PortalHR

Berita

Hari Buruh Internasional di Jakarta: Hapus Sistem Kontrak dan Outsourcing

Selasa, 1 Mei 2007 - 2:08 WIB

Sardi, 32 tahun, pengemudi taksi Express, Selasa (1/5/07) merasakan sesuatu yang tak biasa ketika melenggang di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat menjelang jam makan siang. Jalan itu sepi. Namun, di satu titik, di seputaran air mancur Bundaran HI, tepatnya yang menghadap ke mulut Jalan Imam Bonjol, tampak kerumunan massa dengan bendera-bendera, orang berpidato dengan pengeras suara di atas mobil bak terbuka dan teriakan-teriakan. Sejak pagi, Sardi sudah tahu apa yang sedang terjadi.

“Tadi di depan Komdak ada seratus bis. Di depan Depnaker juga ramai sekali,” ujar dia seolah memberi laporan pandangan mata. Radio panggil di dalam taksi juga melaporkan perkembangan arus demo buruh di Hari Buruh Internasional yang jatuh pada hari ini. Ratusan orang bergerak menuju gedung DPR dan memacetkan jalan Gatot Subroto. Ketika taksi melintas Dukuh Atas, Sardi melihat di seberang kanan jalan, iring-iringan buruh sedang mengatur barisan. Terlihat seekor tikus raksasa hitam di tengah massa yang siap bergabung dengan massa lainnya.

Peringatan Hari Buruh Internasional di Jakarta telah menjadi festival yang dirayakan dari tahun ke tahun. Tahun ini, bahkan tampak kelompok marginal seksual waria, gay dan lesbian ikut turun ke jalan dengan mengusung tuntutan pengakuan atas keberadaan mereka sebagai SDM yang tersingkirkan. “Sumber daya waria oke juga lho” terbaca dari spanduk yang mereka bentangkan ketika bergerak ke Istana Merdeka, untuk bergabung dengan masa buruh lainnya. Mereka terlihat atraktif lewat penampilan yang unik dan mencolok.

Meskipun, seperti tahun-tahun sebelumnya sejak menjabat, Presiden Susilo Bambang Yodhoyono sedang berada di luar Jakarta, namun Istana Merdeka tetap menjadi pusat demo buruh memperingari Hari Buruh Internasional 2007 ini. Salah satu tuntutan yang paling banyak digemakan adalah penghapusan sistem kontrak kerja dan outsourcing.

Begitu pun yang terdengar dari berbagai pelosok daerah di Tanah Air, demo buruh masih menyerukan tuntutan normatif seputar UMR yang layak dan penghapusan PHK. Selain itu, buruh juga menuntut agar Jamsostek bisa dikelola oleh pihak buruh sendiri.

Meskipun tetap diikuti oleh gabungan serikat pekerja dari berbagai perusahaan di Jakarta dan kota-kota sekitar, peringatan Hari Buruh di Jakarta kali ini diperkirakan tidak akan sebesar tahun lalu. Kendati demikian, hal itu tidak mengurangi makna dan kegairahan kaum buruh merayakan hari yang juga dikenal dengan sebutan May Day itu.

Di Indonesia tradisi memperingati May Day pada 1 Mei sudah muncul sejak 1920. Namun, sejak masa pemerintahan Orde Baru, Hari Buruh tidak diperingati lagi dan bahkan ditabukan. Peringatan Hari Buruh marak kembali sejak Reformasi bergulir, tepatnya pada 1999. Hingga tahun lalu, aksi pengerahan massa buruh besar-besaran setiap 1 Mei tidak pernah menimbulkan kerusuhan, seperti yang selalu dikhawatirkan.





Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Silakan klik Topik Berita di bawah ini

ASAP Conference ASTD benefit CEO Engagement gaji Generasi Y gen y Good Morning Partner Google HR HRD job description kalender event HR karier karir Karyawan kenaikan gaji kepemimpinan ketenagakerjaan knowledge management leadership Linkedin manajemen outsourcing Paulus Bambang WS pengembangan PHK PKWT PLN produktivitas rekrutmen SDM seputar HR serikat pekerja singapore Singapore Human Capital Summit social media social media & HR talent talent management THR tips training wirausaha

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR