Beri Daku Sumba

Posted on March 20th, 2012

KISAH di Waingapu, Sumba dalam posting terdahulu masih berlanjut, karena saya ditugaskan untuk mengajar di sebuah SMP di Waitabula, Sumba Barat. Dalam agenda pariwisata, kita bisa menemukan Festival Pasola di Sumba Barat, demonstrasi ketangkasan berkuda, seperti yang terlihat pada foto di bawah ini.

Kejutan di sekolah

Begitu memulai tugas di sekolah, yang menarik perhatian saya adalah baik di SD, SMP, maupun SMA di seluruh Sumba, semua muridnya hafal betul sebuah puisi karangan Taufik Ismail, berjudul Beri Daku Sumba. Di setiap acara sekolah, siapa saja murid yang diminta untuk membawakan puisi ini, hampir pasti mereka yang ditunjuk spontan bisa membawakannya, hafal luar kepala.

Gejala apa gerangan?

Menyimak isi puisi tersebut, ada tersirat kebanggan para murid akan pulau kesayangannya, apalagi ini dilukiskan oleh seorang penyair terkenal, Taufik Ismail. Sampai disini, saya hanya larut bersama orang Sumba menghafal, menghayati dan menikmati isi puisi tersebut.

Namun siapa yang menyangka kalau begitu saya bekerja di Unilever, sebagai HR Manager Head Office, saya mempunyai ruang kerja bersebelahan dengan Pak Taufik Ismail.

Rasa ingin-tahuku mendorong saya untuk segera menemui beliau dan menanyakan beberapa hal; “Bagaimana dia bisa melukiskan Sumba sesuai kenyataan seperti itu?” atau, “Berapa kali dia telah mengunjungi Sumba?”

Ternyata sebelum puisi itu dibuat tahun 1970, belum sekali pun dia mengunjungi Sumba. Cerita tentang Sumba dia peroleh dari sahabatnya, seorang penyair asal Sumba bernama Umbu Landu Paranggi. Cerita itu begitu melekatnya, sampai rindunya pada Sumba dituangkan dalam berbagai rencana berkunjung, namun selalu gagal.

Moment yang tidak diduga

Suatu saat, dan ini sungguh luar biasa, Pak Taufik Ismail diundang untuk mengikuti sebuah acara sastra di Moskow. Dalam perjalanan ke sana, mereka singga di Uzbekistan, yang terkenal dengan domba Merino, yang bulunya digunakan untuk wool.
Melihat domba sebesar anak sapi, yang berkeliaran di alam bebas, Pak Taufik langsung teringat akan cerita Umbu tentang suasana seperti itu di pulau Sumba. Itulah saatnya dia menulis puisi tersebut. Agar pembaca juga bisa memahami situasi hati Pak Taufik di Uzbekistan sana, atas izin beliau saya cantumkan puisi tersebut disini:

BERI DAKU SUMBA
Oleh Taufik Ismail

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Dimana Matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdiri di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku tanah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Dimana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

1970

Saya sendiri hanya tinggal setahun disana, tapi begitu mendengar murid-murid membacakan puisi ini, saya merasa bangga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ini. Apalagi saudara-saudaraku dari Pulau Sumba, selain bangga akan alam yang digambarkan dalam puisi tersebut, tetapi bahwa alam Sumba tersebut bisa menarik perhatian seorang penyair terkenal seperti Taufik Ismail, dan dituangkan dalam sebuah puisi yang terus dikenang berbagai generasi di pulau Sumba.

Terima kasih bisa mengenal dari dekat Pak Taufik Ismail, menjadi rekan kerja, menjadi sahabat berbagi cerita seputar puisi yang dibuatnya, tapi juga paling tidak dua kali di perusahaan kami, tim HR bisa menyelenggarakan acara membaca puisi bersama pak Taufik Ismail…(*)

Baca cerita sebelumnya:
ORGAN Tua di Tanah Sumba. Klik di sini.

