Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis
Indahnya Meraup Untung di Bisnis Interior
Edisi 54 September 2008
Estetika ruang yang dapat memberikan kenyamanan dan keindahan mampu melahirkan bisnis interior. Bagaimana prospeknya?
Minimalis, itulah tren interior yang pernah booming dan masih diminati hingga hari ini. Minimalis muncul dari masalah terbatasnya lahan, namun pemiliknya menginginkan pembangunan fungsi ruang bisa dimaksimalkan. Bagi sebagian orang, masalah ini sanggup ditangkap menjadi peluang inovasi. Terbukti, banyak yang memiliki menjadi konsultan interior karena dinilai cukup menjanjikan. Sedikit dari pemain interior di Jakarta adalah Jeffrey Winmart dan Dian Nugraha. Keduanya berani memutuskan mandiri untuk menjalankan bisnis sebagai konsultan interior.
Krisis moneter tahun 1997 tidak menyurutkan optimisme Jeffrey untuk meneruskan usahanya sebagai konsultan interior spesialisasi kantor. Kesempatan dan pengalaman bekerja sebagai salesman di industri yang dekat dengan interior dimanfaatkan Jeffrey untuk membangun pondasi usahanya. Tahun 1993 setelah kurang lebih empat tahun bekerja untuk orang lain, Jeffrey yang bercita-cita menjadi pengusaha sejak di bangku SMA itu membuat perusahaan sendiri berbadan hukum CV. “Modal saya waktu itu uang sebesar Rp 400 ribu untuk bikin CV,” kata Jeffrey. Kini dengan mengusung PT Interior Kantor, Jeffrey merasakan kemajuan di industri ini.
“Tahun 1997-1999 saat krisis moneter bisnis ini ambruk dan saya tidak ada kerjaan. Di rumah saja, tapi proses bikin ide tetap berjalan karena saya yakin bisnis interior akan bangkit sejalan dengan bangkitnya bisnis properti,” kenang Jeffrey yang ditemui HC setelah menangani proyek interior salah satu kantor di Wisma Krakatau Steel, jalan Gatot Subroto, Jakarta. “Ketika krismon tidak ada order dari interior rumah. Sejak itulah saya memutuskan untuk fokus pada interior kantor,” kata Jeffrey.
Dian Nugraha punya cerita lain. Alumni arsitektur Universitas Pancasila ini memutuskan menjadi freelancer interior di tahun 2007. Pria kelahiran Bogor, 25 Desember 1978 ini mengaku punya jiwa entrepreneur. “Saya tidak betah kerja lama untuk orang lain. Makanya sekarang memutuskan freelance,” katanya jujur. Pria berjanggut yang akrab disapa Nugi ini lebih banyak pengalaman kerja di bidang interior sesuai dengan idealismenya. “Sejak lulus kuliah tahun 2002, saya tidak langsung kerja di bidang interior,” kata Nugi. “Waktu itu jadi drafter di bagian sipil, kemudian jadi pelaksana sampai 2003,” ujar Nugi. Tahun 2004, Nugi mulai akrab dengan interior. “Saya kerja di kontraktor, nah sambil kerja mulai bangun jaringanlah. Punya ‘asongan’ (proyek-red) sendiri,” katanya.
Menurut Jeffrey maupun Nugi, peluang usaha interior saat ini terbuka lebar, tapi bukan berarti jalannya mulus-mulus saja. “Kalau tidak punya jaringan kerja ya tidak dapat kerjaan,” cetus Nugi. Jeffrey melengkapi bahwa bisnis ini sifatnya memang word to mouth, networking sangat menentukan banyak tidaknya proyek yang bisa dikerjakan. “Yang namanya buka usaha yang penting siap mental. Kalau masih takut bisa maju mundur,” kata alumni Teknik Sipil Universitas Jayabaya ini.
Nugi sempat menganggur cukup lama saat memutuskan menjadi freelancer. “Tahun 2007 saya cuma ngerjain satu proyek,” ungkapnya. Tapi Nugi tetap bergeming dan kuat pada pendiriannya. “Alhamdulillah tahun ini saya mengerjakan beberapa proyek interior, baik rumah maupun kantor. Proyek Villa Lontar Asri di Ciganjur salah satunya,” ujar Nugi. Sama halnya dengan Jeffrey, Nugi pun tetap mengasah kreativitasnya saat lean season. Menurut Nugi dan Jeffrey, di saat tidak ada proyek justru harus rajin mencari ide baru dan tetap mengikuti perkembangan tren interior dan properti. “Kita bisa update tren interior lewat internet dan rajin datang ke pameran yang berhubungan dengan interior, seperti pameran furnitur atau material,”saran arsitek yang pernah mengerjakan interior PT Gas Negara di Karawang ini.
Pada dasarnya bisnis interior adalah bisnis yang menyasar segmen khusus. Hal ini diakui oleh Jeffrey dan Nugi. “Saya kira bisnis interior prospeknya di kota besar saja,” kata Jeffrey yang diamini Nugi. Jeffrey dan Nugi berpendapat bahwa pasar interior adalah kelas menengah ke atas. Artinya hanya komunitas di kota besarlah yang memiliki pasar ini. “Kalau di daerah, mereka kan tidak selalu mengikuti tren. Kalaupun ada, pemiliknya adalah orang kota yang punya properti di daerah sebagai investasi atau tempat peristirahatan,” Nugi memberikan alasan. “Jadi saat ini memang baru kota besar yang prospektif untuk bisnis ini,” tambahnya.
Sama dengan bisnis-bisnis lain, bisnis interior pun ada naik-turun dan kesulitannya. “Kesulitan kami di bisnis interior adalah masih banyak owner yang membayar tidak sesuai dengan aturan,” ungkap Nugi. “Misalnya, harga desain Rp 75 ribu/meter lalu konsultasi dihitung per jam. Terus kami kasih harga Rp 15 juta untuk desain, orang teriak tuh,” ujar Nugi menyontohkan. “Gila, mahal banget.
Gambar begini paling 100 ribu atau 200 ribu,” tukasnya menirukan komplain konsumen. “Apresiasi untuk hak intelektual masih kurang di sini (Indonesia-red),” Nugi menyesalkan.
Mengenai keuntungan yang diperolehnya, Nugi mau terbuka dengan HC. “Kalau saya dapat proyek, artinya saya menyediakan desain secara keseluruhan sedangkan pelaksanaannya saya jual ke orang lain. Lalu, saya tanya harga yang dia tawarkan ke saya. Misalnya, para tukang minta harga Rp 1 juta, maka saya minta ke owner Rp 1,5 juta. Biasanya owner hanya mau tahu beres saja,” ungkap Nugi. Namun demikian, bukan berarti setelah desain selesai, maka selesai pula tugasnya sampai di situ. Sebab, Nugi masih harus terlibat di dalam proses pengerjaannya sebagai pengawas dan konsultan. Bahkah, di after project saya juga masih mengontak owner-nya,” papar Nugi. “Inilah pentingnya service after sales untuk mempertahankan pelanggan kita. Nanti dia bisa promosikan kita ke teman-temannya,” tambahnya sambil tersenyum.
Artikel sebelumnya
.gif&contenttype=gif)