Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis

 

Menekuni Bisnis Mainan yang Edukatif

Edisi 47 Februari 2008

Anak-anak sangat lekat dengan mainan dan hiburan. Beberapa jenis mainan seperti robot-robotan, pistol-pistolan, boneka dan mainan lainnya tentu dengan mudah ditemukan di sekitar kita. Namun biasanya para orangtua berusaha melakukan apa saja demi membahagiakan buah hatinya, salah satu caranya dengan memberikan mainan untuk anak mereka.

Meski bertujuan untuk membahagiakan anak, alangkah baiknya orangtua juga harus memahami dan menyeimbangkan antara kebutuhan dan apa yang diinginkan anak, pasalnya tak semua keinginan mereka itu baik untuk perkembangan fisik maupun psikisnya. Namun dalam perkembangan yang terjadi saat ini, sebagian orangtua mulai sadar bagaimana seharusnya memilih mainan yang baik untuk anak mereka.
Sementara dari sekian banyaknya mainan anak yang ada, jarang sekali kita temukan mainan yang memiliki nilai pendidikan dan edukatif. Seperti mainan dari kayu yakni, balok-balokan, ring-ring donat dan lainnya.

Guna memenuhi kebutuhan orang tua dalam mencerdaskan anak-anak dan keprihatinan kepada dunia mainan saat itu, Ummu Masmu’ah wanita yang memiliki empat orang putri ini tergerak untuk melakukan sebuah perubahan. Yakni dengan menciptakan sebuah mainan yang memiliki unsur edukatif yang dapat merangsang motorik, kreatifitas, imajinasi dan IQ dari anak itu.

Sejalan dari faktor itulah, Ummu wanita kelahiran Jakarta 38 tahun silam ini mendirikan usaha mainan anak yang berkonsep edukatif. Gerai yang bernama Haula itu diambil dari nama anak pertamanya, Haula Fauziana yang tengah berusia 10 tahun setingkat dengan gerai mainan yang telah dikembangkan Ummu semenjak tahun 1998 itu.

Seperti yang dikemukakan Ummu ketika ia menceritakan asal-muasal berdirinya gerai itu.”Awalnya sih iseng-iseng yang mana kita hanya mencari alternatif bagaimana caranya sambil menjaga anak dirumah, namun bisa menghasilkan pendapatan walaupun dengan modal sedikit. Akhirnya saya menemukan mainan edukatif dari limbah kayu ini.Selain itu juga, kesibukan tersebut akan punya arti dan sebuah karya yang dapat bermanfaat lebih, baik untuk anak saya dan juga anak orang lain.”

Ia pun menambahkan, bahwa membangun sebuah usaha itu tidak hanya dengan modal saja. Namun kemauan, pengetahuan, kreatif, inovatif dan semangat kerja keras harus disergikan. Selain itu, dalam strategi pemasaran pada mulanya, Ummu menawarkan kepada orang tua murid dari teman-teman sekolah anaknya. Hal itu bisa dikatakan cukup efektif dan efisen. Ternyata, mainan dari kayu yang diproduksi sendiri itu banyak digemari karena konsepnya yang edukatif.

Sebagai contoh, salah satu mainan Puzzlenya. Mainan ini cukup berbeda, karena produksinya menggunakan bahan baku kayu yang dibentuk dan diberi corak warna yang khas. Sehingga Puzzle tersebut dapat menarik perhatian dari anak-anak. Versi Ummu, mainan jenis itu dapat merangsang serta meningkatkan kreativitas sang anak. Disamping itu juga, anak-anak dapat mengenal bentuk benda atau lainnya sesuai dari bentuk Puzzlenya.

Perhatiannya terhadap anak-anak tak main-main. Bayangkan saja, Haula juga mengerjakan berbagai jenis varian mainan lainnya, diantaranya boneka-boneka kerudung, balok-balokan, alat memasak, dan lain-lain. Tidak hanya itu, selera mainan di Haula bisa diselaraskan sesuai dengan kebutuhan konsumennya. Karena ide-ide dari konsumen yang membuat Ummu terinspirasi untuk terus selalu berinovasi pada produk mainannya itu.

Tidak hanya itu, harga yang ditawarkan Haula untuk setiap jenis mainannya relatif terjangkau. Yakni kisaran 5000- jutaan rupiah. “ Kalau harga tergantung dari pesanan pembeli, tapi yang ada di gerai kami kisaran itu,” imbuhnya.

Perkembangan Haula
Lulusan sastra Jepang IKIP Bandung ini mengemukakan, selama 10 tahun gerai ini berdiri, sampai saat ini tengah memiliki 2 cabang di Depok dan di Bandung. Selain itu memiliki workshop di Citayam dan di Cilincing. Sementara dari segi jaringan, Haula tengah melebarkan sayap dengan memiliki ratusan jaringan yang bermukim di seluruh Indonesia.

Sementara dari sisi pendapatan, gerai bisa dipaparkan luar biasa dari segi Omzet. Bayangkan saja, rata-rata omzet dari hasil penjualan mainannnya tersebut mencapai ratusan juta rupiah perbulannya. Untuk BEP nya saja sudah ia rasakan ketika 2 tahun beroperasinya Haula. Dengan keberhasilannya itu, Ummu menyarankan kepada industri-industri serupa agar fokus dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan bisnis.

Selidik punya selidik, ternyata dalam membangun Haula ini Ummu mengaku tidak semudah memetik daun dari tangkainya. Berbagai hambatan mendera usahanya, dimisal kendala manajemen yang tidak memutuskan harapan ia dalam meneruskan usahanya. Namun kendala itu dianggap sebagai pelajaran agar bisa menjadi lebih baik lagi. Terbukti, Haula berhasil melewati hambatan tersebut.

Dalam memroduksi mainan anak, Ummu dibantu 30 orang pekerja dan 15 orang untuk menangani administrasi. Tenaga kerja yang di garapnya merupakan anak lulusan SD, SMP bahkan lulusan Sarjana. Ia beranggapan, status bukan menjadi prasyarat untuk bisa bekerja di Haula, namun kemauan untuk kerja keras merupakan hal yang nomor satu.

“Waktu buka kami setiap Senin-Sabtu dari pukul 09.00-17.00 WIB, dan juga untuk disain kami tangani sendiri, bisa juga dikembangkan sesuai permintaan konsumen,” ujarnya seraya menutup percakapan. (inu)

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 57 Desember 2008
Agenda CEO di 2009
Google