Aturan Kerja Lembur | PortalHR.com

PortalHR

BPJS Ketenagakerjaan

Compensation & Benefit

photo

Aturan Kerja Lembur

Oleh : Bambang Supriyanto
Tentang Penulis
Senin, 2 Juli 2012 - 10:26 WIB

Pertanyaan

Saya ingin mengetahui penjelasan lebih lanjut mengenai isi dari UU No. 13 Paragraf 4 mengenai waktu kerja pasal 78 Butir pertama sub b di mana disebutkan: Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14(empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu. Mempekerjakan lebih dari wakru kerja sedapat mungkin harus dihindarkan karena pekerja/buruh harus mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat dan memulihkan kebugaran. "Namun dalam hal-hal tertentu terdapat kebutuhan yang mendesak yang harus diselesaikan segera dan tidak dapat dihindari sehingga pekerja/buruh harus bekerja melebihi waktu kerja." Pertanyaan saya adalah : Mohon penjelasan mengenai kata yang saya beri tanda kutip Terima kasih


Sarmi, SE


Jawaban

Jawaban:

1.         Aturan tentang kerja lembur bersifat limitatif dan jelas bahwa kerja lembur yang diijinkan maksimal 3 jam sehari dan 14 jam seminggu. Hal ini tertuang dalam Pasal 78 ayat (1), huruf b, UU 13 tahun 2003.

2.         Selanjutnya penjelasan atas pasal dan ayat tersebut selengkapnya sebagai berikut:

Mempekerjakan lebih  dari waktu kerja sedapat mungkin harus dihindarkan karena pekerja/buruh harus mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat dan memulihkan kebugarannya. Namun, dalam hal-hal tertentu terdapat kebutuhan yang mendesak yang harus diselesaikan segera dan tidak dapat dihindari sehingga pekerja/buruh harus bekerja melebihi waktu kerja?

Memaknai kalimat “namun, dalam hal-hal tertentu terdapat kebutuhan yang mendesak yang harus diselesaikan segera dan tidak dapat dihindari sehingga pekerja/buruh harus bekerja melebihi waktu kerja?” harus dikaitkan dengan kalimat sebelumnya. Kalimat sebelumnya intinya mengandung pesan/amanat undang-undang bahwa kerja lembur sedapat mungkin tidak usah dilakukan karena waktu kerja yang diatur dalam Pasal 77 ayat (2), UU 13 tahun 2003 berbunyi:

Waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi :

a.         7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau

b.         8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Waktu kerja 40 jam seminggu dianggap sudah cukup dan telah ditentukan berdasarkan pertimbangan dan perhitungan dari segi kesehatan kerja dan batas kemampuan manusia yang normal dan wajar dalam bekerja setiap harinya.

Berdasarkan aturan jam kerja tersebut (maksimal 40 jam seminggu), maka pembuat undang-undang mencantumkan kalimat kedua yaitu “Namun …” Tegasnya, kalimat “Namun…” tidak boleh diartikan bahwa pengusaha masih dapat mempekerjakan pekerja untuk kerja lembur melewati batas maksimal kerja lembur 3 jam sehari dan 14 jam seminggu. Kepmenakertrans No 608 tahun 1989 Tentang Pemberian Izin Penyimpangan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Bagi Perusahaan-Perusahaan Yang Mempekerjakan Pekerja 9 jam sehari dan 54 jam Seminggu, mengatur bahwa batas maksimal mempekerjakan pekerja adalah 54 jam dalam seminggu (40 jam + 14 jam).

Adalah ketentuan dalam Kepmenakertrans tersebut yang kemudian dibakukan dalam Pasal 78 ayat (1), huruf b, UU 13 tahun 2003. Izin penyimpangan waktu kerja tersebut sudah tidak berlaku lagi karena ketentuannya sudah dikukuhkan dalam UU 13 Tahun 2003.

Category: Product #: Regular price:$ (Sale ends ) Available from: Condition: Good ! Order now!
Reviewed by on. Rating:


Anda dapat mengirim pertanyaan konsultasi dengan mengisi form berikut.




BPJS Ketenagakerjaan

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR