema sewa dan 54 persen untuk skema beli.
Ade mengakui, keberhasilan bisnis game center tidak bisa dilepaskan dengan faktor lokasi. Untuk itu Net Ezy Cyber Cafe sangat mensyaratkan lokasi-lokasi yang memiliki traffic tinggi seperti perumahan yang padat ataupun bisa juga sekolah-sekolah atau universitas-universitas.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google