Menanamkan Perilaku Baik di Keluarga dan Perusahaan | PortalHR.com

PortalHR

Profil CEO

Menanamkan Perilaku Baik di Keluarga dan Perusahaan

Kamis, 14 Juli 2011 - 4:27 WIB

Shafie Shamsuddin, CEO PT Carrefour Indonesia

Shafie merupakan warga Asia pertama yang berhasil menembus jajaran pimpinan teras Carrefour. Setelah sukses membawa Carrefour Malaysia dan Singapura, kini ia optimisis dapat meningkatkan kinerja Carrefour Indonesia melalui program human capital development. Bagaimana implementasinya?

Keceriaan  terpancar  di  raut  wajahnya. Semangatnya  terlihat  ketika  ia  mengayun dan melemparkan bola bowling ke lintasan. Matanya  tajam  mengarah  ke  10  pin  yang berdiri  di  depannya.  Namun,  bola  bowling yang dilesatkannya itu hanya mampu meruntuhkan delapan pin yang tersusun rapi di ujung lintasan. Kendati demikian, ia tetap tersenyum menerima hasilnya. Ya, ekspresi itu ditunjukkan oleh CEO PT Carrefour Indonesia, Shafie Shamsuddin, saat bermain bowling bersama awak media dan jajaran manajemen Carrefour Indonesia (CI) pada acara “Fun Bowling Event”, pertengahan Mei lalu di Spincity Bowling Alley Plaza EX, Jakarta Pusat.

“Permainan bowling merupakan salah satu ajang silaturahmi saya untuk saling mengenal dan lebih dekat lagi dengan rekan-rekan wartawan dan jajaran manajemen Carrefour Indonesia. Sebab,  sudah  lama  Carrefour  Indonesia  tidak  melakukan gathering dengan media,” ungkapnya dengan suara ramah.

Di hari Minggu siang itu, acara dikemas dengan sederhana, namun penuh semangat kebersamaan. Shafie mengharapkan, pertemuan  tersebut  mampu  mengoptimalkan  kerja  sama antara manajemen CI dengan wartawan. “Kami berharap rekan-rekan media bisa memberikan informasi yang terbaik kepada masyarakat, dan kami juga bisa mengetahui dan memberikan kebutuhan konsumen,” ujarnya.

Shafie  menduduki  kursi  CEO  CI  sejak  Agustus  2009. Sebelumnya, ia sempat menjabat CEO Carrefour di Singapura dan Malaysia. Ayah tiga anak ini mengungkapkan, tidak mudah mendapatkan posisi puncak di satu perusahaan. Perlu proses yang  panjang,  katanya,  sampai  akhirnya  bisa  meyakinkan Carrefour bahwa dia pantas dan mampu memegang tongkat kepemimpinan. Pasalnya, sejak awal masuk pasar Indonesia pada 1997, Carrefour hanya memercayakan posisi CEO kepada orang Prancis – negara asal hipermarket ini. Dengan demikian, Shafie merupakan orang Asia pertama yang berhasil mencapai posisi tertinggi di jaringan ritel ini.

Dilihat dari silsilah keturunannya, Shafie merupakan warga negara Singapura. Dia lahir dan besar di sana. Akan tetapi, setelah  ditelisik  ternyata  Shafie  memiliki  darah Indonesia yang cukup kuat. Ayahnya, Shamsuddin bin Parmo adalah pria kelahiran  Pati,  Jawa  Tengah.  Sedangkan  Ibunya,  Selaimah, adalah asli orang Singapura. “Jadi, saya tidak ada masalah jika  berkomunikasi  dengan  karyawan  Carrefour  Indonesia, karena saya sedikit mengerti dan bisa bertutur dengan bahasa Indonesia,” ujar Shafie dengan logat Melayu yang kental karena pernah tinggal cukup lama di Malaysia.

Shafie  menceritakan,  kariernya  di  Carrefour  dimulai  dari management trainee selepas kuliah di Nanyang Technological University (NTU) Singapura jurusan Bisnis pada 1996. Hanya dalam waktu enam bulan, ia naik menjadi Asisten  Kepala  Departemen.  Padahal, umumnya  posisi  itu  dicapai  setelah menjalani  masa  management  trainee selama satu tahun. Setelah itu, berbagai posisi penting berhasil dia raih, antara lain  Kepala  Departemen  Senior  dan Manajer Divisi Carrefour Singapura.

Pada  2002,  ia  sempat  ditempatkan  di CI sebagai Manajer Merchandise Bazaar (perlengkapan  rumah  tangga).  Namun, ia ditarik kembali ke Carrefour Singapura dengan  posisi  Manajer  Operasional, sambil  belajar  di  bagian  manajemen strategi, pemasaran, dan pengembangan sumber  daya  manusia  (SDM).  “Saya sangat  tertarik  dengan  pengembangan human  capital di  perusahaan,” ungkapnya antusias.

Dua tahun kemudian, Shafie dipercaya menduduki  posisi  Direktur  Pengelola Carrefour Singapura, sekaligus Direktur Regional  Carrefour  Malaysia  Selatan. Tahun 2006, kariernya naik lagi menjadi CEO Carrefour Malaysia dan Singapura. Dan,  pada  Agustus  2009,  ia  diminta memegang posisi CEO CI. Meski hanya memegang satu negara, Shafie mengakui pasar Indonesia lebih besar – sekalipun Carrefour  Malaysia  dan  Singapura digabung.

Sementara  itu,  Shafie  yakin akan mampu  meningkatkan  kinerja  CI melalui  perubahan  manajemen  dalam program  human  capital  development. Ia  membenarkan,  dahulu  tugas  CEO hanya memikirkan bisnis dan investasi, serta  alat-alat  produksi  saja.  Tetapi saat  ini  CEO  dituntut  untuk  lebih mengoptimalkan SDM. “Maka, ini yang membedakan  perusahaan  sukses  atau tidak,”  ujarnya  menandaskan.  Oleh karena  itu,  Shafie  menilai,  sekurang-kurangnya 50% waktu dan pikiran CEO harus  dicurahkan  dalam  memainkan peranan  untuk  meningkatkan  prestasi karyawan.

“Saat ini saya mengakui belum sampai 50% waktu saya dihabiskan untuk SDM. Masih sekitar 30%. Karena sejak saya di CI,  saya  banyak  menghabiskan  waktu untuk  berhubungan  dengan  pemasok, pemerintah,  dan  NGO.  Masih  bersifat bisnis. Tetapi tahun depan pada semester kedua, saya targetkan 50% waktu saya untuk  human  capital  development,” katanya memberitahu.

Shafie  menjelaskan,  ada  dua  peran utama  yang  harus  dijalankan  CEO dalam  mengembangkan  SDM  di perusahaan.  Pertama,  dia  harus  bisa membagi  pengetahuan  atau  ilmunya kepada seluruh karyawan. Kedua, dia harus  mampu  memainkan  peranan sebagai role model dalam membentuk perilaku yang baik dari karyawan.

“Maka  itu,  saya  harus  mengimbangi antara  peran  memberikan  sciencedan mencontohkan  behavior yang  baik kepada karyawan,” ujarnya menegaskan. Selama ini, ia memandang, banyak CEO kurang memainkan peranan di wilayah emotional  capability untuk membentuk  perilaku yang  baik  pada karyawan. Padahal, kata  Shafie, peranan  itu sangat  penting. “Contohnya, kita  pasti  sudah tahu  bahwa  ilmu untuk  menjadi seorang  pemimpin di  perusahaan  adalah mengikuti  training-training,  tetapi  kalau  tidak dilandasi  dengan  perilaku yang  baik  maka  kita  tidak  akan mendapatkan  pemimpin  yang  baik dan jujur,” ia mencontohkan. Itu berarti, ilmu  harus  diimbangi  dengan  perilaku yang baik pula.

Dalam  upayanya  membentuk  perilaku yang  baik  sehingga  menjadi budaya perusahaan, Shafie membentuk change agent.  Mereka  terdiri  dari  kumpulan talent CI, yang di antaranya dinamakan Top 25, Positive 100, dan Positive 500.

Mereka akan menjadi role model – selain CEO  –  dalam  mengimplementasikan perilaku  yang  baik.  “Awalnya,  kami membentuk kumpulan Top 25 talent CI. Dari mereka, saya mendapatkan solusi mengenai isu-isu yang berkembang di CI. Setiap harinya, saya melakukan meeting dengan mereka selama dua jam,” katanya menjelaskan.

Sementara itu, untuk Positive 100 akan dipertemukan setiap satu bulan sekali. “Di saat itu, kami lakukan sharing knowledge, tetapi tidak hanya mengenai peningkatan omset perusahaan, melainkan juga cara kami  berhubungan  baik  dengan  para pelanggan  dan  mitra pemasok  CI,”  katanya  menambahkan.

Pada pertemuan dengan Positive 100 ini, Shafie akan berbicara sedikitnya 30 menit di akhir acara untuk menanggapi masukan atau  pandangan  dari  100  talent  tersebut. “Sebelum program ini berjalan satu tahun, saya tidak akan memakai orang luar sebagai pembicara. Karena menurut saya, motivasi dan inspirasi itu harus datang dari CEO-nya sendiri,” tuturnya meyakinkan. Shafie pun berharap dengan adanya Positive 500  akan  lebih  mempercepat  penularan perilaku  positif  ke  semua  karyawan  CI.

“Bahkan, saat ini kami belum cukup dengan Positive 500 saja. Kami akan terus berupaya memperoleh change agent sedikitnya 25% dari  total  karyawan  CI  sebanyak  12  ribu orang.  Bersama  Positive  500,  saya  akan selalu  mendatangi  setiap  gerai  CI  untuk mencari  yang  25%  itu,”  urainya.  Change agent ini nantinya bersama CEO bertugas menjelaskan  visi,  misi,  dan  strategi perusahaan, serta menjadi role model bagi seluruh  karyawan  CI.  Shafie  mengakui, proses  implementasinya  akan  memakan waktu  yang  cukup  panjang.  Sementara pembentukan change agent ini baru dimulai pada Desember 2009.

Yang  menarik,  Shafie  berkeinginan mengajak  tiap  dua  talent  CI  untuk menginap di rumahnya selama dua hari, Sabtu  dan  Minggu.  Dua  talent  tersebut diusahakan dari tingkat manajemen dan bawah.  “Saya  ingin  mereka  mengetahui juga tingkah laku saya di rumah, selain di  kantor.  Jadi,  kami  bisa  lebih  dekat dan akan mudah menyamakan persepsi. Sebagai  CEO,  saya  tidak  hanya  ingin sukses  menjadi  role  model di  kantor, tetapi juga harus sukses menjadi contoh di lingkungan rumah,” katanya memberi alasan.  Ia  berharap,  dari  pertemuan itu  bisa  saling  bertukar  pikiran  dan pengalaman antara atasan dan bawahan, juga sebaliknya.

Shafie  tidak  menampik  bahwa  ia mempelajari  role  model dari  lingkungan rumah.  Menurutnya,  isteri  dan  anak-anaknya bisa berperan menjadi “CEO” di rumah  tangga.  “Prinsip  saya,  pemimpin  harus  mau  mendengar  dan  menuruti  perintah  orang  lain,”  ujarnya.  Secara  terus terang, Shafie mengakui, ia banyak  mendapat  inspirasi  dari  sang  isteri.

“Isteri  saya  adalah  perempuan  yang  memiliki hati yang baik, ikhlas, dan suka  memberi  daripada  menerima.  Prinsip  itulah  yang  saya  pelajari  kendati  dia  ibu rumah tangga. Isteri saya memang sangat suka memberi kesempatan belajar kepada orang lain untuk sukses,” katanya  memuji isterinya. Sedangkan  dari  ketiga  anaknya,  Shafie  mempelajari mengenai pikiran dan hati  yang  bersih.  Ia  menjelaskan,  seorang  anak kecil masih memiliki pikiran yang  belum  terkontaminasi  oleh  pengaruh  negatif.

Makanya, mereka memiliki cita- cita atau mimpi yang besar. “Waktu kita  kecil dulu, kita belajar dan mendapatkan  ilmu bisa lebih cepat masuk daripada saat  kita tua,” ujarnya seraya menambahkan,  melalui hati dan pikiran yang bersih kita  akan melihat semua permasalahan secara  lebih terbuka.  Di  akhir  perjumpaan  siang  itu,  Shafie sempat  memberikan  tips  mengenai cara  mengelola  pikiran  dan  hati  yang  bersih melalui diri sendiri.

Yakni, setiap  hari  sebelum  tidur,  ia  selalu  berniat  untuk  memaafkan  segala  kesalahan  orang  lain  yang  dilakukan  kepadanya.  Dan  sebaliknya,  jika  ia  yang  berbuat  salah  kepada  orang  lain,  ia  tidak  akan  melupakan  kesalahan  tersebut  agar  tidak  terulang  lagi.  Selanjutnya,  ia  akan  melupakan  setiap  kebaikan  yang  dilakukan  untuk  orang  lain,  juga  sebaliknya.

“Jadi,  kita  akan  mampu  mengenali  diri  kita  sendiri.  Bagaimana  kita  bisa  melihat  kebaikan  dalam  diri  kita  dan  kita juga mampu mengoptimalkan dan menggunakannya.  Selain  itu,  kita  juga belajar melihat kebaikan atau kekuatan  orang  lain.  Dari  situ,  kita  bisa  belajar  untuk  memberi  lebih  banyak  daripada menerima.  Perilaku  ini  yang  harus  dibudayakan baik di keluarga maupun di  perusahaan,” katanya penuh harap. Anung Prabowo

(Artikel ini pernah dimuat di Majalah HC, Edisi Juni 2010)





Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR