Good Morning Partner
Mengelola Talent dengan Format 4.0
Oleh: Paulus Bambang WS
Hi Partner,
Sudah lama tidak muncul bukan berarti saya sudah undur diri dari dunia maya atau dunia ke HRD an. Kesibukan (ini alasan gaya CEOnya) dan kemalasan (ini alasan sejujurnya) membuat saya “beristirahat” dalam menulis di rubrik yang saya cintai ini. Setelah bertemu dengan “energizer” saya, yakni Mbak Meisia dan Mbak Banis, saya termotivasi lagi untuk berbagi ilmu buat pembaca yang meminati bidang HRD ini walaupun bukan berkarya dalam bidang HRD. Every manager is HR Manager. Semoga, kemalasan saya kali ini sudah sembuh dan saya akan menyapa Anda setiap Senin, dua minggu sekali. Salam jumpa lagi.
Perubahan era
Perkembangan teknologi dan demokrasi maya sudah tidak mampu membendung manusia terkungkung di daerahnya secara fisik dan di pengetahuannya secara virtual. Teknologi mengubah menusia menjadi terbuka. Dulu yang dianggap “pribadi dan rahasia” menjadi “terbuka dan transparant”. Manusia sudah biasa mengungkap perasaan, kegundahan dan suasana hatinya secara ‘real time’ pada berbagai akun media sosial yang kadang membuat heran banyak orang karena keterbukaan yang sudah meruntuhkan tembok ruang privat tadi.
Itu adalah fakta. Tak ada yang mampu menghentikan. Dunia sudah terbuka, tanpa batas. Keunggulan manusia ditentukan dengan kecepatan, kecermatan dan kesempatan memanfaatkan peluang yang semakin terbuka luas tanpa batas.
Secara bisnis, kita sudah merasakan konsekuensinya. Pesaing, Produk dan Jasa, Pelanggan, Pemasok, Karyawan sudah demikian berbeda dengan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu. Perubahan yang cepat dan akan menjadi semakin cepat, membuat konstelasi bisnis dan hubungan antar pemangku kepentingan berbeda pula. Ditambah lagi dengan implementasi skema AFTA, CAFTA dan APEC di beberapa tahun mendatang, gaya perdagangan dan pengelolaan sumber daya menjadi berubah secara nyata.
Sayangnya, ini kalau kita mau jujur, pengelolaan produksi, pengembangan produk, pemasaran, keuangan sudah mengikuti perkembangan perubahan tersebut, malahan pengelolaan sumber daya yang terpenting yakni SDM, khususnya Talent, sangat tertinggal, atau kalau tidak mau dibilang usang.
Talent di sini saya definisikan sebagai karyawan yang berpotensi untuk menjadi pimpinan di kemudian hari. Merupakan suatu kumpulan orang dengan potensi dan pengalaman tertentu yang memberikan nilai lebih pada produk perusahaan. Ini kelompok khusus yang harus dipersiapkan dan dipelihara secara teliti karena merupakan ujung tombak kemajuan perusahaan di saat ini maupun masa mendatang.
Format Pengembangan Talent
Ada perusahaan masih mengelola Talentnya dengan format 1.0 yakni mengelola SDM dengan meniadakan konsep Talent. Tidak ada ukuran apa itu Talent apalagi siapa itu Talent. Semua karyawan dianggap sama. Tidak ada program khusus apalagi kompensasi khusus. Semua dilihat berdasarkan kinerja tahunan. Tidak ada persiapan untuk mendidik kader mencapai kompetensi tertentu. Semua diserahkan pada mekanisme ‘lapangan’ untuk memilah mana calon yang terbaik dan mana yang termasuk golongan ‘tersisa”.
Adapula yang sudah masuk ke pengelolaan Talent dengan format 2.0. Artinya sudah ada kriteria apa itu ‘talent’ dan sudah diidentifikasi siapa itu ‘talent’. Namun masih terbatas pada kalangan tertentu, biasanya kelompok kedua di bawah direksi, dan dilakukan oleh kalangan terbatas saja, biasanya CEO dan Direktur atau pimpinan SDM. Karena masih bersifat “rahasia untuk kalangan tertentu”, maka program ini masih bersifat elitis. Hanya mencatat dan memonitor talent secara pasif dan datanya merupakan kumpulan dari sejarah masa lalu.
Bagi yang sudah maju, Talent sudah dikelola dengan format 3.0. Artinya kriteria sudah jelas dan siapa yang menjadi Talent sudah diidentifikasi dengan cermat oleh pimpinan masing masing unit dan disetujui oleh pimpinan unit lainnya. Keputusan mengenai siapa yang menjadi Talent sudah menjadi keputusan bersama para anggota BOD dan sudah diformalkan dalam komite nominasi talent yang diketuai oleh Presiden Direktur atau CEO perusahaan.
Lebih lanjut lagi, siapapun yang termasuk dalam daftar Talent, akan mendapat Mentor khusus yang secara berkala memberikan masukan dan usulan untuk perkembangan Talent menjadi kader pimpinan untuk dua level diatasnya. Talent sudah dimasukkan dalam “Replacement Table Chart” yang merupakan tabel calon pengganti pimpinan satu level di atasnya. Setiap Talent bisa menempati kursi di RTC dua atau lebih posisi. Artinya Talent tidak boleh dimonopoli oleh departemen atau divisinya, Talent sudah menjadi milik perusahaan yang dapat dialih tugaskan ke bidang lain sesuai kebutuhan perusahaan.
Ketiga format tadi, dari 1.0 – 3.0, ternyata masih belum cukup menjawab kebutuhan talent pada saat ini. Dengan keterbukaan informasi dan kesempatan di perusahaan lain bahkan di negara lain, Talent menjadi semakin sadar potensi dan kemungkinan perkembangan karirnya. Orang yang berpotensi sebagai Talent, biasanya memang “high flier” yang melihat langit sebagai batasan cakrawalanya.
Kungkungan pada tugas rutin dan limitasi tanggung jawab yang dirasa sebagai birokrasi bukanlah lahan yang subur untuk menumbuhkan potensinya. Itu sebabnya perusahaan harus memiliki format lain agar Talent yang berpotensi STAR tidak malahan lari ke tempat lain, sedangkan yang berpotensi biasa yang akhirnya dianggap sebagai loyalist yang menduduki kursi CEO. Ini akan membuat prahara perusahaan di kemudian hari. Perusahaan mungkin tidak oleng, tapi tidak berkembang sebagaimana mestinya kalau dinahkodai oleh kader berkualitas STAR.
Mengelola dengan Format 4.0
Format 4,0 adalah jawabannya. Perusahaan harus mengindentifasi Talent sejak dini, semakin muda semakin baik. Lalu dikembangkan dengan spartan dengan tugas yang sulit dan menantang. Kenyamanan Talent adalah mendapat tantangan yang kompleks. Semakin sulit semakin nyaman ia untuk bermanuver dan berstrategi. Beri mereka kesempatan seluasnya dengan mentor yang sudah berpengalaman, akan lebih baik kalau sudah setingkat direksi dan kalau perlu dimentor sendiri oleh CEO bergantung pada kualitas Talentnya.
Keberanian perusahaan mencetak Talent dengan program yang berbeda dengan karyawan biasa, perlu diuji. Ketika sama rasa sama rata masih ada, maka Talent yang mumpuni akan pergi karena sudah tidak akan mampu berdampingan dengan sistem yang dibuat hanya untuk yang berada di tengah.
Pertanyaannya, apa perusahaan kita sudah siap memiliki Talent dengan format pengelolaan 4,0?
Point untuk direnungkan:
1. Seberapa pentingkah perusahaan memiliki Talent Management?
2. Berapa “Size” perusahaan yang pantas memiliki Talent Management?
3. Bagaimana meminimalkan dampak negatif terhadap Talent ?
Apabila ada hal yang ingin didiskusikan, Anda juga bisa mengirimkan komentar melalui form di bawah ini:


Kamis, 7 Februari 2013 pada 21.40
Pak Henry, memiliki pimpinan yg frustasi memang berat. Apapun alasannya seharusnya pimpinan bisa membedakan antara kepentingan pribadi dan tugasnya sebagai pimpinan walaupun di BUMN yg lebih kecil. Saran saya kalau sbg karyawwan tetap bekerja spt biasa tidak usah frustasi mengikuti pimpinan yg frustasi. Sebagai pimpinan yg frustasi, sebaiknya mengundurkan diri atau minta dirotasi bila dirasa perusahaan yg dipimpinan tdk cocok dengan aspirasinya. Thanks buat pertanyaan ini
Selasa, 30 Oktober 2012 pada 13.43
Pak Paulus, bagaimana menyikapi top management yang merupakan titipan BUMN, yang ternyata merasa frustrasi “kecebur” di perusahaan BUMN kecil yang kurang profitable? Konsekuensi dari rasa frustrasinya itu sangat mengganggu karyawan. Akibatnya, karyawan menjadi takut, alih-alih merasa segan, yang ada juga perasaan ogah.
Kamis, 2 Agustus 2012 pada 09.11
Mas Haripur, setuju dan tepat sekali. Kadang top manajemen lupa akan hal ini. Salam
Minggu, 29 Juli 2012 pada 06.01
Talent managemen akan sangat berguna apabila diterapkan sejak awal perekrutan, terutama untuk level setingkat managerial keatas. Konsep mutakhir talent managemen mestinya sudah bisa mengendus sejak perekrutan awal,….apa tujuan seseorang bekerja di perusahaan.
Talen managemen akan bias/rusak, apabila dalam perjalanan mendapatkan karyawan STAR diracuni oleh tendensi subyektifitas yg berlebihan.
Senin, 23 Juli 2012 pada 16.04
Mas Nasih, untuk perusahaan baru justru bisa memulainya dg talent management first cycle (tunggu artikel minggu depan) yakni di rekruitmen talent. Hanya saja, lima tahun pertama fokusnya adalah managing the business dulu. Setelah itu, barulah mulai talent management yg full cycle. Thanks alot
Senin, 23 Juli 2012 pada 15.21
Pak Paulus Bambang,
Wah akhirnya saya bisa baca n belajar lagi dengan artikel2 Pak Bambang,. semoga bisa berlanjut tulisan-tulisannya utk menambah wawasan ilmu HR.
Pertanyaan: apakah konsep talent format 4.0 bisa diterapkan juga pada perusahaan baru dan apakah tipsnya?
Selasa, 17 Juli 2012 pada 14.35
Pak Bambang, bagaimana jika di suatu Perusahaan Pengembangan Talent tidak berjalan dan hampir tidak dilakukan karena adanya faktor orang dalam/titipan, sehingga lainnya hanya ibarat golongan ‘pinggiran’, tks Anton
Rabu, 18 Juli 2012 pada 16.20
Dear Pak Anton, ini tantangan yang harus disikapi secara bijak. Dalam jangka panjang kalau perusahaan bisa membuktikan bahwa pengelolaan talent berjalan baik tentunya faktor titipan menjadi berkurang. Apalagi kalau terbukti di lapangan bahwa orang titipan tidak menunjukkan kinerja yang baik. Saya yakin suatu saat akan berubah tapi tentu perlu waktu. salam
Senin, 16 Juli 2012 pada 15.01
Dear Meisia, siap. Semoga kali ini lebih runtut dan tuntas tidak sekedar kasih ide saja seperti artikel saya di GMP masa lalu.
Upayakan interaksi sehingga ini menjai karya bersama buat perusahaan di Indonesia.
Salam
Senin, 16 Juli 2012 pada 14.59
Rekan Nadiah Alwi, pertanyaan anda akan terjawab dalam edisi edisi berikutnya. Saya akan menuliskannya secara runtut agar secara sistimatik masalah pengembangan talent ini agar bidang SDM tidak tertinggal dengan bidang lain yang sudah terlebih dulu melaju.
Salam
Senin, 16 Juli 2012 pada 14.48
Mas Agus Yudha, terima kasih sdh memberi komentar sbg komentator pertama. Saya akan kirimkan buku saya Lead to Bless Leader sebagai hadiahnya. Team portal HR akan follow up.
Saya tidak mempunyai pengalaman di institusi pemerintah, tapi kalau saya berdiskusi dengan BUMN, saya kira konsep ini bisa diterapkan. Tentu sampai level tertentu, misalnya satu tingkat dibawah diteksi, mengingat direksi kewenangan pemegang saham.
Mengingat BUMN memegang peran penting dalam perekonomian kita, saya justru punya keinginan besar agar BUMN dan bahkan lembaga pemerintah lain bisa menerapkan talent management 4.0. Saya yakin akan menarik dan challenging.
Edisi mendatang, saya akan merumuskan apa otu talent 4.0 shg Pak Agus bisa lebih mengerti dan kita bisa berdiskusi apakah ini cocok buat lembaga pemerintah.
Salam
Senin, 16 Juli 2012 pada 14.00
Bagaimana diterapkan dalam institusi pemerintah? bagaimana aplikasinya?
Senin, 16 Juli 2012 pada 13.12
Bagaimana mengelola talent agar jika sudah dimanage sedemikian rupa tapi tidak mempan dibajak oleh perusahaan lain, Pak?
Senin, 16 Juli 2012 pada 11.38
Menarik sekali ide mengembangkan talent sejak sedini mungkin. Para gen Y yang talented tentu saja sangat welcome dengan kesempatan seperti ini. Semakin banyak tantangan sejak dini semakin baik, untuk membuktikan diri mereka excel dibanding yang lain.
Welcome back di Good Morning Partner PortalHR.com pak, ditunggu dengan sangat tulisan-tulisan bapak yang selalu lugas dan penuh gagasan unik/menarik!
Komentar Terkini
Gudang Data
Event HR
Kamis, 30 Mei 2013
Mengurai Polemik Outsourcing (BALI)Sponsored Links
LokerDirektori.com
Submit lowongan kerja di sini