Profil CEO
Mengusung Contact Center Profesional di Indonesia
Wardhani Soedjono
Keahliannya di bidang contact center terbilang unik karena tak banyak dimiliki orang lain di negeri ini. Bagaimana ia merancang unit pelayanan pelanggan yang prima?
Nama Wardhani Soedjono di kalangan contact center sudah dikenal secara luas. Ia telah membidani beberapa unit contact center di perusahaan-perusahaan besar. Keahliannya pun kerap dia bagikan di banyak pelatihan. Kini, ia dipercaya menjadi orang nomor satu di PT VADS Indonesia, perusahaan yang baru merayakan ulang tahun pertamanya pada 1 Desember 2009.
Dani, begitu ia disapa, mempunyai pembawaan yang ramah dan mudah akrab dengan siapa pun. Di kantornya lantai 10 Gedung Menara Prima, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Dani menerima Majalah HC sambil berbicara panjang lebar mengenai contact center. Sehubungan dengan istilah contact center, Dani menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Dia tidak menampik bahwa yang paling dikenal masyarakat adalah call center. Yakni, orang menelpon dari luar ke perusahaan.
Sedangkan untuk arah yang sebaliknya, perusahaan menelpon keluar, biasa disebut telemarketer. Area lain disebut koresponden, yaitu melayani surat-menyurat atau email dari pelanggan. “Ada lagi yang sebenarnya masih banci atau belum banyak orang sependapat, yaitu toko-toko atau gerai-gerai yang melayani pelanggan. Sebenarnya ini juga bagian dari contact center, karena pelanggan datang ke situ untuk bertanya soal harga, melakukan konsultasi atau service product. Dalam hal ini contact center adalah tempat perusahaan berinteraksi dengan pelanggannya. Ke mana biasanya pelanggan menanyakan masalahnya, larinya ke contact center,” kata perempuan kelahiran 12 Maret 1950 ini.
Dani mengaku belajar contact center sewaktu bekerja di IBM. Pada 1990-an ada unit baru yang dikenal dengan nama direct marketing. “Di unit ini banyak aktivitas call center minded mulai dari tele-sales, telemarketing, inbond dan outbond call. Kami tidak hanya melayani pelanggan, tapi call center juga berfungsi untuk membantu penjualan, termasuk memberdayakan recepsionist. Yang menarik bagi saya, di IBM setiap manajer adalah HR Manajer,” ungkap Dani.
Berbekal pengetahuan dari IBM, Dani jadi mengetahui tentang human capital management, terutama managing people. Setelah berkiprah di IBM sekitar 23 tahun, Dani melanjutkan perjalanan kariernya di PT Excelcomindo Pratama Tbk. (kini berubah nama menjadi PT XL Axiata). Selama 8 tahun mengabdi di XL Axiata, mayoritas waktunya ia gunakan untuk membangun layanan pelanggan di perusahaan selular tersebut.
Keahlian spesifiknya di bidang contact center makin diakui setelah ia mendapat sertifikat COPC (Customer Operations Performance Center) sebagai registered coordinators. “Saya mendapatkannya pada 2005, dan hingga saat ini setahu saya di Indonesia baru ada tiga orang. Saya merupakan orang pertama. Sebagai registered coordinators COPC, saya dinyatakan bisa melakukan audit call center di perusahaan, juga sebagai konsultan call center,” ujar istri dari Anton R. Soedjono ini mengakui.
Dani menjelaskan, COPC merupakan standar dunia yang digunakan untuk pengukuran kinerja call center. “Semua perusahaan call center kalau mau maju harus mendapatkan sertifikasi COCP. Inilah standar dunia yang diakui oleh komunitas call center,” ujarnya sembari menambahkan, COPC dikeluarkan oleh perusahaan independen yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Sedangkan untuk Asia Pasifik kantornya berpusat di Singapura. Dani menambahkan, COPC menjadi acuan karena konsep dan metodologinya telah dirancang sedemikian ketat dengan persyaratan efektif dan efisien agar sebuah call center mendukung tujuan perusahaan.
Dani merasakan manfaat yang ia peroleh saat menerapkan konsep dan cara kerja COPC. Ia memberi contoh saat penghitungan orang. “Misalnya, guna menangani jumlah call yang masuk mulanya diperlukan 100 orang. Dengan metodologi COPC saya bisa memangkasnya menjadi 50 orang, tapi tetap bisa jalan. Ini membuat kita terlatih untuk cermat dalam berhitung, di mana kira-kira yang bolong kalau saya pekerjakan sekian orang. Dengan jumlah orang yang lebih sedikit berarti ada penghematan biaya,” tutur ibu dari 4 putra dan 1 putri ini.
