Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis
Cari Uang Lewat Piringan Hitam
Edisi 48 Maret 2008
Profesi Disc Jockey (DJ) memang tak lepas dari kehidupan dunia hiburan malam. Kini, lokasi dunia gemerlap (dugem) pun semakin marak, kebutuhan terhadap DJ juga bertambah. Saat ini nge-DJ semakin bertambah lebar. Nah, Ali Mursidi salah satunya yang membaca peluang tersebut, dengan mendirikan United DJ School.
Sekolah yang dibangun berdasarkan hobby ini, Mulanya dilatarbelakangi ketidaksetujuan orang tuanya akan kebiasaannya yang sering ke klub-klub malam. Dengan berbagai pertimbangan, orang tuanya pun membelikan seperangkat peralatan teknik untuk seorang DJ seperti piringan hitam, Cd, file MP3 dan sebagainya "klub kan biasanya di-image-kan tempat yang negatif, rawan narkoba, minum-minuman, ditambah lagi pergaulan yang bebas. Dari image tersebut, saya mencoba memberikan pandangan positif dengan mendirikan DJ school, dimana dari sini dapat memberikan kemudahan bagi para calon DJ untuk belajar secara serius. Intinya dengan adanya DJ School menjadi media atau sarana bagi calon DJ untuk terjun langsung dan diperhitungkan," ungkap Ali.
Di bawah label perusahan Sound Of Zeus, Sekolah DJ miliknya pun diberi nama United DJ school. Alasan pemilihan nama tesebut tak serta merta datang begitu saja, ia berkeinginan untuk menyatukan para DJ professional maupun calon DJ. Meskipun menyadari benar, bahwa bisnis yang digelutinya belum layak bagi kalangan tertentu apalagi yang masih tabu dengan hingar-bingar musik dan kerlap-kerlip lampu disko, Ali tetap optimis.
"Target dalam bisnis ini memang terbatas. Sekolah DJ khusus menarik minat bagi kalangan anak muda yang memang menyukai dunia gerlap malam dan ingin mencari penghasilan dari hobby yang dimilikinya. Tetapi, tak jarang pula para pelajar yang tertarik untuk menekuni teknik menjadi DJ yag baik dan benar. Bahkan, ada pula arang tua yang mengatarkan anaknya untuk latihan. Itu artinya, Sekolah DJ mulai memiliki posisi bagus khususnya di dunia hiburan," terangnya.
Seperti diakui Ali menanggapi tingkat persaingan bisnis mendirikan sekolah DJ, khususnya di Jakarta dirasakan masih jarang pemainnya. Meskipun, titik strategi ada di bilangan Jakarta selatan, ia tak menampik memang ada beberapa pemain di bidang yang sama dengannya tetapi jumlahnya pun belum mencapai puluhan, bahkan untuk jumlah 10 pun rasanya belum terpenuhi.
"Jika dihitung-hitung paling hanya 4 di daerah selatan, pusat tititk hiburan. Salah satu dari jumlah tersebut pun sudah saling mengenal karena memang sudah sering ketemu di lapangan. Dengan minimnya jumlah sekolah tersebut yang memicu saya. Berhubung masih jarang pemainnya jadi pasti ada peluang kan," akunya.
Beralamat di Ruko Ariss 99, Jakarta selatan, pria yang juga memeiliki pengalaman menjadi pembuka DJ internasional antara lain Steve Gerrald, Randi Katana, dan Kessen Tailler ini, mengaku menginvestasikan uang tidak lebih dari Rp 100 juta. Jumlah nominal tersebut ia gunakan untuk membeli peratan teknik, penyewaan ruko dan lainnya. Untuk fasilitas sendiri United DJ school memiliki studio bertingkat dua. Dengan ruang pelatihan terbagi tiga antara lain, dua ruangan digunakan untuk pelatihan dasar dan satu ruang dimanfaatkan sebagai tempat recording serta sarana lain yang turut mendukung.
Memiliki kurang lebih sepuluh siswa dan didukung empat pengajar dangan beckground DJ pula, Ali pun memasang harga Rp 1,5 juta per bulannya. Metode pembelajaran pun sifatnya menggabungkan antara teori dan praktek. Umumnya teori yang diberikan bersifat pengetahuan seputar musik seperti istilah elemen musik, penggabungan musik maupun teknik dasar memainkan peralatannya. Sedangkan untuk prakteknya biasanya siswa sudah mulai bereksperimen menggabungkan dua atau lebih elemen musik menjadi satu paduan sesuai karakternya.
"Untuk lulusannya sendiri pun disalurkan. Tetapi sebelum itu, ada istilah praktek kerja lapangan (PKL), jika ada job manggung untuk saya atau pun pengajar dalam waktu empat jam, maka sisa waktu satu jam diberikan kepada siswa yang memang layak go public. Ini pun melatih mental mereka dihadapan pengunjung. Terkadang ada yang jago mix dan punya karisma tetapi belum tentu hal itu berlaku ketika terjun langsung," paparnya yang menargetkan 60% all about DJ dan 40% mental bagi siswanya.
Pria kelahiran 13 Juni 1971 ini pun mengungkapkan, ketika timbul pertanyaan 'apakah profesi DJ akan menjanjikan?', ia pun mengilustsikan- jika dengan biaya Rp 1,5 juta per bulan, biasanya untuk manggung DJ baru bertarif Rp 500 ribu per dua jamnya, maka dapat dihitungkan berapa biaya akan kembali. Keuntungan lain, jika sudah punya 'nama' maka tarif pun akan berlipat-lipat ganda bahkan bisa mencapai Rp 10 juta sekali tampil ditambah banyaknya event-event yang memakai jasa DJ untuk memeriahkan acara. Tampaknya, sekolah maupun profesi DJ patut dilirik.
Penghasilan Menggiurkan
Kini banyak DJ yang terbilang sukses setelah menggeluti profesinya. Sebut aja DJ Anton yang memiliki sebuah Bar & Cafe bernama PARC. Selain itu, Anton menjadi direktur disebuah perusahaan ekspor dan impor kini Anton mulai merambah ke dunia bisnis real estate.
Awalnya Anton sering tampil di depan umum hanya berdasarkan hobi dan jarang menerima bayaran. Ia hanya berpikir bagaimana harus berkreasi demi menyenangkan orang lain. Namun, lambat laun Anton mulai melirik DJ sebagai salah satu profesi yang menjanjikan, "petama kali" gua pernah dibayar 100 US dolar. Jadi waktu itu setelah gua tampil di sebuah acara, pas pulangnya gua dikasih amplop. Gua ga nyangka kalau bakal dibayar, dan uang itu adalah upah pertama yang gua dapat dari nge-DJ," katanya.
Sedangkan DJ David kini memiliki record shop yang bernama Demajors, Ia juga membuka kursus DJ dengan nama yang sama. Merasa belum puas, kini David menekuni profesi baru. David mulai menggeluti bisnis manajemen artis. Bahkan, ia berencana membuat sebuah record label lagi band dan artis, "yang penting enggak lepas dari dunia "entertaiment" Kata David.
Artikel sebelumnya
.gif&contenttype=gif)