PortalHR

Idul Fitri

Opini

Jumat, 4 Januari 2013 - 3:15 WIB
Krisbiyanto

2013, Mau dibawa ke mana SDM Indonesia?

Oleh : N. Krisbiyanto
Jumat, 4 Januari 2013 - 3:15 WIB

Banyak sekali hal menarik yang terjadi di tahun 2012 yang baru saja berlalu, baik di tanah air maupun di manca negara. Di Indonesia sendiri dunia politik diwarnai berita korupsi yang membosankan. Yang menarik perhatian saya dan rekan-rekan PortalHR justru untuk mengamati bagaimana Social Media berperan sangat dahsyat dalam memenangkan pasangan baru Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Ahok pada akhir bulan September 2012 yang lalu.

Dalam perkembangan selanjutnya yang kami amati, ternyata pemanfaatan Social Media masih terus dilakukan pasangan Jokowi Ahok untuk mensosialisasikan program-program kerja mereka.  Hal ini sejalan dengan pengamatan kami bahwa Social Media juga akan mendominasi dan mempengaruhi cara bekerja organisasi dan khususnya HR. Oleh sebab itu pada tahun 2012 kami mengangkat secara khusus tren baru mengenai HR khususnya dalam hal Social Media.

Kemenangan dan gaya kepemimpinan Jokowi Ahok buat saya dan sebagian rakyat Jakarta memberikan angin segar terhadap kebuntuan gaya kepemimpinan Indonesia dewasa ini yang sangat bernuansa formal dan birokratis. Setidaknya ada pemimpin Indonesia yang bergaya Jokowi-Ahok maupun Dahlan Iskan yang rajin jalan-jalan turun ke bawah, “blusukan” memeriksa got di jalan raya protokol (dan dibenci sebagian politisi yang lebih suka duduk di ruangan).

Tahun 2012, di Mata Saya Praktisi HR

Saya akhirnya mengisi hari-hari terakhir tahun 2012 dengan diskusi panjang bersama partner PortalHR Malla Latif. Selain tren social media, kami mencoba mendiskusikan hal-hal apa yang menjadi tantangan di dunia Human Resources di dunia dan khususnya di Indonesia.

Jika melihat banyak sekali ulasan mengenai tantangan HR di tahun 2013, maka Talent Management dan Engagement tetap menjadi trending topics yang dominan dibahas dalam berbagai kesempatan. Meskipun saat ini banyak juga hal baru yang menarik yang diulas oleh para praktisi HR dunia seperti masalah “unlimited time pay off” dan “independent contractor” yang belakangan ini mengemuka karena dunia kerja mulai dibanjiri generasi Y yang menginginkan fleksibilitas dalam berbagai hal termasuk cara dan waktu kerja.

Untuk Indonesia khususnya, kami sepakat melihatnya dalam sisi pandangan yang paralel. Jika melihat tingkat pengangguran di Indonesia yang kelihatannya menurun, maka kami merasa bahwa sebenarnya banyak hal yang kelihatannya menggembirakan, tapi di sisi lain sebenarnya merupakan bom waktu. Meskipun tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2012 ini menurun menjadi sekitar 7.2 juta (data BPS bulan Agustus 2012), jika kita berpedoman kepada angka-angka statistik tersebut sebenarnya secara real persentase dari tingkatan pendidikan terhadap tingkat pengangguran terbuka dari yang berpendidikan tinggi adalah di kisaran 6 s/d 9 % dibandingkan dengan lulusan SD yang hanya di kisaran 3 %.

Di sisi lain untuk lulusan berpendidikan tinggi  (D3 ke atas) yang bekerja hanya di kisaran 10 juta orang saja dari lebih kurang 110,8 juta orang yang bekerja.

Berbeda dengan dunia HR di negara-negara tetangga seperti Singapura contohnya yang lebih homogen, maka dunia HR di Indonesia memang seolah terbagi menjadi 2 (dua) kutub yaitu 90 juta orang yang berpendidikan rendah dan sisanya 20 juta orang yang berpendidikan  menengah tinggi. Maka tidak mengherankan jika melihat issue-issue utama mengenai SDM di Indonesia adalah selalu berkisar kepada masalah UMR/UMP dan masalah Outsourcing sedangkan masalah 20 juta lainnya kebanyakan bekerja dalam posisi-posisi strategis di perusahaan dengan issue-issue yang lebih berbau strategic HR.

Tantangan dan Prediksi Kondisi Ekonomi Indonesia Jangka Pendek dan Panjang

Lalu apa yang menjadi hal-hal khusus yang akan dihadapi Indonesia dalam jangka waktu pendek dan panjang? Dalam jangka pendek, kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa Indonesia bersama-sama dengan 9 (sembilan) Negara ASEAN lainnya telah membentuk ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Hal ini tentu saja didasarkan pada keyakinan atas manfaatnya yang secara konseptual akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kawasan ASEAN.

Integrasi ekonomi dalam mewujudkan AEC 2015 melalui pembukaan dan pembentukan pasar yang lebih besar, dorongan peningkatan efisiensi dan daya saing, serta pembukaan peluang penyerapan tenaga kerja di kawasan ASEAN, yang diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan seluruh negara di kawasan ASEAN.

Suka atau tidak suka Indonesia akan dihadapkan kepada dorongan untuk menuju pencapaian standard daya saing antar negara ASEAN. Dari sisi jumlah tenaga kerja, Indonesia yang mempunyai penduduk yang sangat besar dan dapat menyediakan tenaga kerja yang cukup dan pasar yang besar, sehingga berpotensi menjadi pusat industri. Selain itu, Indonesia dapat menjadikan ASEAN sebagai tujuan pekerjaan guna mengisi investasi yang akan dilakukan dalam rangka AEC 2015. Standardisasi yang dilakukan melalui Mutual Recognition Arrangements (MRAs) diharapkan dapat memfasilitasi pergerakan tenaga kerja tersebut.

Ketika banyak perekonomian dunia lainnya mengalami kecemasan akan potensi penurunan rating, ekonomi Indonesia justru semakin menguat. Tanda-tanda jatuhnya ekonomi negara-negara adidaya Amerika dan Eropa perlahan-lahan mulai dirasakan.

Krisis ekonomi di Amerika yang merambat ke Eropa tidak menghalangi berbagai laporan dan prediksi positif dari berbagai media dan institusi yang menyuarakan harapan bagi Indonesia. Bahkan, sejumlah lembaga keuangan dunia juga sudah memperkirakan Indonesia bakal menjadi kekuatan ekonomi dunia baru dengan berbagai istilah. Sebut saja, Goldman Sach dengan sebutan The Next Eleven, CLSA dengan Chindonesia, Morgan Stanley dengan istilah BRICI, dan majalah top The Economist dengan istilah CIVETS(Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey, South Africa) yang merupakan akronim dari negara dengan kategori emerging market yang dilontarkan oleh Robert Ward yang merupakan Global Foreasting Director dari the Economist Intelligence Group (EIU) pada tahun 2009.

Bahkan, Standard Chartered Bank, memperkirakan Indonesia masuk jajaran 5 (lima) besar ekonomi dunia pada 2030. Diprediksi, bahwa ekonomi Indonesia akan menjadi negara bersinar yang akan mengalahkan Jepang. Indonesia akan menempati peringkat ke lima negara terbesar, tampil mendampingi China, Amerika Serikat, India dan Brazil. Sedangkan Jepang berada di peringkat ke enam.

Baru-baru ini McKinsey Global Institute (MGI) dalam laporan terbarunya yang dipublikasikan pada bulan September 2012 bertajuk “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential” memprediksi bahwa Indonesia pada tahun 2030 berpotensi menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh dunia. Posisi Indonesia akan mengalahkan Jerman dan Inggris, tapi masih berada dibawah China, Amerika Serikat, India, Jepang, Brasil dan Rusia.

Dalam laporan MGI tersebut, dikemukakan bahwa jejak rekam ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini sangat luar biasa, namun kurang mendapat apresiasi. Padahal, saat ini saja Indonesia sudah menjadi negara ekonomi terbesar ke-16 di dunia dan diperkirakan akan terus berkembang.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita praktisi HR untuk turut mendukung percepatan menuju Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia?

Diskusi akhirnya kami tutup dengan suatu rencana untuk mengumpulkan pakar HR Indonesia di awal tahun 2013 ini, untuk membahas pertanyaan-pertanyaan dasar seperti yang mirip nyanyian Band Armada atau Marcel: “Mau dibawa ke mana SDM Indonesia?”

Penulis adalah Senior Partner PortalHR





Satu komentar to 2013, Mau dibawa ke mana SDM Indonesia?



  1. Adhi Pradono H
    Rabu, 10 April 2013 pada 12.43

    Jangan lupa bahwa kita bangsa amnesia…. Dulu tahun 1990-an kita dijuluki ‘Macan Asia’ oleh dunia, namun ternyata kita terbuai dengan julukan itu dan langsung jatuh tertimpa tangga kena KrisMon 1998. Terlalu sombong karena disanjung-sanjung padahal dalamnya keropos….

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR