PortalHR

HRIS Expo & Conference

Berita

2030, Indonesia Alami Ledakan Lansia?

Selasa, 3 Januari 2012 - 6:43 WIB

MENYAMBUT kehadiran para pendatang baru di dunia kerja, khususnya para Gen-Y, sama pentingnya dengan memberikan perhatian lebih kepada para karyawan yang akan memasuki masa pensiun. Karyawan-karyawan ini sudah teruji dan membuktikan dirinya telah memberikan kontribusi kepada perusahaan.

Rambu-rambu bahwa Indonesia akan mengalami era lanjut usia pada 2030, dikemukakan oleh  Evi Nurvidya Arifin, peneliti dari Institute of Southeast Asian Studies Singapore dalam sebuah diskusi Migration and Violence in Indonesia di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, belum lama ini. Menurutnya seperti ditulis antaranews.com, Indonesia akan memasuki era tersebut, karena saat ini penduduk yang berusia kerja atau usia produktif berjumlah 151 juta jiwa.

“Dengan penduduk usia kerja atau produktif sebanyak itu bisa dibayangkan berapa jumlah lanjut usia di Indonesia sebentar lagi. Kategori lanjut usia merupakan usia yang sudah tidak produktif,” katanya sambil menyebutkan kondisi ini tidak menguntungkan karena semakin tua seseorang akan semakin tinggi kebutuhan hidupnya, termasuk hal ekonomi, ditambah usia mereka ini rentan dan sering sakit-sakitan.

Evi mengingatkan, populasi para lansia harus diperhatikan pemerintah dalam mengambil kebijakan demi kesejahteraan penduduk Indonesia. “Angka harapan hidup di Indonesia semakin tinggi. Orang Indonesia bisa hidup sampai usia 80 tahun, namun di sisi lain masa pensiun pegawai hanya 55-60 tahun. Ini harus menjadi bahan evaluasi bagi kebijakan pemerintah” tambahnya.

Evi menilai masa pensiun diberikan mestinya ditentukan berdasarkan produktivitas kerja, bukan berdasarkan usia yang disebutnya malah menambah beban masyarakat. “Selama ini masyarakat menganggap lanjut usia sebagai beban, padahal seharusnya lanjut usia juga dapat menjadi produktif bagi negara,” tukasnya.

Sementara itu, Aris Ananta seorang ekonom, memberikan pandangannya bahwa di negara yang sudah maju, para lansia telah diperhatikan oleh pemerintah. Di Belanda misalnya, terdapat sistem pensiun yang sangat bagus untuk para lansia. “Uang diambil dari pajak yang dibayarkan oleh mereka yang masih bekerja,mereka yang masih muda. Ketika jumlah penduduk lansia belum banyak sistem ini dapat berlangsung lancar,” imbuhnya.

Ananta mengingatkan, ketika jumlahnya semakin banyak dan hidupnya makin lama, artinya jumlah pensiunan juga meningkat cepat. Pemerintah kesulitan mendapat uang untuk membiayai para lansia ini. Kesulitan dalam anggaran pemerintah ini telah dialami banyak negara, seperti negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Hal ini menyebabkan defisit anggaran pemerintah.

Sementara negara yang belum maju, seperti Indonesia, belum mempunyai sistem pensiun yang intensif seperti di negara maju. Para lansia di Indonesia harus membiayai hidup mereka sendiri. Hal ini “menguntungkan” pemerintah karena tidak menyebabkan ancaman yang serius akibat defisit anggaran gara-gara peledakan jumlah penduduk lansia. Sehingga bisa jadi, bagi negara seperti Indonesia, peledakan jumlah penduduk lansia tidak akan menjadi ancaman serius terhadap anggaran pemerintah.

Namun begitu, apakah negara berkembang seperti Indonesia dapat tetap “lepas tangan” pada kesejahteraan penduduk lansia yang juga akan segera meledak? Ananta yang memperkirakan penduduk lansia Indonesia akan meledak sesudah 2020 atau 2025, tetap harus diwaspadai. Menurutnya, sebagai negara demokrasi, lepas tangannya pemerintah pada kesejahteraan para penduduk lansia akan dibayar dengan biaya politik yang mahal.

Buat para praktisi HR sendiri, isu lansia ini bisa terkait dengan program compensation and benefit. Karyawan yang sudah memasuki masa persiapan pensiun (MPP) harus ditangani secara lebih serius lagi, bukan asal menggugurkan kewajiban saja.  Memberikan program yang tepat guna, memberdayakan skills dan ketrampilan rasanya akan lebih bermanfaat dari hanya sekadar memberikan mentahnya saja. (rudi@portalhr.com/@erkoes)

 





Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Connect with Facebook

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Silakan klik Topik Berita di bawah ini

ASAP Conference ASTD benefit BPJS CEO Engagement gaji Generasi Y gen y Good Morning Partner Google HR HRD job description kalender event HR karier karir Karyawan kenaikan gaji kepemimpinan ketenagakerjaan knowledge management leadership Linkedin manajemen outsourcing Paulus Bambang WS pengembangan PHK PKWT produktivitas rekrutmen SDM seputar HR serikat pekerja Singapore Human Capital Summit social media social media & HR talent talent management teknologi THR tips training wirausaha

Komentar Terkini

Gudang Data

Event HR