Menurut Dani, perusahaan yang sudah menyadari pentingnya unit call center, langkah pertama yang harus ditempuh adalah, merancang rekrutmen yang benar di awal program. “Hal ini sangat penting dan mendasar, karena proses awal sangat menentukan langkah selanjutnya. Di awal harus digembleng untuk mendapatkan SDM yang memiliki jiwa penolong serta ramah,” katanya.
Kalau langkah awal ini dikerjakan asal-asalan, lanjutnya, maka ke belakang akan banyak masalah yang menunggu. “Kalau SDM-nya jelek kita harus melakukan rekrutmen ulang. Ini adalah biaya-biaya yang tidak perlu seandainya kita bisa memproteksi dari awal proses. Kalau rekrutmennya tidak bagus, ke belakang akan banyak sekali ongkos yang harus dibayar,” paparnya.
Menjawab seberapa mahal perusahaan membangun unit call center, Dani menyebut sangat bervariasi. Sebuah perusahaan dikatakan membutuhkan call center jika sudah tidak mampu lagi menjawab pertanyaan pelanggan. Untuk itu perusahaan dituntut untuk menyiapkan pusat informasi. Melalui pusat informasi, imbuh Dani, pertanyaan pelanggan dari mana pun dipusatkan ke satu call center. Jadi, tidak perlu membangun call center di setiap cabang.
Sosok Dani yang peduli pada contact center membekas di hati Randy Desmond, Client Service & Operation Support Manager PT VADS Indonesia. Di mata Randy, Dani merupakan pemimpin yang ideal. Tanpa sungkan Randy menyebutkan, Dani yang mengenalkannya pada dunia yang ia geluti saat ini. Ia mengaku mengenal Dani saat merintis bagian customer service (CS) di XL. Saat itu Dani sebagai GM Service XL. “Saya merasa mendapat orang yang tepat saat memasuki dunia kerja. Meskipun bagian CS banyak yang meremehkan, tapi saya mendapat nilai-nilai pelayanan yang prima. Orang di divisi lain boleh bete karena yang dihadapi paling hanya komputer, tapi untuk bagian CS istilah bete tidak berlaku karena kami menghadapi orang lain yang membutuhkan pelayanan,” ujar Randy menjelaskan.
Di mata Randy, Dani adalah pemimpin yang memiliki gaya keibuan. “Meskipun seperti ibu, bila pekerjaan ada yang tidak beres beliau akan marah. Malah ada yang bilang sosoknya ditakuti. Tapi buat saya, beliau adalah sosok yang pantas disegani. Marahnya mendidik dan membuat kami belajar dari kesalahan,” ujar alumni Manajemen Penerbangan dari Universitas Trisakti ini.
Hal lain yang masih melekat bagi Randy adalah layanan sepenuh hati. “Kalau memberikan layanan jangan setengah-setengah dan sertakanlah hati. Tidak ada istilah asal selesai. Yang ada adalah selesai dan berkualitas, sehingga semua pekerjaan benar-benar sempurna dan menempatkan orang lain sebagai prioritas,” paparnya.
Randy juga merasa beruntung karena dia merupakan orang kedua di Indonesia yang bisa meraih sertifikasi COPC individu. “Buat saya sertifikasi ini adalah amanah saya kepada Bu Dani. Beliaulah yang membimbing saya hingga mendapatkan gelar ini,” ungkapnya. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, Randy mengaku harus bekerja ekstra keras dan sempat masuk rumah sakit karena kelelahan. Selama 4 hari ia digembleng dalam training di Singapura dengan tumpukan materi yang menggambarkan praktik layanan kepada pelanggan. “Pada hari kelima saya ikut ujian dan bersyukur saya bisa lulus dengan baik,” katanya.
Kini Randy mendapat amanah baru, mengawal PT VADS Indonesia memperoleh sertifikasi COPC secara organisasi. Kalau terealisir, VADS akan tercatat sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang COPC-nya diakui sesuai standar internasional. (Rudi Kuswanto)
Artikel ini pernah dimuat di Majalah HC, Februari 2010
Tinggalkan Balasan
Komentar Terkini
- ada free trialnya tidak?... oleh Adhi Pradono H
- bagaimana jika di suatu surat perjanjian kontrak pihak pertama ( HR ) tidak menanda tangani nya , tp... oleh rio
- cantik itu relatif...jelek itu mutlak... oleh Adhi Pradono H
- dengan hormat, saya mau melaporkan gaji saya tahun 2013 belum ada kenaikan dari perusahaan global s... oleh yonathan.
- Indonesia ga akan bisa maju! Sedikit-sedikit libur. Dengan meliburkan hari Buruh, menandakan pemerin... oleh Agus
Gudang Data
Event HR
-
Kamis, 30 Mei 2013
Mengurai Polemik Outsourcing (BALI)
Sponsored Links
-
LokerDirektori.com
Submit lowongan kerja di sini