Bookmark and Share

12 Responses to Beri Daku Sumba

  1. erlina says:

    Keinginan hati yg kuat untuk datang ke Sumba dapat membuat Taufik Ismail membayangkan sumba sedemikian nyata…very passionated… Demikian juga jika kita mengharapkan sesuatu perlu berani memvisualisasikannya :)

    • josef josef says:

      Mulai dg visualisasi, dengan mimpi dan mulailah dengan langkah nyata, maka all the universe will conspire to help you to achieve it. Terima kasih Erlina

  2. Lukman Nul' Hakim says:

    Benar sekali,

    “What you can conceive, you can achieve”

    Napoleon Hill

  3. Imelda says:

    Sumba kukenal lewat gambar kuda2nya yang atletis Dan kerajinan tenunnya. Kisah Sumba juga diulas oleh harian Kompas. Rinduku untuk ketemu Sumba makin bertambah setelah mendengar kisah Sumba dari romo Efrem Zuba, CSsR. Suatu hari aku Akan menemuimu Sumba,

    • josef josef says:

      Dengan perkembangan dewasa ini, akses ke Sumba semakin muda. Bahkan turis mancanegara terpikat dengan keunikan Sumba. Semoga hasrat mengunjunginya segera terpenuhi. Terima kasih Imelda telah mengunjungi blog ini, dan ikuti kisah2 selanjutnya yang akan hadir tiap selasa dan jumat pagi. Salam

  4. Valens says:

    Membaca puisi ini, sangat menyentuh dan membuka kembali kenangan masa kecil sebagai pengembala ternak di pedalaman.

    • josef josef says:

      Hi Valens, semua kita mempunyai sejuta kenangan selama perjalanan hidup ini. Sering kita berbagi kalau kumpul dengan teman2 atau keluarga, ada yang merekam dalam catatan harian untuk sesekali dibaca kembali. Ada yang membiarkan dalam memorinya, yang kita sebut dengan “Tacit kowledge”. Kalau ada dua orang dengan pengalaman 20 tahun bertemu, maka mereka punya kesempatan memadu 40 tahun pengetahuan dan pengalaman untuk pembelajaran orang lain. Terima kasih Valens telah mengunjungi blog ini, semoga posting lainnya bisa menggugah memori Valens untuk berbagi cerita dengan para sahabat. Salam

  5. Mike Keraf says:

    May all beings know happiness, and the root of happiness …
    May all be free from sorrow, and the cause of sorrow …
    May all never be separated from the happiness which is sorrowless …
    And may all live in harmony, without too much attachment or too much aversion …
    And live believing in the equality of all that lives (–> My Compassion Poem)

  6. Antonius says:

    Saya blm pernah melihat Sumba. Tapi saya seperti sudah pernah melihatnya ribuan kali dengan membaca puisi itu. Sederhana dan pendek namun sudah mampu bercerita lebih dari apa yang tertulis…OMG.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ami, saya akan email kontaknya. Salam

ami amalia:
malam pak. buah pikir dan sharing dari bapak sangat menarik dan berguna sekali bagi kami penggiat HR....

josef:
Terima kasih Eriman, tentu saja kami akan senang berbagi. Saya akan kontak emailmu untuk komunikasi lebih...

eriman:
Inspiratif banget Pa Jos, pak bisa share langsung ke tim kami kah? biar kami datang ketemu bapak atau tim...

josef:
Terima kasih Dini Juniarti, terus belajar dan berbagi


Recent Post

  • Tegas Tapi Berhati Lembut
  • Hasrat untuk Belajar
  • Masih Adakah Loyalitas Karyawan?
  • Bersihkan Hati Bangun Semangat Baru
  • Budaya Antri
  • Memilih Gaji Besar atau Karier Bagus?
  • Berkat Melalui Tangan Seorang Adik
  • Leluasa Berekspresi
  • Terus Bertanya: Who Am I?
  • Respek dan Mengaku Salah (Refleksi 2)