Mengikat Karyawan Dimulai dari Keselarasan Nilai | PortalHR.com

PortalHR

IDSL

Berita

Mengikat Karyawan Dimulai dari Keselarasan Nilai

Senin, 9 April 2007 - 11:07 WIB

Banyak karyawan melakukan pekerjaan mereka dengan pergulatan batin mengenai bagaimana mereka harus menghadapi konflik antara nilai-nilai yang ditekankan oleh manajer di tempat kerja dengan harapan pribadi hidup mereka sendiri.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga pengembangan kepemimpinan CO2 Partners di Minnesota, AS menemukan satu dari 3 pekerja melaporkan bahwa nilai-nilai dari atasan mereka tidak selalu selaras dengan nilai-nilai mereka sendiri.

Ketegangan etis tersebut cenderung menjadi faktor kunci di balik disengagement yang ditemukan di banyak perusahaan, demikian simpul Presiden CO2 Partners Gary Cohen.

“Manajemen sering tampak berharap karyawan mengabaikan nilai-nilai personal mereka,” ujar dia.

Dari 615 karyawan yang diteliti, hanya 44 persen yang merasa nilai-nilai pribadi mereka selaras dengan nilai-nilai (yang diinginkan oleh) pimpinan mereka.

Selebihnya, sepertiga merasa tidak selalu selaras dan lebih dari sepersepuluh mengaku bingung. Dengan persentase yang hampir ada juga yang merasa nilai-nilai mereka tidak banyak mempengaruhi pekerjaan mereka.

“Ini mencemaskan, bahwa para pemimpin tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk menyelaraskan nilai-nilai karyawan dengan yang diinginkan organisasi,” ujar Cohen.

“Ketika nilai-nilai karyawan bertentangan dengan nilai-nilai yang dipraktikkan organisasi, hasilnya adalah ‘penghindaran pekerjaan’ –pasif, tidak produktif dan sabotase diam-diam atas proyek-proyek dan ide-ide,” tambah dia.

Produktivitas dan Keterikatan

Cohen juga menekankan, ketidakselarasan nilai-nilai berpengaruh kuat terhadap produktivitas perusahaan dan keterikatan karyawan.

“Jika organisasi ingin mengembangkan talent dan komitmen, harus ada mutualitas dalam berkomunikasi dan menjalankan prinsip-prisip. Jika tidak, keterikatan karyawan akan sulit didapatkan,” saran Cohen.

Menurut dia, temuan survei yang dilakukan lembaganya mencerminkan adanya ketidakberesan yang tidak terungkap dalam etika di tempat kerja.

“Karyawan mendengarkan pernyataan-pernyataan etis dari manajemen, tapi mungkin tidak melihat tindakan nyatanya. Misalnya, top management biasanya mengaku commit terhadap standar high performance, tapi tidak ada aksi ketika ada manajer yang gagal memenuhi standar itu.”

Cohen menambahkan, memang ada sikap etis tertentu yang secara umum diakui, misalnya loyalitas. Tapi, pada dasarnya karyawan menerima praktik manajemen sesuai perangkat aturan milik mereka sendiri.





Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Silakan klik Topik Berita di bawah ini

ASAP Conference ASTD benefit BPJS CEO Engagement gaji Generasi Y gen y Good Morning Partner Google HR HRD job description kalender event HR karier karir Karyawan kenaikan gaji kepemimpinan ketenagakerjaan knowledge management leadership Linkedin manajemen outsourcing Paulus Bambang WS pengembangan PHK PKWT produktivitas rekrutmen SDM seputar HR serikat pekerja Singapore Human Capital Summit social media social media & HR talent talent management teknologi THR tips training wirausaha

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR

idsl