Menu Utama » Good Morning Partner

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Paulus Bambang WS

Renungan Akhir Tahun

Oleh: Paulus Bambang WS


Vice President Director PT United Tractors Tbk.

Author buku ‘Best Seller’: Built to Bless. The 10 Commandments to transform your Visionary Company – Built to last – to a Spiritual Legacy.


Refleksi akhir tahun merupakan saat yang paling menggundahkan sekaligus menggembirakan bagi saya pribadi. Kami sekeluarga sering melakukan secara bersama. Setelah mengikuti acara gerejani, kami kadang berdialog bersama sampai pagi. Kadang kami melakukannya di ruang makan, kamar hotel, taman atau ruang tidur utama.

Malam itu, atau sebenarnya lebih tepat disebut pagi itu, kami melihat kembali 365 hari yang lalu. Apa yang telah kami lakukan untuk membahagiakan orang lain? Apakah rencana dan tujuan tahun ini tercapai? Apa yang kurang dan apa yang lebih? Lalu renungan ditutup dengan apa yang kita akan lakukan bersama sebagai keluarga? Tema apa yang akan kami sepakati di tahun yang baru yang menjadi dasar pijakan bersama.

Setelah puas berdialog, kami tutup dengan doa bersama. Mengucap syukur atas karunia dan berkatNya dan memohon penyertaanNya untuk tahun yang baru ini. Setelah semua tertidur, sayapun masih melanjutkan renungan pribadi dengan merefleksi kegiatan seputar kerja. Wadah pelayanan yang disebut kantor.

Ketika memasuki area refleksi profesi. Saya sebenarnya sedang memasuki suatu ruang yang sangat dalam. Dialog antara jiwa dan roh, emosi dan spiritual bersanding dengan intelektual dan unsur badani.

Intellectual reflection sudah sering dilakukan. Bulanan, triwulanan, semesteran dan ‘annual review’. Pencapaian angka-angka target bukan hanya dievaluasi oleh diri sendiri, tapi oleh semua kolega, atasan langsung sampai pemegang saham yang terus menyoroti pencapaian kinerja intelektual ini. Pencapaian metriks keuangan dan metriks angka dan bilangan (numbers) menjadi ukuran pada orang yang disebut ‘sukses’. atau ‘berprestasi tinggi’, atau ‘berhasil’. Bukan sekedar mencapai target dalam Key Performance Indicator (KPI) atau Individual Performance Plan (IPP) atau metriks apapun yang akhirnya bermuara pada berapa bonus yang akan diterima.

Ketika 365 hari difokuskan pada suatu titik palu hakim yang menyatakan penilaian karya kita tahun ini adalah ‘CUKUP’. Artinya ya ‘cukup’ yang sebenarnya harus dibaca ‘pas pas –an’. Atau kalau mau lebih jujur sebenarnya kalimat itu dalam kosa kata kita sering diartikan ‘dibawah target’. Maka, runtuhlah semua enerji dan motivasi kita. Lalu mulailah perdebatan muncul, apakah hanya soal ‘result’, bagaimana soal ‘process’ apakah tidak dinilai walaupun hasilnya belum kelihatan atau malahan tidak kelihatan.

Ketika angka-angka ‘actual’ jauh berada diatas ‘plan’, maka hati berbinar. Apalagi tatkala palu diketuk dan kita dinyatakan berpredikat “Baik Sekali” atau ada tambahan Plus dibelakangnya atau bahkan masuk ke kategori “Istimewa”, seluruh argumen soal proses yang salah, proses yang tidak halal, manipulasi ‘billing’ di akhir bulan, dan berbagai ‘non good corporate governance practices’ lainnya menjadi sangat sumir. Angka tadi seakan merupakan penilaian karya seluruh stakeholders bahwa kita memang layak jadi bintang. kala bonus diberikan, bonus menjadi pertanyaan besar. Masak cuman segini? Tidak ada kata puas yang sepadan dengan prestasi ‘baik sekali’ atau ‘istimewa’, yang ada hanya ‘kok begitu?’


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Kolom Lainnya

Human Capital

Edisi 76 Juli - Agustus 2010
Masa Depan SDM Sekretaris, Tetap Eksis di Segala Situasi dan Kondisi