PortalHR

HRIS Expo & Conference

Compensation & Benefit

photo

Menghitung Lembur Lebaran dan Pertanyaan Lain tentang THR

Oleh : Wiwiek Wijanarti
Tentang Penulis
Senin, 14 September 2009 - 4:59 WIB

Pertanyaan

Bagaimana cara menghitung overtime pada H-3, H0 dan H+3 Hari Raya Idul Fitri?


Wawan Komara


Jawaban

Tidak ada peraturan khusus mengenai penghitungan cuti terkait Hari Raya Idul Fitri, sehingga penghitungan lembur tetap mengacu pada Kepmen 102 tahun 2004. Idul Fitri masuk dalam kategori hari libur resmi. Penghitungannya sebagai berikut:

1. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 6 hari kerja 40 jam seminggu maka :

a. perhitungan upah kerja lembur untuk 7 jam pertama dibayar 2 kali upah sejam, dan jam kedelapan dibayar 3 kali upah sejam dan jam lembur kesembilan dan kesepuluh dibayar 4 kali upah sejam.

b. apabila hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek perhitungan upah lembur 5 jam pertama dibayar 2 kali upah sejam, jam keenam 3 kali upah sejam dan jam lembur ketujuh dan kedelapan 4 kali upah sejam.

2. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 5 hari kerja dan 40 jam seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk 8 jam pertama dibayar 2 kali upah sejam, jam kesembilan dibayar 3 kali upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas 4 kali upah sejam.

Mengingat hari raya keagamaan merupakan hari istimewa bagi karyawan, disarankan untuk memberikan “uang insentif” bagi karyawan yang bersedia bekerja di hari yang istimewa ini.

<B>Sekaligus, menjawab beberapa pertanyaan tentang THR yang masih terus mengalir ke redaksi.</B>

<I>Saya mau tanya tentang penambahan tunjangan tetap pada THR. Apakah ada undang-undang yang mengaturnya?</I> (Willy)

Jawab: Ketentuan THR mengacu pada peraturan menteri 04/1994. Pada pasal 3 ayat 2 disebutkan bahwa dasar penghitungan THR adalah gaji pokok ditambah tunjangan
tetap.

<I>Apakah premi kesehatan termasuk tunjangan tetap? Bagaimana jika THR diberikan 5 hari sebelum hari raya? Apakah hal tersebut menyalahi aturan?</I> (Ira)

Jawab:
– Premi kesehatan tidak termasuk dalam komponen gaji, merupakan fasilitas yang diberikan kepada karyawan
– Menurut peraturan menteri 04/1994 THR selambatnya diberikan 7 hari sebelum hari Raya keagamaan.

<I>Sepanjang referensi yang saya ketahui dalam peraturan hanya mengatur waktu pembagian THR dan komponen gaji apa saja yang dibagikan. Permasalahan sekarang, apabila ada karyawan yang mendapat promosi per 1 September ini (yang pastinya skala gaji dia naik). Lalu, yang dipakai sebagai dasar pembagian THR itu gaji sebelum September atau gaji baru?</I> (Maurina – PT Kaltim Pasifik Amoniak, Bontang, Kaltim)

Jawab: Hal-hal seperti ini memang tidak secara detail dijelaskan dalam peraturan. Dalam hal ini kita menggunakan common sense saja dengan cara menghitung THR secara pro rata sbb: (11/12)X gaji lama + (1/12)X gaji baru. Bagaimana, apakah saran ini dapat diterima?

<I>Bagi karyawan yang telah bekerja lebih dari 1 tahun tapi baru mendapat tunjangan jabatan belum 1 tahun ( misalnya 3 bulan ), apakah tunjangan jabatan dibayarkan secara proporsional atau penuh layaknya gaji pokok dalam menghitung THR-nya?</I> (Hasan Basri – PT DPLU, Jakarta)

Jawab: Peraturan yang berlaku memang tidak secara detail membahas mengenai hal ini. Jika mengacu pada azas keadilan maka THR bagi karyawan yang gajinya berubah-ubah dalam 1 tahun terakhir dihitung secara pro rata/proporsional. Dalam kasus ini, THR yang diadapat sbb:(9/12)Xgaji lama + (3/12)X gaji baru.


Anda dapat mengirim pertanyaan konsultasi dengan mengisi form berikut.




Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR